[JAWA POS Senin, 26 Juli 2010 ]
Dunia pendidikan Gresik kembali menorehkan prestasi membanggakan. Salah seorang pendidik, Kris Aji, menjadi nomine pemenang lomba nasional Art Award for Teacher yang diadakan Kementerian Pendidikan Nasional. Kris akan bersaing dengan 93 unggulan dari daerah lain.
Tampilkan postingan dengan label ART NEWS. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ART NEWS. Tampilkan semua postingan
Senin, 26 Juli 2010
Rabu, 14 Juli 2010
Indonesial Art Award For Teacher II: Hanya Kris Adji AW yang dari Gresik
Dalam event Indonesian Art Award For Teacher II FESTIVAL SENI INTERNASIONAL 2010 telah diumumkan oleh PPPPTK Sleman Yogyakarta, untuk seleksi tahap I hanya terpilih 94 Guru Seni Budaya dari seluruh Indonesia ( 2 tahun yang lalu 100 peserta) dan yang dari Gresik yang terpilih hanya Kris Adji AW guru SMA NU-1 Gresik.
Selasa, 16 Maret 2010
BLOG KRIS ADJI AW GALLERY PERINGKAT 7 SE INDONESIA
Syukur Alhamdulillah dan terima kasih pada sahabat pengunjung blog Kris Adji AW Gallery dan Kampoeng Gallery yang berdasarkan PERINGKAT DAN DIREKTORI SITUS INDONESIA yang dirilis oleh www.indostat.com sampai dengan tanggal 16 Maret 2010, blog Kris Adji AW Gallery berada di peringkat 7 dan Kampoeng Gallery peringkat 14. Anda bisa melihat laporannya DI SINI ( http://www.indostats.com/peringkat/seni-dan-budaya )
Kamis, 14 Januari 2010
Seni Sebagai Duta untuk Melongok Ke Dalam Islam
oleh Alan Riding
08 September 2006
Cetak
Email
London – Bukanlah sebuah kebetulan yang menggembirakan bahwa galeri seni Islam di Museum Victoria dan Albert yang baru diperbaharui dengan indah harus dibuka bulan lalu bertepatan dengan saat Timur Tengah sekali lagi terbakar.
Biar bagaimanapun, salah satu tujuan galeri tersebut adalah untuk mempertunjukkan kepada para pengunjung yang sebagian besar orang Barat suatu gambaran yang berbeda dari dunia Islam, gambaran yang begitu hidup tentang kecanggihan cita rasa keindahannya yang begitu berbeda dengan gambaran umum keradikalan yang sering ditampilkan dalam halaman muka berbagai harian.
08 September 2006
Cetak
London – Bukanlah sebuah kebetulan yang menggembirakan bahwa galeri seni Islam di Museum Victoria dan Albert yang baru diperbaharui dengan indah harus dibuka bulan lalu bertepatan dengan saat Timur Tengah sekali lagi terbakar.
Biar bagaimanapun, salah satu tujuan galeri tersebut adalah untuk mempertunjukkan kepada para pengunjung yang sebagian besar orang Barat suatu gambaran yang berbeda dari dunia Islam, gambaran yang begitu hidup tentang kecanggihan cita rasa keindahannya yang begitu berbeda dengan gambaran umum keradikalan yang sering ditampilkan dalam halaman muka berbagai harian.
SENI ISLAM DI NEGERI KOMUNIS (CINA)
Oleh Mohammad Monib
KUNJUNGAN saya ke China, tepatnya di kota Guangzho. tahun lalu, masih menyisakan beberapa cerita yang belum seluruhnya tuntas penulis kisahkan. Salah satunya adalah eksisnya kaligrafi Islam yang cukup memperoleh perhatian masyarakat komunis China. Tentu penikmat dan kolektor utamanya adalah masyarakat muslim China. Bahkan, belakangan ini I masyarakat dan peminat seni Islam dunia berlomba-lomba mengoleksinya.
Adalah Noordeen (baca.Nurdin) atau lebih akrab disapa dengan sebutan Haji Noordeen ini terlahir dengan nama Mi Guang-jiang. Ia seorang tokoh seni kaligrafi Islam bergaya, kultur Tionghoa, la lahir 46 tahun silam di provinsi Shandong China. Noordeen telah mendedikasikan dirinya pada dunia seni Islam dan China. Dari jiwa seninya, lahir seni akulturasi seni dan out put-nya sangat memukau dunia kaligrafi internasional.
KUNJUNGAN saya ke China, tepatnya di kota Guangzho. tahun lalu, masih menyisakan beberapa cerita yang belum seluruhnya tuntas penulis kisahkan. Salah satunya adalah eksisnya kaligrafi Islam yang cukup memperoleh perhatian masyarakat komunis China. Tentu penikmat dan kolektor utamanya adalah masyarakat muslim China. Bahkan, belakangan ini I masyarakat dan peminat seni Islam dunia berlomba-lomba mengoleksinya.
Adalah Noordeen (baca.Nurdin) atau lebih akrab disapa dengan sebutan Haji Noordeen ini terlahir dengan nama Mi Guang-jiang. Ia seorang tokoh seni kaligrafi Islam bergaya, kultur Tionghoa, la lahir 46 tahun silam di provinsi Shandong China. Noordeen telah mendedikasikan dirinya pada dunia seni Islam dan China. Dari jiwa seninya, lahir seni akulturasi seni dan out put-nya sangat memukau dunia kaligrafi internasional.
PENDIDIKAN SENI (RUPA) VS PASAR
Hari-hari belakangan ini dunia pasar seni rupa (lukis) sibuk membincangkan seni rupa (lukis) kontemporer China. Bukan hanya mutu karyanya yang dibincangkan, tetapi yang lebih seru karya-karya itu diperebutkan oleh para pemain di medan pasar. Para pemain itu terdiri dari para kolektor, art dealer, broker, dan sebagainya. Medan perebutan itu terjadi di sejumlah galeri dan lelang. Pendeknya, kini terjadi booming seni lukis China.
Booming itu membuat mata dan telinga para pemain di medan pasar terus mendeteksi apa yang terjadi hari ini dan kemudian. Mereka terus memerhatikan perkembangan kecenderungan karya yang diburu dan kecenderungan kisaran harga yang terus-menerus memperlihatkan perubahan. Bahkan, perubahan itu ada banyak yang mengejutkan, melompat puluhan kali dari estimasi harga semula.
Maka, tidak aneh, kalau sekarang nama-nama sejumlah pelukis kontemporer China semacam Fang Lijun, Yue Minjun, Yang Shiaobin, Zhang Xiaogang, Wang Guangyi menjadi menu utama obrolan para pemain di medan pasar.
Booming itu membuat mata dan telinga para pemain di medan pasar terus mendeteksi apa yang terjadi hari ini dan kemudian. Mereka terus memerhatikan perkembangan kecenderungan karya yang diburu dan kecenderungan kisaran harga yang terus-menerus memperlihatkan perubahan. Bahkan, perubahan itu ada banyak yang mengejutkan, melompat puluhan kali dari estimasi harga semula.
Maka, tidak aneh, kalau sekarang nama-nama sejumlah pelukis kontemporer China semacam Fang Lijun, Yue Minjun, Yang Shiaobin, Zhang Xiaogang, Wang Guangyi menjadi menu utama obrolan para pemain di medan pasar.
STUCKISME: Gerakan Kesenian di Inggris
Stuckisme
billy-childish400-truth-lies-and-audiotape.jpg
Stuckisme (stuckism) merupakan sebuah gerakan kesenian yang terjadi di Inggris dimulai pada tahun 1999 dengan tokoh pendirinya Billy Childish dan Charles Tompson yang tergabung dalam kelompok stuckist pertama dengan anggota 13 orang. Gerakan seni ini muncul sebagai reaksi dari dominasi wacana estetika dan pasar seni dari eksponen-eksponen Young British Artists (YBA). Dominasi mereka yang begitu besar di Inggris juga didukung oleh monopoli pasar oleh dealer seni Charles Saacthi, yang ditandai oleh tersingkirnya para seniman lain yang berada diluar form mereka.
Gerakan ini selain mempertentangkan persoalan dominasi YBA, monopoli Saacthi, juga menentang ideologi seni postmo dan conceptual art yang dianggap sudah terlalu establish di Inggris. Selain itu mereka juga menyoroti permainan-permainan kotor para kurator, serta skandal di Tate Britain. Aksi mereka banyak mandapat sorotan publik terutama ketika mereka membeberkan beberapa skandal yang terjadi di seni rupa kepada dewan kehormatan seni. Dan beberapa laporan ini membongkar kebusukan-kebusukan yang terjadi dalam institusi seni yang dilaporkan tersebut. Berita ini mendapatkan simpati publik sehingga para stuckist semakin diterima dimasyarakat.
Penamaan stuckism diambil begitu saja dari sebuah puisi Tracey Emin ketika mengomentari lukisan Billy Childish, pacarnya. Stuckism berasal dari kata “stuck” yang merupakan kata yang sering diulang oleh tracey emin dalam puisinya itu ” Your panting are stuck, …. Stuck! Stuck! Stuck!). Anggota yang bergabung dalam kelompok stuckisme ini disebut stuckist.
Untuk menandai keberadaannya, para stuckist ini membuatan manifesto-manifesto yang intinya berisikan sikap mereka terhadap seni postmo dan conceptual art serta ketidakpercayaan mereka terhadap para kritikus seni. Manifesto pertama mereka menentang sikap anti proses dari seni postmo, pemakaian artisan, dimana seniman tidak lagi terlibat secara fisik dalam pembuatan karya seni. Seorang seniman bagi mereka harus terlibat langsung dalam pembuatan karyanya. Mereka menyatakan bahwa “artist who don’t paint aren’t artists “, atau kurang lebih berarti, seniman tidak terlibat secara fisik dalam pembuatan karya seni bukanlah seniman. Pada manifesto kedua mereka menyatakan keinginan mereka untuk menggusur seni postmo dengan paham remodernisme sebagai periode pembaharuan nilai spiritual seni, sosial dan kebudayaan.
Remodernisme
Paham ini dibuat sebagai suatu bentuk protes terhadap kegagalan seni konseptual dan postmodern dalam membangun jembatan dengan publik. Pada perkembangannya Seni postmo jauh lebih bersifat ekslusif, elit dan jauh dari tataran sosial diluarnya. Seni postmo tidak menjanjikan apapun pada pemahaman berkesenian, karena hanya sekedar sebuah interupsi dari seni modern sehingga kondisinya sekarang dianggap sudah mapan dan tidak berkembang. Yang dilakukan oleh para penganut seni postmo tidak lebih dari sebuah repetisi yang membosankan dan memperlebar jarak dengan tataran sosio kultural masyarakat. Seni postmo hanya tinggal sebuah konvensi karena kegagalannya memberikan nilai-nilai dalam kehidupan manusia.
Remodernisme menerapkan ulang modernisme, memperbaiki visi dasarnya, disisi lain meninggalkan azas formalisme-nya. Remodernisme juga meliputi perbaikan akan nilai-nilai dalam sebuah karya seni, bahwa nilai – nilai kebentukan menjadi sangat penting menyangkut peranannya sebagai medium dan kegunaannya sebagai bahasa komunikasi, ekspresi dari emosi dan pengalaman. Remodernisme juga meliputi perbaikan nilai-nilai spritual seni yang meliputi kajian kemanusiaan dan itegritas antara nilai-nilai holistik dengan seni.
Peran Stuckists dalam seni kontemporer
Dalam bukunya, ” The stuckists : The First remodernist Art group” dinyatakan bahwa stuckists menerapkan prinsip modernisme, dan menggunakannya untuk berkesenian dengan mempertimbangkan nilai spiritual dan hubungannya dalam realitas sehari-hari. Semua anggota yang bergabung dalam stuckisme mempunyai komitmen secara alami dengan hal ini.
Pada prinsipnya, peran stuckists dalam seni kontemporer adalah usaha untuk menghidupkan kembali semangat itegritas personal sebagai dasar berkesenian. Menolak kompromi dengan trend dan pemakaian machiavellian middlemen (perantara/pialang) seni.
Stuckists menolak karya seni yang dihadirkan tanpa sebuah proses yang melibatkan seniman seperti halnya seni konseptual dan seni post modern. Stuckisme membawa sebuah nuansa baru dalam berkesenian untuk mengganti wacana seni konseptual dan seni postmodern yang dianggap telah mencapai titik mapan (establish).
Pemikiran stuckists lebih banyak diikuti oleh seniman muda dan siswa seni, jauh berbeda dengan seni postmo yang bekerja pada wilayah seni yang ekslusif dan umumnya didominasi oleh seniman mapan. Hal ini merupakan sebuah tanda bahwa stuckisme dibuat untuk masa depan seni kontemporer.
Kegiatan
Setelah berdiri tahun 1999, perupa Ella Guru dari kelompok pendiri stuckists membuat website stuckists. Kelompok ini dimuat pertama kalinya di media dalam artikel ” Evening Standart”. Proses berdirinya stuckists ini ditandai dengan pameran pertama mereka berjudul “Stuck! Stuck Stuck!” di Joe Crompton’s Gallery 108 di Shoredicth. Pada tahun yang sama mereka berpameran “Resignation of Nicholas Serrota”. Tahun 2000 mereka mnyedot perhatian publik dengan melakukan demonstrasi di depan Tate Gallery untuk memprotes Turner Prize serta diiringi dengan pameran “The Real Turner Prize” pada waktu yang bersamaan dengan Turner Prize versi Tate Gallery. Kegiatan ini terus dilakukan selama tahun 2000- 2006 dan didalam demo ini mereka datang dengan berpakaian badut.
Pada Tahun 2002 sampai 2005 Charles Thompson mengelola pusat stuckists Internasional dan galerinya di Shoreditch London. Pada tahun 2003 galeri ini berpameran dengan judul ” A dead shark isn’t art“, dalam pameran ini dipamerkan ikan hiu yang dulunya pernah dipamerkan pertama kali oleh Eddy Saunders di tokonya di Shoreditch, JD Electrical Supplier tahun 1989 (2 tahun sebelum Damien Hirst dari Young British Artists memamerkan ikan hiunya). Dalam pameran ini dijelaskan bahwa Damien Hirst pernah datang dan melihat hiu tersebut dan menjiplaknya dengan demikian Saunderslah seniman penemunya.
Tahun 2002 mereka berdemo dengan membawa peti mayat bertulis ” The Dead of Conceptual Art” ke White Cube Gallery. Tahun 2003 mereka melaporkan Charles Saatchi ke komisi etik dagang, mengadukan monopoli Saatchi terhadap seni. Di tahun ini pula kelompok stuckisme fotografi didirikan oleh Lary Dunstan dan Andy Bullock. Diluar Britania Raya, diselenggarakan demo ” The Clown Trial of President Bush” dalam rangka protes terhadap perang Irak.
Tahun 2006 mereka membuat pameran “Go West” di galeri komersil West End Spectrum London. Pameran ini sebagai tanda masuknya stuckisme sebagai pemain utama dalam dunia seni. Pada tahun yang sama, pameran pertama mereka di galeri nasional dengan judul “The Stuckist Punk Victorian” digelar. Pemeran ini diselenggarakan di Walker Art gallery dan Lady Lever Art Gallery yang tergabung dalam rangkaian Liverpool Biennial. Pameran ini menampilkan 250 lukisan dari 37 seniman dari Inggris dan seniman internasional dari jerman, Amerika Serikat, dan Australia. Pameran ini juga dibarengi dengan peluncuran buku ” The Stuckists Punk Victorian“. Pada saat yang sama digelar pula simposium internasional di Universitas John Moores Liverpool. Aktivitas ini juga diikuti oleh pameran pendampingnya di 68 hope gallery milik Universitas John Moores.
Pengembangan Internasional
Stuckists berkembang menjadi gerakan internasional dan ditahun 2006 telah bergabung 138 kelompok dari 34 negara. Selanjutnya di tahun 2007 telah tergabung sebanyak 163 kelompok dari 40 negara.
Para stuckist di seluruh dunia bergabung atas dasar kesamaan visi, dan kesadaran yang sama akan nilai-nilai modernisme dan bahaya seni konseptual. Sampai tahun 2007 telah berdiri 4 Pusat Stuckists Internasional (International Stuckists Centre) sebagai tempat bagi para stuckist untuk saling berinteraksi dan bertukar pikiran. Gerakan ini bekerja secara swadaya, tanpa sponsor, galeri, dll, sehingga kemurnian pemikiran mereka tetap terjaga. Stuckisme merupakan gerakan yang bebas dan anggota yang bergabung masuk secara sukarela.
Setelah simposium pertamanya, stuckists international terus bertambah jumlahnya hingga sekarang. Hal ini beriringan pula dengan munculnya kembali pertanyaan akan arti seni dan seniman serta perenungan terhadap nilai-nilai kemanusiaan, personalitas, dan keterampilan didalam seni.
Pameran-pameran stuckists Internasional meliputi, Perancis, United Kingdom (Inggris/Britania Raya), Amerika Serikat, Australia,Yunani, Jerman dan Belgia. Pameran mulai di gelar sejak tahun 2000 hingga sekarang.
Indonesia
Pada dasarnya stuckisme belum disadari secara nyata keberadaannya disini, tetapi gejala-gejala kegelisahan yang terjadi di kalangan pelaku seninya hampir sama, tapi dalam bentuk dan nama yang berbeda. Seni rupa kontemporer Indonesia belum begitu diracuni oleh wacana seni konseptual dan postmo, tetapi lebih banyak dirusak oleh trend pasar dan praktek kuratorial yang tidak sehat. Disisi lain, pemikiran akan pentingnya sebuah identitas personal dan pentingnya proses berkesenian tetap terjaga dikalangan seniman dan para siswa seni. Kondisi ini berbeda dengan seni kontemporer di Inggris yang sangat didominasi oleh seni postmodern.
Seni rupa kontemporer Indonesia mempunyai masalah yang lebih kompleks dan spesifik dibanding Inggris maupun Eropa. Jika seni Inggris dikuasai oleh wacana estetika dan pasar seni oleh seni konseptual Young British Artist, sedangkan seni Indonesia dirusak oleh institusi eksebitifnya (praktek kuratorial, galeri, machiavellian-Middlemen/pialang, dll). Selain itu infrastruktur seni yang ada di Indonesia belum selengkap yang ada di Indonesia belum selengkap di Eropa.
billy-childish400-truth-lies-and-audiotape.jpg
Stuckisme (stuckism) merupakan sebuah gerakan kesenian yang terjadi di Inggris dimulai pada tahun 1999 dengan tokoh pendirinya Billy Childish dan Charles Tompson yang tergabung dalam kelompok stuckist pertama dengan anggota 13 orang. Gerakan seni ini muncul sebagai reaksi dari dominasi wacana estetika dan pasar seni dari eksponen-eksponen Young British Artists (YBA). Dominasi mereka yang begitu besar di Inggris juga didukung oleh monopoli pasar oleh dealer seni Charles Saacthi, yang ditandai oleh tersingkirnya para seniman lain yang berada diluar form mereka.
Gerakan ini selain mempertentangkan persoalan dominasi YBA, monopoli Saacthi, juga menentang ideologi seni postmo dan conceptual art yang dianggap sudah terlalu establish di Inggris. Selain itu mereka juga menyoroti permainan-permainan kotor para kurator, serta skandal di Tate Britain. Aksi mereka banyak mandapat sorotan publik terutama ketika mereka membeberkan beberapa skandal yang terjadi di seni rupa kepada dewan kehormatan seni. Dan beberapa laporan ini membongkar kebusukan-kebusukan yang terjadi dalam institusi seni yang dilaporkan tersebut. Berita ini mendapatkan simpati publik sehingga para stuckist semakin diterima dimasyarakat.
Penamaan stuckism diambil begitu saja dari sebuah puisi Tracey Emin ketika mengomentari lukisan Billy Childish, pacarnya. Stuckism berasal dari kata “stuck” yang merupakan kata yang sering diulang oleh tracey emin dalam puisinya itu ” Your panting are stuck, …. Stuck! Stuck! Stuck!). Anggota yang bergabung dalam kelompok stuckisme ini disebut stuckist.
Untuk menandai keberadaannya, para stuckist ini membuatan manifesto-manifesto yang intinya berisikan sikap mereka terhadap seni postmo dan conceptual art serta ketidakpercayaan mereka terhadap para kritikus seni. Manifesto pertama mereka menentang sikap anti proses dari seni postmo, pemakaian artisan, dimana seniman tidak lagi terlibat secara fisik dalam pembuatan karya seni. Seorang seniman bagi mereka harus terlibat langsung dalam pembuatan karyanya. Mereka menyatakan bahwa “artist who don’t paint aren’t artists “, atau kurang lebih berarti, seniman tidak terlibat secara fisik dalam pembuatan karya seni bukanlah seniman. Pada manifesto kedua mereka menyatakan keinginan mereka untuk menggusur seni postmo dengan paham remodernisme sebagai periode pembaharuan nilai spiritual seni, sosial dan kebudayaan.
Remodernisme
Paham ini dibuat sebagai suatu bentuk protes terhadap kegagalan seni konseptual dan postmodern dalam membangun jembatan dengan publik. Pada perkembangannya Seni postmo jauh lebih bersifat ekslusif, elit dan jauh dari tataran sosial diluarnya. Seni postmo tidak menjanjikan apapun pada pemahaman berkesenian, karena hanya sekedar sebuah interupsi dari seni modern sehingga kondisinya sekarang dianggap sudah mapan dan tidak berkembang. Yang dilakukan oleh para penganut seni postmo tidak lebih dari sebuah repetisi yang membosankan dan memperlebar jarak dengan tataran sosio kultural masyarakat. Seni postmo hanya tinggal sebuah konvensi karena kegagalannya memberikan nilai-nilai dalam kehidupan manusia.
Remodernisme menerapkan ulang modernisme, memperbaiki visi dasarnya, disisi lain meninggalkan azas formalisme-nya. Remodernisme juga meliputi perbaikan akan nilai-nilai dalam sebuah karya seni, bahwa nilai – nilai kebentukan menjadi sangat penting menyangkut peranannya sebagai medium dan kegunaannya sebagai bahasa komunikasi, ekspresi dari emosi dan pengalaman. Remodernisme juga meliputi perbaikan nilai-nilai spritual seni yang meliputi kajian kemanusiaan dan itegritas antara nilai-nilai holistik dengan seni.
Peran Stuckists dalam seni kontemporer
Dalam bukunya, ” The stuckists : The First remodernist Art group” dinyatakan bahwa stuckists menerapkan prinsip modernisme, dan menggunakannya untuk berkesenian dengan mempertimbangkan nilai spiritual dan hubungannya dalam realitas sehari-hari. Semua anggota yang bergabung dalam stuckisme mempunyai komitmen secara alami dengan hal ini.
Pada prinsipnya, peran stuckists dalam seni kontemporer adalah usaha untuk menghidupkan kembali semangat itegritas personal sebagai dasar berkesenian. Menolak kompromi dengan trend dan pemakaian machiavellian middlemen (perantara/pialang) seni.
Stuckists menolak karya seni yang dihadirkan tanpa sebuah proses yang melibatkan seniman seperti halnya seni konseptual dan seni post modern. Stuckisme membawa sebuah nuansa baru dalam berkesenian untuk mengganti wacana seni konseptual dan seni postmodern yang dianggap telah mencapai titik mapan (establish).
Pemikiran stuckists lebih banyak diikuti oleh seniman muda dan siswa seni, jauh berbeda dengan seni postmo yang bekerja pada wilayah seni yang ekslusif dan umumnya didominasi oleh seniman mapan. Hal ini merupakan sebuah tanda bahwa stuckisme dibuat untuk masa depan seni kontemporer.
Kegiatan
Setelah berdiri tahun 1999, perupa Ella Guru dari kelompok pendiri stuckists membuat website stuckists. Kelompok ini dimuat pertama kalinya di media dalam artikel ” Evening Standart”. Proses berdirinya stuckists ini ditandai dengan pameran pertama mereka berjudul “Stuck! Stuck Stuck!” di Joe Crompton’s Gallery 108 di Shoredicth. Pada tahun yang sama mereka berpameran “Resignation of Nicholas Serrota”. Tahun 2000 mereka mnyedot perhatian publik dengan melakukan demonstrasi di depan Tate Gallery untuk memprotes Turner Prize serta diiringi dengan pameran “The Real Turner Prize” pada waktu yang bersamaan dengan Turner Prize versi Tate Gallery. Kegiatan ini terus dilakukan selama tahun 2000- 2006 dan didalam demo ini mereka datang dengan berpakaian badut.
Pada Tahun 2002 sampai 2005 Charles Thompson mengelola pusat stuckists Internasional dan galerinya di Shoreditch London. Pada tahun 2003 galeri ini berpameran dengan judul ” A dead shark isn’t art“, dalam pameran ini dipamerkan ikan hiu yang dulunya pernah dipamerkan pertama kali oleh Eddy Saunders di tokonya di Shoreditch, JD Electrical Supplier tahun 1989 (2 tahun sebelum Damien Hirst dari Young British Artists memamerkan ikan hiunya). Dalam pameran ini dijelaskan bahwa Damien Hirst pernah datang dan melihat hiu tersebut dan menjiplaknya dengan demikian Saunderslah seniman penemunya.
Tahun 2002 mereka berdemo dengan membawa peti mayat bertulis ” The Dead of Conceptual Art” ke White Cube Gallery. Tahun 2003 mereka melaporkan Charles Saatchi ke komisi etik dagang, mengadukan monopoli Saatchi terhadap seni. Di tahun ini pula kelompok stuckisme fotografi didirikan oleh Lary Dunstan dan Andy Bullock. Diluar Britania Raya, diselenggarakan demo ” The Clown Trial of President Bush” dalam rangka protes terhadap perang Irak.
Tahun 2006 mereka membuat pameran “Go West” di galeri komersil West End Spectrum London. Pameran ini sebagai tanda masuknya stuckisme sebagai pemain utama dalam dunia seni. Pada tahun yang sama, pameran pertama mereka di galeri nasional dengan judul “The Stuckist Punk Victorian” digelar. Pemeran ini diselenggarakan di Walker Art gallery dan Lady Lever Art Gallery yang tergabung dalam rangkaian Liverpool Biennial. Pameran ini menampilkan 250 lukisan dari 37 seniman dari Inggris dan seniman internasional dari jerman, Amerika Serikat, dan Australia. Pameran ini juga dibarengi dengan peluncuran buku ” The Stuckists Punk Victorian“. Pada saat yang sama digelar pula simposium internasional di Universitas John Moores Liverpool. Aktivitas ini juga diikuti oleh pameran pendampingnya di 68 hope gallery milik Universitas John Moores.
Pengembangan Internasional
Stuckists berkembang menjadi gerakan internasional dan ditahun 2006 telah bergabung 138 kelompok dari 34 negara. Selanjutnya di tahun 2007 telah tergabung sebanyak 163 kelompok dari 40 negara.
Para stuckist di seluruh dunia bergabung atas dasar kesamaan visi, dan kesadaran yang sama akan nilai-nilai modernisme dan bahaya seni konseptual. Sampai tahun 2007 telah berdiri 4 Pusat Stuckists Internasional (International Stuckists Centre) sebagai tempat bagi para stuckist untuk saling berinteraksi dan bertukar pikiran. Gerakan ini bekerja secara swadaya, tanpa sponsor, galeri, dll, sehingga kemurnian pemikiran mereka tetap terjaga. Stuckisme merupakan gerakan yang bebas dan anggota yang bergabung masuk secara sukarela.
Setelah simposium pertamanya, stuckists international terus bertambah jumlahnya hingga sekarang. Hal ini beriringan pula dengan munculnya kembali pertanyaan akan arti seni dan seniman serta perenungan terhadap nilai-nilai kemanusiaan, personalitas, dan keterampilan didalam seni.
Pameran-pameran stuckists Internasional meliputi, Perancis, United Kingdom (Inggris/Britania Raya), Amerika Serikat, Australia,Yunani, Jerman dan Belgia. Pameran mulai di gelar sejak tahun 2000 hingga sekarang.
Indonesia
Pada dasarnya stuckisme belum disadari secara nyata keberadaannya disini, tetapi gejala-gejala kegelisahan yang terjadi di kalangan pelaku seninya hampir sama, tapi dalam bentuk dan nama yang berbeda. Seni rupa kontemporer Indonesia belum begitu diracuni oleh wacana seni konseptual dan postmo, tetapi lebih banyak dirusak oleh trend pasar dan praktek kuratorial yang tidak sehat. Disisi lain, pemikiran akan pentingnya sebuah identitas personal dan pentingnya proses berkesenian tetap terjaga dikalangan seniman dan para siswa seni. Kondisi ini berbeda dengan seni kontemporer di Inggris yang sangat didominasi oleh seni postmodern.
Seni rupa kontemporer Indonesia mempunyai masalah yang lebih kompleks dan spesifik dibanding Inggris maupun Eropa. Jika seni Inggris dikuasai oleh wacana estetika dan pasar seni oleh seni konseptual Young British Artist, sedangkan seni Indonesia dirusak oleh institusi eksebitifnya (praktek kuratorial, galeri, machiavellian-Middlemen/pialang, dll). Selain itu infrastruktur seni yang ada di Indonesia belum selengkap yang ada di Indonesia belum selengkap di Eropa.
MUASAL SENI LUKIS INDONESIA MODERN
Seni Lukis Modern Indonesia diawali dengan sejarah Belanda menjajah di Indonesia. Kecenderungan seni rupa Eropa Barat pada zaman itu ke aliran romantisme membuat banyak pelukis Indonesia ikut terpengaruh mengembangkan aliran ini. Awalnya pelukis Indonesia lebih sebagai penonton atau asisten, sebab pendidikan kesenian merupakan hal mewah yang sulit dicapai penduduk pribumi. Selain karena harga alat lukis modern yang sulit dicapai penduduk biasa.
Raden Saleh Syarif Bustaman adalah salah seorang asisten yang cukup beruntung bisa mempelajari melukis gaya Eropa yang dipraktikkan pelukis Belanda. Raden Saleh kemudian melanjutkan belajar melukis ke Belanda, sehingga berhasil menjadi seorang pelukis Indonesia yang disegani dan menjadi pelukis istana di beberapa negera Eropa.
Namun seni lukis Indonesia tidak melalui perkembangan yang sama seperti zaman renaisans Eropa, sehingga perkembangannya pun tidak melalui tahapan yang sama.
Era revolusi di Indonesia membuat banyak pelukis Indonesia beralih dari tema-tema romantisme menjadi cenderung ke arah "kerakyatan". Objek yang berhubungan dengan keindahan alam Indonesia dianggap sebagai tema yang mengkhianati bangsa, sebab dianggap menjilat kepada kaum kapitalis yang menjadi musuh ideologi komunisme yang populer pada masa itu. Para pelukis kemudian beralih kepada potret kehidupan nyata masyarakat kelas bawah dan perjuangan menghadapi penjajah.
Selain itu, alat lukis seperti cat dan kanvas yang semakin sulit didapat membuat lukisan Indonesia cenderung ke bentuk-bentuk yang lebih sederhana, sehingga melahirkan abstraksi.
Raden Saleh Syarif Bustaman adalah salah seorang asisten yang cukup beruntung bisa mempelajari melukis gaya Eropa yang dipraktikkan pelukis Belanda. Raden Saleh kemudian melanjutkan belajar melukis ke Belanda, sehingga berhasil menjadi seorang pelukis Indonesia yang disegani dan menjadi pelukis istana di beberapa negera Eropa.Namun seni lukis Indonesia tidak melalui perkembangan yang sama seperti zaman renaisans Eropa, sehingga perkembangannya pun tidak melalui tahapan yang sama.
Era revolusi di Indonesia membuat banyak pelukis Indonesia beralih dari tema-tema romantisme menjadi cenderung ke arah "kerakyatan". Objek yang berhubungan dengan keindahan alam Indonesia dianggap sebagai tema yang mengkhianati bangsa, sebab dianggap menjilat kepada kaum kapitalis yang menjadi musuh ideologi komunisme yang populer pada masa itu. Para pelukis kemudian beralih kepada potret kehidupan nyata masyarakat kelas bawah dan perjuangan menghadapi penjajah.
Selain itu, alat lukis seperti cat dan kanvas yang semakin sulit didapat membuat lukisan Indonesia cenderung ke bentuk-bentuk yang lebih sederhana, sehingga melahirkan abstraksi.
Gerakan Manifesto Kebudayaan yang bertujuan untuk melawan pemaksaan ideologi komunisme membuat pelukis pada masa 1950an lebih memilih membebaskan karya seni mereka dari kepentingan politik tertentu, sehingga era ekspresionisme dimulai. Lukisan tidak lagi dianggap sebagai penyampai pesan dan alat propaganda, namun lebih sebagai sarana ekspresi pembuatnya. Keyakinan tersebut masih dipegang hingga saat ini.
Perjalanan seni lukis kita sejak perintisan Raden Saleh sampai awal abad XXI ini, terasa masih terombang-ambing oleh berbagai benturan konsepsi.
Kemapanan seni lukis Indonesia yang belum mencapai tataran keberhasilan sudah diporak-porandakan oleh gagasan modernisme yang membuahkan seni alternatif, dengan munculnya seni konsep (conceptual art): "Contemporary Art", “Installation Art”, dan “Performance Art”, yang pernah menjamur di pelosok kampus perguruan tinggi seni sekitar 1993-1996. Kemudian muncul berbagai alternatif semacam “kolaborasi” sebagai mode 1996/1997. Bersama itu pula seni lukis konvensional dengan berbagai gaya menghiasi galeri-galeri, yang bukan lagi sebagai bentuk apresiasi terhadap masyarakat, tetapi merupakan bisnis alternatif investasi.
Perjalanan seni lukis kita sejak perintisan Raden Saleh sampai awal abad XXI ini, terasa masih terombang-ambing oleh berbagai benturan konsepsi.
Kemapanan seni lukis Indonesia yang belum mencapai tataran keberhasilan sudah diporak-porandakan oleh gagasan modernisme yang membuahkan seni alternatif, dengan munculnya seni konsep (conceptual art): "Contemporary Art", “Installation Art”, dan “Performance Art”, yang pernah menjamur di pelosok kampus perguruan tinggi seni sekitar 1993-1996. Kemudian muncul berbagai alternatif semacam “kolaborasi” sebagai mode 1996/1997. Bersama itu pula seni lukis konvensional dengan berbagai gaya menghiasi galeri-galeri, yang bukan lagi sebagai bentuk apresiasi terhadap masyarakat, tetapi merupakan bisnis alternatif investasi.
Selasa, 06 Oktober 2009
KELAS JADI RUMAH HANTU
| 29 Jun 2007 |
"Hiii, seraaam," kata siswa siswi SMA Nahdlatul Ulama (Smanusa) saat melihat ruang belajar mereka berubah menjadi rumah hantu. Kesan seram itu ditampilkan dalam pameran seni rupa dan instalasi yang berakhir kemarin. Pameran seni rupa dan instalasi itu merupakan tugas akhir mata pelajaran seni budaya. Pameran berlangsung Rabu dan Kamis kemarin. Sebanyak 19 ruang kelas disulap menjadi ruang pamer seni rupa dan instalasi. Menurut guru seni budaya Smanusa Kris Adji A.W., pameran tersebut merupakan tuntutan yang harus dilakukan siswa. "Setiap akhir semester siswa harus menggelar pameran," kata Kris Adji yang juga ketua Dewan Kesenian Gresik (DKG). Siswa bebas mengekspresikan kreasinya. Horor menjadi tema paling menarik. Banyak siswa memilih menyulap ruang kelas mereka menjadi rumah hantu atau hutan angker. Agar benar-benar menimbulkan kesan seram, mereka melengkapi rumah dan hutan itu dengan profil hantu. Misalnya, kuntilanak atau pocong.[idp/jul]. |
Jumat, 25 September 2009
PASAR SENI LUKIS INDONESIA 2009
Kris Adji Berharap Ada Yang Baru
Rabu, 23 September 2009
LOMBA LUKIS IPNU GRESIK: KARYAKU UNTUK INDONESIA
Pada hari Jum’at 14 Agustus 2009 IPNU Gresik mengadakan lomba mewarna tingkat TK dan SD serta lomba melukis tingkat SD. Tema untuk lomba tersebut adalah “Karyaku untuk Indonesia”, woww, luar biasa, peserta yang ikut diluar dugaan. Dengan persiapan hanya 2 minggu, target peserta hanya 100 anak. Ternyata diluar dugaan, peserta yang ikut lebih dari 250 anak, panitia sempat kelabakan menerima peserta yang ada. Mereka sangat antusias untuk mengikuti acara tersebut. Setiap kategori lomba diambil 3 pemenang, yaitu Juara I, II dan II. dan hadiah diberikan langsung oleh Bapak Jamil selaku Ketua LP Ma’arif NU Kab. Gresik, Bapak Sasatro Soewito, SH, M.Hum selaku Wakil Bupati Gresik dan Bapak Kris Adji AW Ketua Dewan Kesenian Kab. Gresik. Selamat berkarya ..!!!
Selasa, 22 September 2009
TERBENGKELAINYA SITUS KERAJAAN GIRI KEDATON GRESIK
Menelusuri Masjid Tertua Sunan Giri
Minggu, 13 September 2009 11:17 WIB Posts by: Sugeng Wibowo
Terbengkalai, Jadi Tempat Pelarian Pencari Ketenangan
Di masa Sunan Giri dulu, situs istana keraton Sunan Giri atau Giri Kedaton yang dibangun pada 1487 Masehi ini, merupakan pusat pemerintahan sekaligus tempat peribadatan. Tempat ini berdasar sejarahnya, juga menjadi tempat penyebaran agama Islam dan pengukuhan raja-raja Islam Demak. Bahkan menjadi tempat berdirinya pondok pesantren pertama di Kabupaten Gresik, Jawa Timur.
Kini petilasan itu kondisinya sungguh memprihatinkan. Situs bersejarah yang mestinya bisa terjaga kelestariannya, yang terlihat justru menjadi tempat penggembalaan hewan ternak.
Suasana sunyi senyap, tampak ketika pertama menginjakkan kaki di petilasan Giri Kedaton. Tidak ada lagi peribadatan yang ada di masjid tertua dari sebanyak 1.053 masjid di Gresik ini. Justru sebaliknya, masjid yang mestinya dijadikan sebagai tempat yang disucikan, kini hanya menjadi tempat “pelarian” bagi umat muslim yang ingin bermunajad untuk mencari ketenangan ketika sedang dirundung masalah.
Memang letaknya yang berada di atas sebuah bukit di Dusun Kedaton, Desa Sidomukti, Kecamatan Kebomas, Gresik dengan ketinggian 200 meter dari permukaan laut, sangat mendukung bagi mereka yang ingin mencari ketenangan.
Ditunjang panorama keindahan Kota Gresik yang bisa dilihat secara keseluruhan dari atas bukit, menjadikan pengunjung betah untuk berlama-lama tinggal di petilasan Giri Kedaton.
Seperti diungkapkan Hamim, 42, warga Tanggulangin, Sidoarjo yang sudah hampir dua pekan ramadan ini tinggal di petilasan Giri Kedaton. Di sana ia tidak sendiri, ada tiga pengunjung yang selama Ramadan ini memilih menyepi dari ingar-bingar keramaian kota.
Menurut pemuda yang dulunya membuka usaha pakaian ini, sengaja bermalam di Giri Kedaton untuk mencari ketenangan. Ia berpandangan, setiap bergelut dengan suatu persoalan, dengan sendirinya beban persoalan itu akan menjadi hilang setelah berada di petilasan Giri Kedaton.
Suatu ketika, ia sempat terbelit masalah utang yang menjadikan usahanya bangkrut. Pria yang mempunyai dua orang putri ini sempat stres. Ia kemudian berniat menyendiri di tempat yang dianggapnya bisa menghilangkan beban pikirannya yakni di petilasan Giri Kedaton.
Di tempat ini ia luapkan segala bentuk kegelisahan pikirannya dengan kegitan merenung, bermunajad, dan hasilnya cukup bisa membantu menghilangkan kesuntukannya.
Lain halnya dengan Hermawan, 57, lelaki asal Kota Tasik, Jawa Barat, ini hampir tiap ada waktu luang selalu berkunjung ke petilasan Giri Kedaton. Dalam kunjungannya kali ini, ia sempat bermimpi diberitahu supaya segera meninggalkan Tasik.
Keesokan harinya, ia dan keluarganya pun meninggalkan Tasikmalaya untuk berkunjung ke rumahnya yang berada di Gresik. Setelah dua hari menginap di petilasan Giri Kedaton, lelaki yang juga berdagang pakaian batik ini mendengar dari surat kabar kalau Tasikmalaya diguncang gempa dahsyat.
“Saya kemudian berpikir, mungkin ini salah satu petunjuk,” kata pria yang sejak duduk di bangku perkuliahan senang menyendiri di petilasan Sunan Giri.
Kendati demikian, umumnya para pengunjung petilasan Giri Kedaton menolak dikatakan tujuan untuk menginap dan menyendiri di petilasan Giri Kedaton itu untuk mencari wangsit atau sesuatu hal yang diperlukan untuk tujuan tertentu, seperti demi untuk memperoleh kedudukan atau jabatan, atau hal-hal lain yang mengarah pada syirik.
Mereka berkeyakinan, berdoa itu bisa dilakukan di mana saja tanpa melihat aliran ajaran agama Islam tertentu atau paham ajaran tertentu, di mana tujuan akhirnya untuk mencari ridho Allah.
Kurang PeduliMasyarakat sekitar dan Pemkab Gresik umumnya kurang begitu peduli untuk ikut menjaga dan melestarikan keberadaan situs bersejarah petilasan Giri Kedaton.
Terbukti, mereka seakan memandang sebelah mata keberadaan petilasan ini, kata juru kunci petilasan Giri Kedaton, Mucthar, 57. Berbeda dengan perlakuan warga terhadap Makam Sunan Giri.
Memang selama ini warga dan pemerintah lebih cenderung tertuju pada makam Sunan Giri, tanpa melihat peninggalan bersejarah lainnya. Apalagi Makam Sunan Giri bisa memberikan kontribusi kepada pemkab dari sebagian hasil tarikan retribusi pengunjung, dan bisa menunjang perekonomian masyarakat sekitar.
Berbeda dengan petilasan Giri Kedaton yang tidak menghasilkan sama sekali, karena tempat ini hampir tidak pernah dikunjungi para pendatang atau peziarah dari luar kota. Yang datang hanya satu dua orang yang menginap di petilasan tersebut.
Ia juga menyanyangkan masyarakat yang tidak ikut menjaga dan memelihara situs bersejarah, dengan menggembalakan hewan ternaknya di sekitar situs hingga merusak tanaman dan mengotori punden Giri Kedaton yang menjadikan keberadaan tempat ini penuh kotoran hewan.
“Saya sempat melapor kepada kepala desa untuk melarang warga menggembalakan hewan ternak, tapi masyarakat tidak pernah menggubris,” katanya pasrah.
Tidak hanya itu, yang memprihatinkan lagi karena tempatnya yang sepi, lokasi situs ini menjadi sasaran kalangan remaja untuk dijadikan tempat pacaran, bahkan sering kali juru pelihara pengelola masjid kehilangan kotak amal.
Sementara di lain hal minim perhatian dari Pemkab Gresik. Terbukti sejak tahun 2005 pihaknya mengusulkan untuk mengalokasikan anggaran perawatan situs hingga menyediakan air bersih untuk keperluan mandi cuci kakus (MCK), usulan itu direspons tapi tidak ada realisasi.
Lelaki yang menjadi juru kunci sejak tahun 1987 yang mewarisi profesi ini dari orangtuanya mengatakan, kegiatan pelestarian dan konservasi situs Giri Kedaton tahap satu dilakukan pada tahun 2002 kemudian dilanjutkan tahap kedua 2005. Kegiatan ini dilakukan atas kerjasama Balai Penelitian dan Pelestarian Purbakala (BP3) Trowulan, Mojokerto, dan Dinas Kebudayaan Gresik.
Dalam kegiatan tersebut dilakukan pemetaan, ekskavasi, pengupasan tanah, studi kelayakan pugar bangunan punden berundak masa prasejarah dan bangunan candi Hindu Budha di Indonesia.
Sempat dulu Pemkab Gresik berencana memperluas areal lahan situs Giri Kedaton, namun upaya itu terkendala pembebasan lahan milik warga, baru 625 meter yang sudah dibebaskan. Perluasan lahan itu bertujuan untuk menata kembali banyaknya pepohonan bambu milik warga yang menutupi petilasan Giri Kedaton.
Selama Ramadan tidak ada aktivitas yang ada di masjid Sunan Giri Kedaton, baik salat tarawih maupun tadarus, berbeda dengan masjid dan musala pada umumnya yang ramai dengan aktivitas peribadatan. Warga sekitar enggan menggunakan masjid ini sebagai tempat peribadatan, karena letaknya yang berada jauh di atas bukit.
Ketua Dewan Kesenian Kabupaten Gresik, Kris Aji menilai, selama ini Pemkab Gresik dalam membangun dan merenovasi situs sejarah tanpa melihat sejarah awalnya, sehingga bukannya memelihara justru merusak keaslian situs.
Menurut dia, hal itu kerap kali dilakukan oleh pemkab dengan berangkat dari pengetahuan sejarah yang minim dan tanpa melibatkan para pemerhati sejarah di Gresik tiba-tiba merenovasi situs, seperti Situs Giri Kedaton yang dibangun musala di atas bukit.
Padahal, menurut sejarah bangunan musala yang dulunya menjadi masjid pertama yang menjadi tempat syiar agama Islam oleh Sunan Giri itu dibangun di samping kiri Giri Kedaton, bukannya tepat di tengah bukit.
“Ini yang dikatakan merusak, apalagi bangunan Giri Kedaton terlihat tidak terawat, banyak batu bata dari punden berundak dibiarkan roboh berserakan,” katanya.
Selanjutnya ia mencontohkan bangunan pendopo Sunan Giri yang tidak dibangun berdasar sejarah yang ada, hanya dibuat dengan bentuk menyerupai joglo.
Ia juga menyayangkan mulai banyaknya ahli fungsi tanah situs makam bersejarah di Gresik yang banyak dikomersilkan, seperti banyaknya pendirian tower (menara) seluler di areal Makam Sunan Giri dan Putri Cempo.
Ini sangat menyalahi aturan, keberadaan situs yang mestinya bisa dipertahankan keasliannya, justru dikomersilkan, padahal banyak tempat lain di luar makam yang bisa menjadi tempat berdirinya menara.“Yang seperti ini pemkab kurang memperhatikan, hanya bisa memberikan izin tanpa melihat dasar pertimbangan tempat yang dipakai itu merupakan lahan Makam Sunan Giri yang dikeramatkan,” katanya menegaskan.
Kepala Dinas Pariwisata Gresik, Migfar Syukur beranggapan kewenangan memugar dan merawat situs makam di Gresik merupakan tanggungjawab BP3 Trowulan, dan tahun ini pemkab tidak menganggarkan perawatan untuk situs makam. Tapi semestinya, kata Kris Aji, pemkab selaku tuan rumah setidaknya memberikan saran dan masukan dengan melibatkan para sejarawan Gresik.
“Jangankan dilibatkan, membicarakan tentang seminar untuk mempertahankan situs sejarah di Gresik dengan para pemerhati budaya pun tidak pernah, padadal Gresik dikenal sebagai Kota Santri dan Kota Wali. Namun, pemerintahannya kurang peduli terhadap kelestarian situs makam,” katanya menanggapi pernyataan kadis pariwisata.
Ia sendiri menyesalkan minimnya komunikasi pemkab kepada para pemerhati sejarawan Gresik, sementara dewan kesenian dalam hal ini hanya bisa memberikan saran dan masukan, tinggal menunggu respon dan realisasi dari pemkab sendiri. ant
Minggu, 13 September 2009 11:17 WIB Posts by: Sugeng Wibowo
Terbengkalai, Jadi Tempat Pelarian Pencari Ketenangan
Di masa Sunan Giri dulu, situs istana keraton Sunan Giri atau Giri Kedaton yang dibangun pada 1487 Masehi ini, merupakan pusat pemerintahan sekaligus tempat peribadatan. Tempat ini berdasar sejarahnya, juga menjadi tempat penyebaran agama Islam dan pengukuhan raja-raja Islam Demak. Bahkan menjadi tempat berdirinya pondok pesantren pertama di Kabupaten Gresik, Jawa Timur.
Kini petilasan itu kondisinya sungguh memprihatinkan. Situs bersejarah yang mestinya bisa terjaga kelestariannya, yang terlihat justru menjadi tempat penggembalaan hewan ternak.
Suasana sunyi senyap, tampak ketika pertama menginjakkan kaki di petilasan Giri Kedaton. Tidak ada lagi peribadatan yang ada di masjid tertua dari sebanyak 1.053 masjid di Gresik ini. Justru sebaliknya, masjid yang mestinya dijadikan sebagai tempat yang disucikan, kini hanya menjadi tempat “pelarian” bagi umat muslim yang ingin bermunajad untuk mencari ketenangan ketika sedang dirundung masalah.
Memang letaknya yang berada di atas sebuah bukit di Dusun Kedaton, Desa Sidomukti, Kecamatan Kebomas, Gresik dengan ketinggian 200 meter dari permukaan laut, sangat mendukung bagi mereka yang ingin mencari ketenangan.
Ditunjang panorama keindahan Kota Gresik yang bisa dilihat secara keseluruhan dari atas bukit, menjadikan pengunjung betah untuk berlama-lama tinggal di petilasan Giri Kedaton.
Seperti diungkapkan Hamim, 42, warga Tanggulangin, Sidoarjo yang sudah hampir dua pekan ramadan ini tinggal di petilasan Giri Kedaton. Di sana ia tidak sendiri, ada tiga pengunjung yang selama Ramadan ini memilih menyepi dari ingar-bingar keramaian kota.
Menurut pemuda yang dulunya membuka usaha pakaian ini, sengaja bermalam di Giri Kedaton untuk mencari ketenangan. Ia berpandangan, setiap bergelut dengan suatu persoalan, dengan sendirinya beban persoalan itu akan menjadi hilang setelah berada di petilasan Giri Kedaton.
Suatu ketika, ia sempat terbelit masalah utang yang menjadikan usahanya bangkrut. Pria yang mempunyai dua orang putri ini sempat stres. Ia kemudian berniat menyendiri di tempat yang dianggapnya bisa menghilangkan beban pikirannya yakni di petilasan Giri Kedaton.
Di tempat ini ia luapkan segala bentuk kegelisahan pikirannya dengan kegitan merenung, bermunajad, dan hasilnya cukup bisa membantu menghilangkan kesuntukannya.
Lain halnya dengan Hermawan, 57, lelaki asal Kota Tasik, Jawa Barat, ini hampir tiap ada waktu luang selalu berkunjung ke petilasan Giri Kedaton. Dalam kunjungannya kali ini, ia sempat bermimpi diberitahu supaya segera meninggalkan Tasik.
Keesokan harinya, ia dan keluarganya pun meninggalkan Tasikmalaya untuk berkunjung ke rumahnya yang berada di Gresik. Setelah dua hari menginap di petilasan Giri Kedaton, lelaki yang juga berdagang pakaian batik ini mendengar dari surat kabar kalau Tasikmalaya diguncang gempa dahsyat.
“Saya kemudian berpikir, mungkin ini salah satu petunjuk,” kata pria yang sejak duduk di bangku perkuliahan senang menyendiri di petilasan Sunan Giri.
Kendati demikian, umumnya para pengunjung petilasan Giri Kedaton menolak dikatakan tujuan untuk menginap dan menyendiri di petilasan Giri Kedaton itu untuk mencari wangsit atau sesuatu hal yang diperlukan untuk tujuan tertentu, seperti demi untuk memperoleh kedudukan atau jabatan, atau hal-hal lain yang mengarah pada syirik.
Mereka berkeyakinan, berdoa itu bisa dilakukan di mana saja tanpa melihat aliran ajaran agama Islam tertentu atau paham ajaran tertentu, di mana tujuan akhirnya untuk mencari ridho Allah.
Kurang PeduliMasyarakat sekitar dan Pemkab Gresik umumnya kurang begitu peduli untuk ikut menjaga dan melestarikan keberadaan situs bersejarah petilasan Giri Kedaton.
Terbukti, mereka seakan memandang sebelah mata keberadaan petilasan ini, kata juru kunci petilasan Giri Kedaton, Mucthar, 57. Berbeda dengan perlakuan warga terhadap Makam Sunan Giri.
Memang selama ini warga dan pemerintah lebih cenderung tertuju pada makam Sunan Giri, tanpa melihat peninggalan bersejarah lainnya. Apalagi Makam Sunan Giri bisa memberikan kontribusi kepada pemkab dari sebagian hasil tarikan retribusi pengunjung, dan bisa menunjang perekonomian masyarakat sekitar.
Berbeda dengan petilasan Giri Kedaton yang tidak menghasilkan sama sekali, karena tempat ini hampir tidak pernah dikunjungi para pendatang atau peziarah dari luar kota. Yang datang hanya satu dua orang yang menginap di petilasan tersebut.
Ia juga menyanyangkan masyarakat yang tidak ikut menjaga dan memelihara situs bersejarah, dengan menggembalakan hewan ternaknya di sekitar situs hingga merusak tanaman dan mengotori punden Giri Kedaton yang menjadikan keberadaan tempat ini penuh kotoran hewan.
“Saya sempat melapor kepada kepala desa untuk melarang warga menggembalakan hewan ternak, tapi masyarakat tidak pernah menggubris,” katanya pasrah.
Tidak hanya itu, yang memprihatinkan lagi karena tempatnya yang sepi, lokasi situs ini menjadi sasaran kalangan remaja untuk dijadikan tempat pacaran, bahkan sering kali juru pelihara pengelola masjid kehilangan kotak amal.
Sementara di lain hal minim perhatian dari Pemkab Gresik. Terbukti sejak tahun 2005 pihaknya mengusulkan untuk mengalokasikan anggaran perawatan situs hingga menyediakan air bersih untuk keperluan mandi cuci kakus (MCK), usulan itu direspons tapi tidak ada realisasi.
Lelaki yang menjadi juru kunci sejak tahun 1987 yang mewarisi profesi ini dari orangtuanya mengatakan, kegiatan pelestarian dan konservasi situs Giri Kedaton tahap satu dilakukan pada tahun 2002 kemudian dilanjutkan tahap kedua 2005. Kegiatan ini dilakukan atas kerjasama Balai Penelitian dan Pelestarian Purbakala (BP3) Trowulan, Mojokerto, dan Dinas Kebudayaan Gresik.
Dalam kegiatan tersebut dilakukan pemetaan, ekskavasi, pengupasan tanah, studi kelayakan pugar bangunan punden berundak masa prasejarah dan bangunan candi Hindu Budha di Indonesia.
Sempat dulu Pemkab Gresik berencana memperluas areal lahan situs Giri Kedaton, namun upaya itu terkendala pembebasan lahan milik warga, baru 625 meter yang sudah dibebaskan. Perluasan lahan itu bertujuan untuk menata kembali banyaknya pepohonan bambu milik warga yang menutupi petilasan Giri Kedaton.
Selama Ramadan tidak ada aktivitas yang ada di masjid Sunan Giri Kedaton, baik salat tarawih maupun tadarus, berbeda dengan masjid dan musala pada umumnya yang ramai dengan aktivitas peribadatan. Warga sekitar enggan menggunakan masjid ini sebagai tempat peribadatan, karena letaknya yang berada jauh di atas bukit.
Ketua Dewan Kesenian Kabupaten Gresik, Kris Aji menilai, selama ini Pemkab Gresik dalam membangun dan merenovasi situs sejarah tanpa melihat sejarah awalnya, sehingga bukannya memelihara justru merusak keaslian situs.
Menurut dia, hal itu kerap kali dilakukan oleh pemkab dengan berangkat dari pengetahuan sejarah yang minim dan tanpa melibatkan para pemerhati sejarah di Gresik tiba-tiba merenovasi situs, seperti Situs Giri Kedaton yang dibangun musala di atas bukit.
Padahal, menurut sejarah bangunan musala yang dulunya menjadi masjid pertama yang menjadi tempat syiar agama Islam oleh Sunan Giri itu dibangun di samping kiri Giri Kedaton, bukannya tepat di tengah bukit.
“Ini yang dikatakan merusak, apalagi bangunan Giri Kedaton terlihat tidak terawat, banyak batu bata dari punden berundak dibiarkan roboh berserakan,” katanya.
Selanjutnya ia mencontohkan bangunan pendopo Sunan Giri yang tidak dibangun berdasar sejarah yang ada, hanya dibuat dengan bentuk menyerupai joglo.
Ia juga menyayangkan mulai banyaknya ahli fungsi tanah situs makam bersejarah di Gresik yang banyak dikomersilkan, seperti banyaknya pendirian tower (menara) seluler di areal Makam Sunan Giri dan Putri Cempo.
Ini sangat menyalahi aturan, keberadaan situs yang mestinya bisa dipertahankan keasliannya, justru dikomersilkan, padahal banyak tempat lain di luar makam yang bisa menjadi tempat berdirinya menara.“Yang seperti ini pemkab kurang memperhatikan, hanya bisa memberikan izin tanpa melihat dasar pertimbangan tempat yang dipakai itu merupakan lahan Makam Sunan Giri yang dikeramatkan,” katanya menegaskan.
Kepala Dinas Pariwisata Gresik, Migfar Syukur beranggapan kewenangan memugar dan merawat situs makam di Gresik merupakan tanggungjawab BP3 Trowulan, dan tahun ini pemkab tidak menganggarkan perawatan untuk situs makam. Tapi semestinya, kata Kris Aji, pemkab selaku tuan rumah setidaknya memberikan saran dan masukan dengan melibatkan para sejarawan Gresik.
“Jangankan dilibatkan, membicarakan tentang seminar untuk mempertahankan situs sejarah di Gresik dengan para pemerhati budaya pun tidak pernah, padadal Gresik dikenal sebagai Kota Santri dan Kota Wali. Namun, pemerintahannya kurang peduli terhadap kelestarian situs makam,” katanya menanggapi pernyataan kadis pariwisata.
Ia sendiri menyesalkan minimnya komunikasi pemkab kepada para pemerhati sejarawan Gresik, sementara dewan kesenian dalam hal ini hanya bisa memberikan saran dan masukan, tinggal menunggu respon dan realisasi dari pemkab sendiri. ant
Senin, 18 Mei 2009
DAMARKURUNG SENI TRADISI MASYARAKAT
Damar Kurung Seni Tradisi Masyarakat Senin, 27 April 2009 10:42 WIB
MUNCULNYA fenomena “pembajakan” damar kurung yang akhirnya membuat keluarga masmundari berinisiatif mematenkan, disikapi reaksi Dewan Kesenian Gresik (DKG). Bahkan Ketua DKG, Kris Adji AW mengatakan, seni lukis damar kurung adalah seni tradisi masyarakat Gresik, sehingga keluarga Masmundari tidak mempunyai hak sepenuhnya mematenkan atas nama pribadi.
MUNCULNYA fenomena “pembajakan” damar kurung yang akhirnya membuat keluarga masmundari berinisiatif mematenkan, disikapi reaksi Dewan Kesenian Gresik (DKG). Bahkan Ketua DKG, Kris Adji AW mengatakan, seni lukis damar kurung adalah seni tradisi masyarakat Gresik, sehingga keluarga Masmundari tidak mempunyai hak sepenuhnya mematenkan atas nama pribadi.
Sabtu, 28 Maret 2009
DKJT dan FASILITAS BUDAYA
Senin, 10 Maret 2003
Dewan Kesenian Jatim dan Fasilitas Kebudayaan
KARENA Gubernur Jawa Timur (Jatim) Imam Utomo sendiri yang melantik, maka secara moral gubernur harus mengakui keberadaan Dewan Kesenian Jatim sebagai institusi sah pemangku kebudayaan. Sama sahnya dengan institusi bisnis, institusi olahraga, dan sebagainya.
Kebudayaan mestinya ditempatkan oleh negara sebagai faktor paling penting dalam kehidupan bernegara. Karena semua bangsa yang beradab pasti menganggap kebudayaan adalah roh suatu bangsa.
Bahkan, dalam sejarah terlihat bahwa bangsa-bangsa kuno pun menempatkan kebudayaan sedemikian tinggi. Ini terlihat dari peninggalan-peninggalan kebudayaan yang spektakuler, seperti candi-candi suku Aztec, Inka, dan Maya di Amerika, sphinx dan piramid di Mesir, dan sangat banyak lagi.
Mestinya, kalau Pemerintah Indonesia menjalankan UUD 1945 dengan benar, pasti juga akan melakukan hal yang seperti itu. Karena, dalam UUD 1945 Pasal 32 disebutkan bahwa pemerintah wajib memajukan kebudayaan nasional Indonesia.
Pengertian wajib memajukan mestinya berkonotasi mengutamakan, dan bukan hanya menempatkan kebudayaan sebagai "pelengkap saja" atau "asal ada saja". Kalau kita perbandingkan antara Indonesia dengan Malaysia-tak perlu membandingkan dengan Perancis atau Amerika Serikat-Indonesia kalah jauh dengan upaya Malaysia memajukan kebudayaan. Padahal, kebudayaan Indonesia sudah lama maju dan tingkat kecanggihan yang tinggi dibanding bangsa lain, termasuk sesama puak Melayu di Malaysia.
Jangankan naskah Desawarnana (Negarakertagama) yang notabene ditulis oleh orang dalam Majapahit sendiri, sedangkan naskah Sejarah Raja-raja Melayu karya pujangga Melayu Semenanjung, maupun Hikayat Banjar yang ditulis oleh pujangga Banjar, Kalimantan, pun memuji sungguh-sungguh bahwa kebudayaan Majapahit (kini boleh disebut sebagai pilar utama kebudayaan Jawa dan Indonesia), merupakan kebudayaan yang canggih.
Dalam semua kitab kuno itu tergambarkan, semua raja-raja atau pangeran dari Nusantara ataupun luar Nusantara, menimba ilmu pemerintahan dan kebudayaan dari Majapahit. Ilmu tata pemerintahan Majapahit yang dijadikan pedoman tata pemerintahan raja-raja Nusantara itu telah dikaji mendalam oleh budayawan Indonesia Mr Mohamad Yamin, dan kemudian ditulisnya dalam sebuah buku yang banyak dijadikan rujukan oleh ilmuwan Nusantara.
Setelah Mataram berdiri, unsur-unsur budaya Majapahit itu dipercanggih oleh Mataram dengan mengambil unsur Islam dari keraton Demak yang ditundukkannya, lalu disenyawakan dengan unsur Hindu warisan Majapahit.
Kebudayaan campuran itu, yang kemudian disebut Kejawen menjadi unsur penting yang menjadikan kebudayaan Jawa begitu rumit dan canggih, yang kemudian kelihatan paling menonjol dibanding kebudayaan daerah lain di Indonesia ketika Republik Indonesia didirikan oleh orang-orang Jawa dan etnis lain Indonesia.
KEBUDAYAAN Jawa Kejawen itu oleh seorang budayawan Malaysia, SM Zakir, dinilai sebagai salah satu warisan kebudayaan agung dunia, sejajar dengan kebudayaan Yunani. Ketika Indonesia semakin kokoh di bawah pemerintahan yang kuat (meskipun korup luar biasa), modernisasi juga merasuki semua unsur kebudayaan, terutama disusupkan oleh seniman-seniman intelektual.
Maka, lihatlah kebudayaan Indonesia modern dianggap berkembang luar biasa ketika Jakarta di tahun 1970-an disubsidi oleh Gubernur Ali Sadikin dengan berbagai fasilitas kebudayaan dan uang yang luar biasa banyaknya. Dan, karena Jakarta yang antara lain dimotori oleh DKJ (Dewan Kesenian Jakarta) dan intelektual di Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (Depdikbud) juga merangkul kebudayaan daerah (meski cuma sekadarnya). Namun, kebudayaan daerah pun kemudian berkembang dengan modernisasi yang lumayan.
Akan tetapi, semenjak Ali Sadikin dipecat Soeharto, dan tak ada lagi pejabat yang memperhatikan kebudayaan Indonesia, maka lambat laun bangsa lain, terutama dalam bahasan ini ialah Malaysia dan Singapura, mulai menyalip Indonesia. Misalnya, Malaysia sejak Mahathir Mohammad terpilih menjadi perdana menteri di akhir tahun 1970-an, yang dicanangkannya adalah "Ekonomi Baru Malaysia". Namun, dalam program ekonomi baru itu termasuk pula memajukan kebudayaan.
Oleh karena itulah, di samping memajukan ekonomi Malaysia yang bercirikan: "menomorsatukan hak-hak rakyat pribumi", Malaysia juga mengguyur kegiatan pendidikan dan kebudayaan dengan dana yang luar biasa besarnya. Termasuk mengirim sebanyak-banyaknya mahasiswanya dengan beasiswa dari pemerintah untuk belajar ke luar negeri (termasuk ke Indonesia), dan pembangunan infrastruktur kesenian dan kebudayaan luar biasa banyaknya, bahkan boleh dikata berlebihan.
Saya ambil contoh, jika Pemerintah DKI Jakarta memberi dana untuk DKJ sekitar Rp 2 milyar setahun untuk seluruh komite, Pemerintah Malaysia memberi dana rutin Rp 7 milyar setahun (berdasar buku laporan Gapena tahun 1999 dan kini mungkin sudah diperbesar lagi) kepada lembaga swadaya masyarakat (LSM) pelat merah yang hanya mengurusi sastra tok yang bernama Gabungan Persatuan Penulis Nasional Malaysia (Gapena).
Itu belum termasuk fasilitas gedung yang amat sangat representatif, plus 50 ekar (hektar atau acre?) tanah di daerah Sungai Tekali, Ulu Langat, pinggiran Kuala Lumpur yang boleh disewakan dan hasil sewanya boleh dipakai untuk kegiatan Gapena.
Di samping itu, pemerintah juga menghibahkan 14 unit kilang industri kecil di Bukit Serdang, juga di pinggiran Kuala Lumpur yang ongkos sewanya masuk ke kantung Gapena sebagai dana abadi.
Itu pun masih ditambah dengan berbagai proyek pemerintah yang diorderkan kepada Gapena, plus berbagai sumbangan dari lembaga bisnis, misalnya, bank, perusahaan minyak, dan sebagainya, yang seakan berlomba memberi sponsor kepada Gapena. Gapena juga mempunyai saham di beberapa bank, dan sejak tahun 1999 mendirikan perusahaan Gapeniaga dan Akademi Gapena.
Sudah begitu, Gapena masih berani mengkritisi kebijakan-kebijakan Pemerintah Malaysia yang dipandang merugikan pembangunan kebudayaan Malaysia, terutama kebudayaan Melayu.
KINI kita lihat di Surabaya, Kantor Dewan Kesenian Jatim masih nebeng di Kompleks Taman Budaya Jawa Timur (TBJT). Itu pun konon TBJT-nya akan dijual ke tauke yang ingin mendirikan kompleks bisnis.
Apakah semua dewan kesenian di Indonesia ditelantarkan oleh pemerintah yang lebih tertarik mengurusi bisnis dan intrik politik dan anti-kebudayaan, seakan-akan manusia itu hanya butuh makan persis seperti binatang dan tidak butuh kebudayaan? Hal itu adalah tergantung kesadaran gubernurnya.
Memang, umumnya dewan kesenian di Indonesia ditelantarkan, tetapi di Riau, Lampung, Medan, Samarinda, dan Pontianak, dewan kesenian mendapat perhatian dan guyuran dana dari pemerintahnya. Bahkan, Riau yang paling fantastis dalam hal dana dan fasilitas, mungkin karena mereka mencontoh tetangga dekat mereka, Malaysia dan Singapura.
Di samping itu, karena seniman-seniman Riau memang bergaul sangat dekat dengan gubernur dan para pejabat Riau serta kaum bisnis dan industriwan di sana. Bahkan, beberapa pejabat Riau dan pengusaha Riau berasal dari kalangan seniman, persis seperti di Malaysia.
Di Riau hanya menjadi seniman total saja seseorang sudah bisa hidup, padahal taraf hidup dan harga-harga di Riau sangat mahal, karena proyek seni diadakan bukan hanya tiap minggu, namun hampir setiap hari. Sedangkan event seni yang sangat besar diadakan hampir setiap bulan, yang bahkan mengundang seniman dari Malaysia, Singapura, Brunei, dan Thailand.
Maka, tantangan para pengurus Dewan Kesenian Jatim kini adalah mendekati gubernur dan pengusaha, dan meyakinkan kepada mereka bahwa manusia itu tidak sama dengan binatang. Yang membedakan manusia dengan binatang adalah faktor kebudayaan, faktor lainnya sama saja.
VIDDY AD DAERY, penyair, novelis, dan penulis kolom
Dewan Kesenian Jatim dan Fasilitas Kebudayaan
KARENA Gubernur Jawa Timur (Jatim) Imam Utomo sendiri yang melantik, maka secara moral gubernur harus mengakui keberadaan Dewan Kesenian Jatim sebagai institusi sah pemangku kebudayaan. Sama sahnya dengan institusi bisnis, institusi olahraga, dan sebagainya.
Kebudayaan mestinya ditempatkan oleh negara sebagai faktor paling penting dalam kehidupan bernegara. Karena semua bangsa yang beradab pasti menganggap kebudayaan adalah roh suatu bangsa.
Bahkan, dalam sejarah terlihat bahwa bangsa-bangsa kuno pun menempatkan kebudayaan sedemikian tinggi. Ini terlihat dari peninggalan-peninggalan kebudayaan yang spektakuler, seperti candi-candi suku Aztec, Inka, dan Maya di Amerika, sphinx dan piramid di Mesir, dan sangat banyak lagi.
Mestinya, kalau Pemerintah Indonesia menjalankan UUD 1945 dengan benar, pasti juga akan melakukan hal yang seperti itu. Karena, dalam UUD 1945 Pasal 32 disebutkan bahwa pemerintah wajib memajukan kebudayaan nasional Indonesia.
Pengertian wajib memajukan mestinya berkonotasi mengutamakan, dan bukan hanya menempatkan kebudayaan sebagai "pelengkap saja" atau "asal ada saja". Kalau kita perbandingkan antara Indonesia dengan Malaysia-tak perlu membandingkan dengan Perancis atau Amerika Serikat-Indonesia kalah jauh dengan upaya Malaysia memajukan kebudayaan. Padahal, kebudayaan Indonesia sudah lama maju dan tingkat kecanggihan yang tinggi dibanding bangsa lain, termasuk sesama puak Melayu di Malaysia.
Jangankan naskah Desawarnana (Negarakertagama) yang notabene ditulis oleh orang dalam Majapahit sendiri, sedangkan naskah Sejarah Raja-raja Melayu karya pujangga Melayu Semenanjung, maupun Hikayat Banjar yang ditulis oleh pujangga Banjar, Kalimantan, pun memuji sungguh-sungguh bahwa kebudayaan Majapahit (kini boleh disebut sebagai pilar utama kebudayaan Jawa dan Indonesia), merupakan kebudayaan yang canggih.
Dalam semua kitab kuno itu tergambarkan, semua raja-raja atau pangeran dari Nusantara ataupun luar Nusantara, menimba ilmu pemerintahan dan kebudayaan dari Majapahit. Ilmu tata pemerintahan Majapahit yang dijadikan pedoman tata pemerintahan raja-raja Nusantara itu telah dikaji mendalam oleh budayawan Indonesia Mr Mohamad Yamin, dan kemudian ditulisnya dalam sebuah buku yang banyak dijadikan rujukan oleh ilmuwan Nusantara.
Setelah Mataram berdiri, unsur-unsur budaya Majapahit itu dipercanggih oleh Mataram dengan mengambil unsur Islam dari keraton Demak yang ditundukkannya, lalu disenyawakan dengan unsur Hindu warisan Majapahit.
Kebudayaan campuran itu, yang kemudian disebut Kejawen menjadi unsur penting yang menjadikan kebudayaan Jawa begitu rumit dan canggih, yang kemudian kelihatan paling menonjol dibanding kebudayaan daerah lain di Indonesia ketika Republik Indonesia didirikan oleh orang-orang Jawa dan etnis lain Indonesia.
KEBUDAYAAN Jawa Kejawen itu oleh seorang budayawan Malaysia, SM Zakir, dinilai sebagai salah satu warisan kebudayaan agung dunia, sejajar dengan kebudayaan Yunani. Ketika Indonesia semakin kokoh di bawah pemerintahan yang kuat (meskipun korup luar biasa), modernisasi juga merasuki semua unsur kebudayaan, terutama disusupkan oleh seniman-seniman intelektual.
Maka, lihatlah kebudayaan Indonesia modern dianggap berkembang luar biasa ketika Jakarta di tahun 1970-an disubsidi oleh Gubernur Ali Sadikin dengan berbagai fasilitas kebudayaan dan uang yang luar biasa banyaknya. Dan, karena Jakarta yang antara lain dimotori oleh DKJ (Dewan Kesenian Jakarta) dan intelektual di Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (Depdikbud) juga merangkul kebudayaan daerah (meski cuma sekadarnya). Namun, kebudayaan daerah pun kemudian berkembang dengan modernisasi yang lumayan.
Akan tetapi, semenjak Ali Sadikin dipecat Soeharto, dan tak ada lagi pejabat yang memperhatikan kebudayaan Indonesia, maka lambat laun bangsa lain, terutama dalam bahasan ini ialah Malaysia dan Singapura, mulai menyalip Indonesia. Misalnya, Malaysia sejak Mahathir Mohammad terpilih menjadi perdana menteri di akhir tahun 1970-an, yang dicanangkannya adalah "Ekonomi Baru Malaysia". Namun, dalam program ekonomi baru itu termasuk pula memajukan kebudayaan.
Oleh karena itulah, di samping memajukan ekonomi Malaysia yang bercirikan: "menomorsatukan hak-hak rakyat pribumi", Malaysia juga mengguyur kegiatan pendidikan dan kebudayaan dengan dana yang luar biasa besarnya. Termasuk mengirim sebanyak-banyaknya mahasiswanya dengan beasiswa dari pemerintah untuk belajar ke luar negeri (termasuk ke Indonesia), dan pembangunan infrastruktur kesenian dan kebudayaan luar biasa banyaknya, bahkan boleh dikata berlebihan.
Saya ambil contoh, jika Pemerintah DKI Jakarta memberi dana untuk DKJ sekitar Rp 2 milyar setahun untuk seluruh komite, Pemerintah Malaysia memberi dana rutin Rp 7 milyar setahun (berdasar buku laporan Gapena tahun 1999 dan kini mungkin sudah diperbesar lagi) kepada lembaga swadaya masyarakat (LSM) pelat merah yang hanya mengurusi sastra tok yang bernama Gabungan Persatuan Penulis Nasional Malaysia (Gapena).
Itu belum termasuk fasilitas gedung yang amat sangat representatif, plus 50 ekar (hektar atau acre?) tanah di daerah Sungai Tekali, Ulu Langat, pinggiran Kuala Lumpur yang boleh disewakan dan hasil sewanya boleh dipakai untuk kegiatan Gapena.
Di samping itu, pemerintah juga menghibahkan 14 unit kilang industri kecil di Bukit Serdang, juga di pinggiran Kuala Lumpur yang ongkos sewanya masuk ke kantung Gapena sebagai dana abadi.
Itu pun masih ditambah dengan berbagai proyek pemerintah yang diorderkan kepada Gapena, plus berbagai sumbangan dari lembaga bisnis, misalnya, bank, perusahaan minyak, dan sebagainya, yang seakan berlomba memberi sponsor kepada Gapena. Gapena juga mempunyai saham di beberapa bank, dan sejak tahun 1999 mendirikan perusahaan Gapeniaga dan Akademi Gapena.
Sudah begitu, Gapena masih berani mengkritisi kebijakan-kebijakan Pemerintah Malaysia yang dipandang merugikan pembangunan kebudayaan Malaysia, terutama kebudayaan Melayu.
KINI kita lihat di Surabaya, Kantor Dewan Kesenian Jatim masih nebeng di Kompleks Taman Budaya Jawa Timur (TBJT). Itu pun konon TBJT-nya akan dijual ke tauke yang ingin mendirikan kompleks bisnis.
Apakah semua dewan kesenian di Indonesia ditelantarkan oleh pemerintah yang lebih tertarik mengurusi bisnis dan intrik politik dan anti-kebudayaan, seakan-akan manusia itu hanya butuh makan persis seperti binatang dan tidak butuh kebudayaan? Hal itu adalah tergantung kesadaran gubernurnya.
Memang, umumnya dewan kesenian di Indonesia ditelantarkan, tetapi di Riau, Lampung, Medan, Samarinda, dan Pontianak, dewan kesenian mendapat perhatian dan guyuran dana dari pemerintahnya. Bahkan, Riau yang paling fantastis dalam hal dana dan fasilitas, mungkin karena mereka mencontoh tetangga dekat mereka, Malaysia dan Singapura.
Di samping itu, karena seniman-seniman Riau memang bergaul sangat dekat dengan gubernur dan para pejabat Riau serta kaum bisnis dan industriwan di sana. Bahkan, beberapa pejabat Riau dan pengusaha Riau berasal dari kalangan seniman, persis seperti di Malaysia.
Di Riau hanya menjadi seniman total saja seseorang sudah bisa hidup, padahal taraf hidup dan harga-harga di Riau sangat mahal, karena proyek seni diadakan bukan hanya tiap minggu, namun hampir setiap hari. Sedangkan event seni yang sangat besar diadakan hampir setiap bulan, yang bahkan mengundang seniman dari Malaysia, Singapura, Brunei, dan Thailand.
Maka, tantangan para pengurus Dewan Kesenian Jatim kini adalah mendekati gubernur dan pengusaha, dan meyakinkan kepada mereka bahwa manusia itu tidak sama dengan binatang. Yang membedakan manusia dengan binatang adalah faktor kebudayaan, faktor lainnya sama saja.
VIDDY AD DAERY, penyair, novelis, dan penulis kolom
Senin, 12 Januari 2009
PAMERAN TUNGGAL KRIS ADJI AW
RADAR GRESIK
Senin, 12 Jan 2009
Kamis, 16 Nov 2006 Pameran Tunggal Tiga Kota Pelukis Kris Adji A.W.
Nelangsa Hidup di Negeri Koruptor Pelukis Gresik Kris Adji kembali menggelar pameran tunggal di gedung Dewan Kesenian Surabaya (DKS). Pameran kali ketiga ini akan diadakan sepekan, 20-26 November mendatang.
Apa yang berbeda?
CHUSNUL CAHYADI, Gresik,KOMUNITAS seni di Kota Industri Gresik,
maupun metropolis sudah tidak asing dengan pelukis Kris Adji A.W. Lulusan IKIP Surabaya itu sudah malang melintang di dunia corat-coret di kanvas sejak 1977. Saat itu dia masih duduk di sekolah menengah atas (SMA). Rentang waktu puluhan tahun menjadikan guru kesenian di SMA Nahdlatul Ulama 1 (NUSA) Gresik itu semakin matang. Ayah 3 anak tersebut mulai menemukan jati diri dalam aliran lukis ekspresif surealisme setelah sempat "mencicipi" aliran abstrak dan surealisme. "Setiap saya melukis, pasti berisi kritik sosial masyarakat," ujar Kris ketika ditemui di rumah, Jl Usman Sadar, Senin malam. Tak sekadar dituangkan dalam lukisan. Kritik digoreskan langsung ke kanvas pada setiap lukisan dengan kalimat-kalimat puitis. Kritik sosial yang diusung Ketua Bidang Pendidikan dan Pengembangan Dewan Kesenian Gresik (DKG) dalam pameran DKS, di antaranya tentang sosial-politik (koruptor dan kekuasaan). Misalnya, Tarian Koruptor ataupun Tarian Keranjang Kosong. Tarian Koruptor dituangkan dalam kanvas berukuran 70 x 90 sentimeter dengan cat akrilik. Karya tersebut bercerita tentang kekejaman seorang penguasa terhadap rakyatnya. Telinga buntu//hati membatu//mata ditutup tapi…//melihat//tangan di belakang//terima suap. "Begitulah kondisi pemimpin saat ini. Amanah yang dititipkan bukan untuk kepentingan rakyat. Justru untuk memperkaya diri sendiri," ungkap pria 45 tahun itu lirih.Lain lagi di lukisan Keranjang Kosong. Menurut Kris, lukisan ini diilhami perjuangan rakyat miskin untuk mendapatkan kehidupan. "Kerja sebagai pedagang kaki lima diobrak. Padahal, mereka sudah bersusah payah mencari sesuap nasi bagi keluarga. Namun, yang didapat hanya keranjang kosong," tandas pendiri Sanggar Lentera Gresik, 26 tahun silam ini.Di sisi bawah lukisan Keranjang Kosong tertulis Perut gema suara gong//anak melolong//suami kantong bolong//di puncak angin suara omong kosong//santunan pun dicolong/Merintih suara laut//wajah menjemput maut//dan keranjang tak pernah berisi//. Khusus pameran tunggal kali ketiga ini, Kris menamainya The Dance in Trance (Tarian Jiwa). Sebuah kegalauan akan kondisi sosial-politik negeri yang carut marut dituangkan dalam sebuah kanvas. Dalam pameran di Galeri Kesenian DKS itu Kris hanya membawa 15-18 lukisan. "Sebenarnya saya ingin membawa lukisan lebih banyak. Namun, kapasitas DKS tidak bisa menampung begitu banyak lukisan. Kalau tidak salah, daya tampung maksimal 18 lukisan," ujarnya. Pameran itu merupakan rangkaian dari road show Kris Adji di dua kota lain. Bandung pada Januari dan pameran di Gresik akan dihelat Maret tahun depan. (*)
Senin, 12 Jan 2009
Kamis, 16 Nov 2006 Pameran Tunggal Tiga Kota Pelukis Kris Adji A.W.
Nelangsa Hidup di Negeri Koruptor Pelukis Gresik Kris Adji kembali menggelar pameran tunggal di gedung Dewan Kesenian Surabaya (DKS). Pameran kali ketiga ini akan diadakan sepekan, 20-26 November mendatang.
Apa yang berbeda?
CHUSNUL CAHYADI, Gresik,KOMUNITAS seni di Kota Industri Gresik,
maupun metropolis sudah tidak asing dengan pelukis Kris Adji A.W. Lulusan IKIP Surabaya itu sudah malang melintang di dunia corat-coret di kanvas sejak 1977. Saat itu dia masih duduk di sekolah menengah atas (SMA). Rentang waktu puluhan tahun menjadikan guru kesenian di SMA Nahdlatul Ulama 1 (NUSA) Gresik itu semakin matang. Ayah 3 anak tersebut mulai menemukan jati diri dalam aliran lukis ekspresif surealisme setelah sempat "mencicipi" aliran abstrak dan surealisme. "Setiap saya melukis, pasti berisi kritik sosial masyarakat," ujar Kris ketika ditemui di rumah, Jl Usman Sadar, Senin malam. Tak sekadar dituangkan dalam lukisan. Kritik digoreskan langsung ke kanvas pada setiap lukisan dengan kalimat-kalimat puitis. Kritik sosial yang diusung Ketua Bidang Pendidikan dan Pengembangan Dewan Kesenian Gresik (DKG) dalam pameran DKS, di antaranya tentang sosial-politik (koruptor dan kekuasaan). Misalnya, Tarian Koruptor ataupun Tarian Keranjang Kosong. Tarian Koruptor dituangkan dalam kanvas berukuran 70 x 90 sentimeter dengan cat akrilik. Karya tersebut bercerita tentang kekejaman seorang penguasa terhadap rakyatnya. Telinga buntu//hati membatu//mata ditutup tapi…//melihat//tangan di belakang//terima suap. "Begitulah kondisi pemimpin saat ini. Amanah yang dititipkan bukan untuk kepentingan rakyat. Justru untuk memperkaya diri sendiri," ungkap pria 45 tahun itu lirih.Lain lagi di lukisan Keranjang Kosong. Menurut Kris, lukisan ini diilhami perjuangan rakyat miskin untuk mendapatkan kehidupan. "Kerja sebagai pedagang kaki lima diobrak. Padahal, mereka sudah bersusah payah mencari sesuap nasi bagi keluarga. Namun, yang didapat hanya keranjang kosong," tandas pendiri Sanggar Lentera Gresik, 26 tahun silam ini.Di sisi bawah lukisan Keranjang Kosong tertulis Perut gema suara gong//anak melolong//suami kantong bolong//di puncak angin suara omong kosong//santunan pun dicolong/Merintih suara laut//wajah menjemput maut//dan keranjang tak pernah berisi//. Khusus pameran tunggal kali ketiga ini, Kris menamainya The Dance in Trance (Tarian Jiwa). Sebuah kegalauan akan kondisi sosial-politik negeri yang carut marut dituangkan dalam sebuah kanvas. Dalam pameran di Galeri Kesenian DKS itu Kris hanya membawa 15-18 lukisan. "Sebenarnya saya ingin membawa lukisan lebih banyak. Namun, kapasitas DKS tidak bisa menampung begitu banyak lukisan. Kalau tidak salah, daya tampung maksimal 18 lukisan," ujarnya. Pameran itu merupakan rangkaian dari road show Kris Adji di dua kota lain. Bandung pada Januari dan pameran di Gresik akan dihelat Maret tahun depan. (*)
Selasa, 16 Desember 2008
GRESIK ART
Social Criticism on Kris Adji Art Painting (2006-05-18 09:30:55)
Talking about Gresik, most people will directly know it as Industrial city, but only some people know that .....
Gresik also has some painting artists such as Wahyudi and Kris Adji A.W. Kris Adji A.W is Gresik native and has already painted since 1980. He has held many art
exibitions, sometimes, he held it by him self or with other artists. He is the only artist from Gresik who has chance to follow National Painting Art Jamboree next July where he will exhibit his two newest art painting as every artist only allowed to exhibit two art painting but he
will exhibit his 30 paintings at Surabaya Art Council on November. Most of his painting are expressive Surrealism paintings which symbolic the social life, such as on Black and White Dancing, Mother's love and Javanese Dance paintings.
*admin
Talking about Gresik, most people will directly know it as Industrial city, but only some people know that .....
Gresik also has some painting artists such as Wahyudi and Kris Adji A.W. Kris Adji A.W is Gresik native and has already painted since 1980. He has held many art
exibitions, sometimes, he held it by him self or with other artists. He is the only artist from Gresik who has chance to follow National Painting Art Jamboree next July where he will exhibit his two newest art painting as every artist only allowed to exhibit two art painting but he
will exhibit his 30 paintings at Surabaya Art Council on November. Most of his painting are expressive Surrealism paintings which symbolic the social life, such as on Black and White Dancing, Mother's love and Javanese Dance paintings.
*admin
Langganan:
Postingan (Atom)

