Rabu, 06 Januari 2010

CHUSNUL CAHYADI Lakukan Perenungan Setahun, Gores kanvas Cukup Sejam

RUMAH di Jl. Usman Sadar terlihat begitu sesak aneka lukisan. Jumlahnya mungkin
ratusan. Saking banyaknya, sehingga pelukis lulusan IKIP Surabaya ini harus
menumpuk-numpuk hasil karyanya. Beberapa hasil karyanya sempat dikrikiti tikus
sehingga terpaksa dibakar.



Kini, yang terpajang di lantai satu dalam rumah sekaligus galeri lukisan hanya
hasil karya terbarunya. Ada beberapa lukisan yang cukup mencolok. Diantaranya,
sebuah pigura berukuran 100 X 120 sentimeter yang berisi lukisan sosok ibu sedang
mengendong anaknya.
Lukisan ini diberinama "Kasih Ibu". Juga dijumpai, lukisan seorang pria sedang
menari tanpa mengenakan baju. Pria berambut gondrong dalam bingkai lukisan itu
hanya diberi warna hitan dan putih. Goresan tangan pelukis beraliran ekspresif
surealisme ini diberit titel "Tarian Hitam Putih".
Kesan sangat kontras begitu terasa ketika awal memasuk rumah Kris yang dingin
karena berdinding tembok setinggi 7 meter dan beratap triplek itu.
Kasih Ibu, hasil renungan selama setahun lebih. Lukisan itu, terang Ketua Bidang
Pendidikan dan Pengembangan Dewan Kesenian Gresik (DKG) ini, mencoba menggambarkan
perjuangan seorang ibu melindungi anaknya dari amuk gelombang tsunami. Meski
akhirnya keduanya harus meninggal secara berdekapan. Makna dan proses kontemplasi
yang menyertai proses penciptaan sebuah karya. "Saya bisa melukis dalam waktu satu
jam. Tapi kontemplasinya bisa setahun,"terangnya.
"Dan setiap saya melukis, pasti berisi kritik sosial masyarakat di sekitar saya,"
tambah pria yang juga guru kesenian di SMA Nahdlatul Ulama 1 Gresik ini. Bagi,
Kris Adji, dunia seni rupa di Gresik tidak ramah, karena tidak ada galeri atau
gedung kesenian. Sebab, kepedulian pemerintah terhadap kesenian minim. Sehingga,
banyak pelukis di Kota Industri Gresik berjuang sendiri.
Sejak 1980 mulai berkarya. Berbagai pameran baik secara bersama-sama atau tunggal
di pelbagai gedung kesenian di Surabaya, Jakarta, Jogjakarta maupun seputar Jawa Timur pun telah
dirambahnya. Kali pertama dia pameran tunggal di Gresik pada 1986, kemudian 1988 dan
rencananya, pada November nanti kembali mengelar pameran kali ketiga di gedung
Dewan Kesenian Surabaya (DKS).
"Mungkin ada 20 lukisan yang akan saya bawa. Karena memang kapasitas DKS hanya
segitu,"ujar pelukis yang menolak menggelar lukisan di mal-mal maupun plasa ini.
"Lukisan saya nanti semuanya beraliran ekspresif surealisme,"katanya. Aliran ini
muncul seiring bertambah usia dan kondisi sosial masyarakat Indonesia saat ini.
Rentang waktu 26 tahun, telah mengubah dia berganti menganut aliran melukis,
seperti abstrak dan surialisme. Sebab, melukis bagi guru SMA NU Gresik ini,
merupakah sebuah ibadah untuk mengkritik semua kebobrokan kemanusiaan yang kini
menggejala di bumi Indonesia.
Tak heran jika dalam setiap karya di atas kanvas terinspirasi oleh lingkungannya.
Ia menconntohkan karya Tarian Jiwa yang mennggambarkan orang kecil (wong cilik)
yang berusaha menikmati hidupnya di tengah keterpurukan. "Bagi rakyat kecil,
penderitaan dan kebahagiaan itu kan sangat tipis pembatasnya. Kadang sama saja,"
tutur lulusan IKIP Surabaya jurusan seni rupa ini.
Beberapa lukisannya yang menggambarkan kehidupan masyarakat bawah adalah, Tarian
Hitam Putih, Suara Merekapun Sama, Kasih Ibu dan beberapa lainnya. Pandangannya
tentang melukis adalah beribadah itulah yang menjadikan setiap lukisannya
mempunyai makna kritik sosial. Ia tidak mempedulikan orang lain akan mendengarkan
"jeritannya" melalui karyanya atau tidak. Karena ia berharap nilai-nilai
kebersamaan dan memegang prinsip seperti seperti yang ditunjukkan saat anak-anak
bermain bisa ditularkan kepada yang dewasa. "Saya berpikir yang penting saya
peduli pada mereka," lanjut dia.
17 Mei 2006
 Chusnul Cahyadi, lahir di Gresik, 11 September 1970. memulai karir di Jateng Pos (1989), Radar Solo (Grup Jawa Pos) tahun 1990-2003 dan sekarang bertugas di Jawa Pos sejak tahun 2004-sekarang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Anda Mencari Apa ?