Status sosial yang hanya pelukis menjadikan Kris Adji AW tak mampu menyuarakan kegelisahannya tentang korupsi lewat action. Jadilah pergulatannya itu tertuang dalam kanvas.
AKHIR November nanti, Kris Adji AW, pelukis Gresik, berpameran tunggal di tiga kota, Surabaya, Bandung dan Gresik. Karya yang dipamerkan nanti lebih banyak bernuansa kritik tentang menjamurnya korupsi.
SINDO, kemarin malam, bertandang kerumah pelukis hitam putih ini. Rumah Kris di Jln. Usman Sadar, kelurahan Sukorame, Kec. Gresik, ini tak ubahnya galeri. Hamper disetiap sudut ruang, dipenuhi lukisan berbagai ukuran. Di dinding tengah tepampang dua lukisan, yang satu seorang perempuan membawa keranjang, disampingnya kaligrafi ayat kursi.
Tembok paling kanan bertumpuk-tumpuk kanvas yang sudah rampung “digarap”. Lukisan Kris didominasi warna hitam putih dengan tampilan sesosok yang beramput panjang dengan nerbagai pose. Setidaknya ada empat pose yang terlihat menonjol;. Berdiri paling dalam dekat pintu ruang tengah, lukisan seseorang berambut panjang menggerakkan badan dan tangannya dengan diikuti angin. Seolah sosok lukisan itu melakukan gerakan jurus silat Cina, Tai Chi.
Disampingnya, terlihat sosok manusia dengan mata tertutup dan tangan diletakkan didahi. Kris pun menyebutnya sebagai tarian koruptor. Agak kedepan, lagi-lagi sosok yang sama, bedanya dia menggendong kursi yang disebut Kris sebagai seseorang yang takut kehilangan kekuasaannya.
“Inilah lukisan-lukisan yang akan saya pamerkan. Didominasi tarian yang merupakan ungkapan akumulasi kegelisahan. Makanya saya mengambil tema The Dance In Trance, yang kurang lebih makna harfiahnya tarian kegelisahan,“ terang Kris yang alumnus seni IKIP Surabaya (kini UNESA) itu.
Masih banyak karya lain yang bakal dipamerkan di Galeri Surabaya Jln. Pemuda. Ada Negeriku Bokong yang diilhami polemic pro kontra pornoaksi dan pornografi. Ada Kasih Ibu, dan Suara Merekapun Sama yang menggambarkan penderitaan korban Tsunami Aceh.
Lukisan itu menonjolkan warna hitam dan putih. Sosoknya juga sama, seseorang yang rambut panjang dengan bertelanjang dada. Namun, banyak dinilai kaya akan tema.
Menurut HU Mardiluhung, koleganya yang penyair ini, bagi orang tidak kenal Kris maka lukisan Kris akan dinilai sebagai lukisan orang yang masih belajar. Sebab disitu terlihat bagaimana goresannya memperlihatkan keluguannya.
“Lukisannya berubah-ubah. Dia mencari jati dirinya. Awalnya dia melukis gaya realis, kemudian abstrak, terus lukisan fantasi. Namun sekarang lebih keekspresif dengan kritik social yang tajam,” terangnya.
Diakui atau tidak, lukisan-lukisan tersebut memang merupakan ekspresi bagaimana pria kelahiran Gresik 1961 itu gelisah akan jatidirinya. Sementara lingkungan dia tempat bergaul begitu antusiasnya bercerita tentang kemapanan dibidang politik. Kris pun mengakuinya.
Untuk membuat lukisan-lukisan berbau kritik itu, Kris mengaku perlu perenungan yang panjang. Terkadang perenungan itu merupakan kelanjutan dari perenungan masa lalunya. Kemudian disatukan dengan yang dialami saat ini.
“ Lukisan Tarian Koruptor saat itu terinspirasi ketika saya melihat orang-orang sekitar yang terus mendengungkan anti korupsi, namun ternyata dia (pelaku yang dilukis) seorang koruptor. Bahkan, sekarang pun pemberantasan korupsi hanya sekedar lipstick saja,” katanya.
Ashadi IK, dilahirkan di desa Wadak Kidul Kecamatan Duduk Sampeyan Gresik. Alumni UNMUH Gresik, sebagai jurnalis pernah bekerja di Harian Surabaya Post & Nusa Bali dan sekarang di Harian SINDO
(Tulisan ini pernah dimuat di Harian SINDO, 15 November 2006)
Rabu, 06 Januari 2010
Ashadi IK : SINDIR INDONESIA LEWAT JELANGKUNG MAIN BOLA (SMA Nusa Gresik merekrontruksi Imajinasi Dalam Seni Instalasi)
Dalam tiga hari, 18 ruang SMA Nahdlatul Ulama 1 (SMA Nusa) disulap menjadi seni intalasi kelas oleh siswanya. Peristiwa tersebut kedua di Gresik, setelah tahun 1999, instalator Syaiful Hadjar menutup kampus Universitas Muhammadiyah Gresik (UMG) bertema kekerasan TNI di Aceh.
Lampu remang-remang, serakan daun di lantai dan kain warna gelap mewarnai dekorasinya di setiap ruang. Semakin menarik tatkala lukisan dan aneka souvenir karya siswa selama setahun dipajang di antara instalasi tersebut.
Upaya merekonstruksi hasil imaji siswa-siswa SMA Nusa menjadi realitas dalam ruang publik cukup menarik disimak. Selain mengisi waktu luang menjelang liburan dan merupakan realisasi pendidikan berbasis kompetensi, ternyata karya instalasi yang disebut oleh Kris Adji AW, sang kreator sekaligus guru, sebagai instalasi kelas untuk mencari bibit peseniman muda.
Meski hasilnya jauh dari harapan, namun karya-karya tersebut dapat dinilai luar biasa, setidaknya untuk pemula. “Lumayanlah untuk karya pemula,” ujar HU Mardiluhung, budayawan Gresik yang juga guru seni SMA Nusa.
Ada kapal Titanic di ruang Kelas 10 H. Miniatur kapal pesiar yang tenggelam di Samudra Atlantik tersebut terbuat dari stik es krim. Beda lagi di Kelas 10 B, demam piala dunia Jerman lebih terasa. Pintu masuk kelas ditempel bendera Jerman, Korsel dan Tunisa. Teks-teks visual, poster dan pernak pernik sepak bola ditempel secara acak di ruang, menandakan bila kreatornya juga penggemar bola. Ruang Kelas 11 A-4 lain lagi. Ruang yang berada di lantai II itu disulap menjadi miniatur ruang hantu dengan jelangkung sebagai menu utama dan tengkorak kepala ditempelkan di tembok. Hanya nilai mistisnya menjadi hilang, karena jelangkung tersebut diberi kostum tim sepakbola. Ada yang berkostum Juventus (tim anggota Seri A Liga Italia), Jerman, Tim Orange Belanda dan juga Inter Milan (tim anggota Seri A Liga Italia). Jumlahnya pun sama dengan tim sepak bola yaitu sebelas. “Sengaja kami memasang jelangkung itu dengan jumlah sebelas, karena kami ibaratkan jelangkung main bola,” tutur Kris.
Lantas apa maknanya? Menurut dia, miniatur itu sebagia sebuah sindiran Indonesia. Indonesia ini penduduknya
banyak, tapi membentuk kesebelasan saja sulitnya bukan kepalang. “Sulitnya sama dengan Indonesia menjadi peserta piala dunia. Dan selamanya hanya angan-angan,” kata Kris sambil menggeleng-gelengkan kepala.
Diakui, tema maupun makna dari karya yang ditampilkan siswanya belumnya terlihat. Mengingat, seni adalah sebuah kebiasaan. Karena itu dengan membiasakan siswa-siswa SMA Nusa dan SMA lain di Gresik mengenal seni tata ruang, display dan seni instalasi tersebut berharap dapat menelurkan peseniman baru.
Kami juga pernah membuat seni mural. Sekarang seni instalasi kelas dan tidak menutup kami akan membiasakan siswa-siswa mengenali ragam seni yang lain,” bebernya.
Ketua Bidang Seni OSIS SMA Nusa Gresik, Dicky Fadilah mengatakan, event tahunan itu bukan hanya konsumsi
internal. Tetapi, kalangan umum bisa dari SMA-SMA lain di Gresik dan juga komunitas pecinta seni Gresik dapat mengunjunginya.
“Sejak hari pertama banyak yang melihat. Ada dari SMA Negeri 1, SMA Semen Gresik dan lainya,” terang siswa
yang dibesarkan di Pongangan itu.
Ashadi IK, dilahirkan di desa Wadak Kidul Kecamatan Duduk Sampeyan Gresik. Alumni UNMUH Gresik, sebagai jurnalis pernah bekerja di Harian Surabaya Post & Nusa Bali dan sekarang di Harian SINDO
(Tulisan ini pernah dimuat di Harian SINDO, 29 Juni 2006)
Lampu remang-remang, serakan daun di lantai dan kain warna gelap mewarnai dekorasinya di setiap ruang. Semakin menarik tatkala lukisan dan aneka souvenir karya siswa selama setahun dipajang di antara instalasi tersebut.
Upaya merekonstruksi hasil imaji siswa-siswa SMA Nusa menjadi realitas dalam ruang publik cukup menarik disimak. Selain mengisi waktu luang menjelang liburan dan merupakan realisasi pendidikan berbasis kompetensi, ternyata karya instalasi yang disebut oleh Kris Adji AW, sang kreator sekaligus guru, sebagai instalasi kelas untuk mencari bibit peseniman muda.
Meski hasilnya jauh dari harapan, namun karya-karya tersebut dapat dinilai luar biasa, setidaknya untuk pemula. “Lumayanlah untuk karya pemula,” ujar HU Mardiluhung, budayawan Gresik yang juga guru seni SMA Nusa.
Ada kapal Titanic di ruang Kelas 10 H. Miniatur kapal pesiar yang tenggelam di Samudra Atlantik tersebut terbuat dari stik es krim. Beda lagi di Kelas 10 B, demam piala dunia Jerman lebih terasa. Pintu masuk kelas ditempel bendera Jerman, Korsel dan Tunisa. Teks-teks visual, poster dan pernak pernik sepak bola ditempel secara acak di ruang, menandakan bila kreatornya juga penggemar bola. Ruang Kelas 11 A-4 lain lagi. Ruang yang berada di lantai II itu disulap menjadi miniatur ruang hantu dengan jelangkung sebagai menu utama dan tengkorak kepala ditempelkan di tembok. Hanya nilai mistisnya menjadi hilang, karena jelangkung tersebut diberi kostum tim sepakbola. Ada yang berkostum Juventus (tim anggota Seri A Liga Italia), Jerman, Tim Orange Belanda dan juga Inter Milan (tim anggota Seri A Liga Italia). Jumlahnya pun sama dengan tim sepak bola yaitu sebelas. “Sengaja kami memasang jelangkung itu dengan jumlah sebelas, karena kami ibaratkan jelangkung main bola,” tutur Kris.
Lantas apa maknanya? Menurut dia, miniatur itu sebagia sebuah sindiran Indonesia. Indonesia ini penduduknya
banyak, tapi membentuk kesebelasan saja sulitnya bukan kepalang. “Sulitnya sama dengan Indonesia menjadi peserta piala dunia. Dan selamanya hanya angan-angan,” kata Kris sambil menggeleng-gelengkan kepala.
Diakui, tema maupun makna dari karya yang ditampilkan siswanya belumnya terlihat. Mengingat, seni adalah sebuah kebiasaan. Karena itu dengan membiasakan siswa-siswa SMA Nusa dan SMA lain di Gresik mengenal seni tata ruang, display dan seni instalasi tersebut berharap dapat menelurkan peseniman baru.
Kami juga pernah membuat seni mural. Sekarang seni instalasi kelas dan tidak menutup kami akan membiasakan siswa-siswa mengenali ragam seni yang lain,” bebernya.
Ketua Bidang Seni OSIS SMA Nusa Gresik, Dicky Fadilah mengatakan, event tahunan itu bukan hanya konsumsi
internal. Tetapi, kalangan umum bisa dari SMA-SMA lain di Gresik dan juga komunitas pecinta seni Gresik dapat mengunjunginya.
“Sejak hari pertama banyak yang melihat. Ada dari SMA Negeri 1, SMA Semen Gresik dan lainya,” terang siswa
yang dibesarkan di Pongangan itu.
Ashadi IK, dilahirkan di desa Wadak Kidul Kecamatan Duduk Sampeyan Gresik. Alumni UNMUH Gresik, sebagai jurnalis pernah bekerja di Harian Surabaya Post & Nusa Bali dan sekarang di Harian SINDO
(Tulisan ini pernah dimuat di Harian SINDO, 29 Juni 2006)
Musta’in : LUKISAN MURAL SISWA SMA NU I Bakal didaftarkan MURI
Layaknya pelukis sejati, sejumlah siswa SMA NU I Gresik terlihat tampak serius, saat menorehkan kuas di dinding ruang kelas sekolahnya. Sementara, sejumlah siswa lainnya, sedang sibuk mengaduk campuran cat tembok, di dinding pembatas halaman sekolah.
Tak jarang, sapuan kuas salah seorang siswa itu mengenai seragam temannya. Beberapa kelompok siswa lainnya, sedang menggambar sketsa di sudut-sudut tangga bangunan bertingkat tiga tersebut.
Itulah suasana yang terlihat beberapa hari terakhir, di SMA NU I Gresik, Jl. Raden
Santri Kecamatan Gresik. “Saya ingin melukiskan beragamnya karakter yang dimiliki manusia,” kata Nur Faizah, siswa kelas 2 yang melukis gambar manusia setengah abstrak, di depan ruang kelasnya, saat Surya melihat hasil lukisannya, Jumat (17/2) siang.
Siswa-siswa tersebut, sejak Senin (13/2) lalu, memang diminta oleh Kris Adji AW, guru seni rupa untuk melukis mural, seni lukis yang menggunakan tembok sebagai media lukisan. Setiap kelas, dibagi menjadi 6-9 kelompok. “Setiap anggota kelompok sebelumnya diminta membuat desain awal lukisan. Lukisan yang terbaik itulah yang bakal dilukis keroyokan,” imbuh Nur Faizah.
Sementara, hasil lukisan yang terbaik masih akan dipi lih lagi. “Lukisan yang paling baik akan dilukis ditembok halaman sekolah,” tambah Yedi Wahyudin, siswa kelas 2 lainnya.
Menurut Kris Adji AW, kegiatan tersebut merupakan tugas pelajaran seni rupa. “Selain itu, kami ingin menstimulasi siswa dengan kegiatan yang positif,” terang Kris Adji yang mengajar seni rupa di SMA NU I Gresik sejak 20 tahun silam.
Dipilihnya lukisan mural, karena selama ini, Kris melihat banyak tembok-tembok di sejumlah sudut kota Gresik terdapat coretan-coretan. Karena itu, Kris lalu meminta kepada siswa kelas 2 sebanyak 8 kelas untuk melukis mural. Namun tugas yang semula hanya untuk siswa kelas 2 itu akhirnya berkembang.
“Siswa kelas 1 dan 3 juga ingin melukis mural, sebab mereka juga ingin kelasnya tampil menawan dengan lukisan mural, “sambung Kris yang juga penggiat Dewan Kesenian Gresik ( DKG).
Maka melukis mural pun tak sekedar menjadi tugas seni rupa, namun kea rah persaingan antar kelas untuk saling menampilkan karya terbaiknya. “ Lihat saja sendiri mereka sangat antusias. Bahkan ada kelompok siswa yang tak puas dengan bahan cat tembok jatah sekolah, akhirnya mereka urunan membeli cat lagi,” tambah alumni Seni Rupa IKIP Surabaya ini dengan bangga.
Jika kegiatan ini berakhir, sebanyak 60 lukisan mural masing-masing berukuran 2x2 meter bakal dihasilkan 400 siswa tersebut. Rata-rata lukisan bercorak dekoratif, yang memadukan kombinasi bidang dan warna dengan nuansa hiasan. “ namun ada juga yang la in, misalnya lukisan kartun
ala Jepang,” cerita Kris Adji.
Satu lukisan, rata-rata diselesaikan minimal dua hari.” Sebab, siswa melukisnya di sela-sela pelajaran sekolah, “ kata Kris Adji.
Kegiatan ini, bagi Kris Adji, dianggap kegiatan lanhka di Indonesia. ”Saya masih belum mendengar , ada sekolah yang dihiasi dengan lukisan mural. Kalaupun ada, lukisan itu di garap oleh tukang. Namun, di SMA NU 1 Gresik, lukisan mural hasil karya semua siswanya,” imbuh Kris Adji.
Karena itu, Kris Adji berobsesi kegiatan ini bakal tercatat di Musium Rekor Indonesia (MURI). “ Kami bakal mendaftarkan kegiatan ini ke MURI,” pungkas Kris Adji AW.
Musta’in, lahir di Lamongan, 17 Oktober 1976. Lukisan SMA Assaadah Bungah ini tercatat sebagai mahasiswa semester akhir fakultas Psikologi UNMUH Gresik dan wartawan Harian SURYA.
(Tulisan ini pernah dimuat di Harian SURYA, 18 Februari 2006)
Tak jarang, sapuan kuas salah seorang siswa itu mengenai seragam temannya. Beberapa kelompok siswa lainnya, sedang menggambar sketsa di sudut-sudut tangga bangunan bertingkat tiga tersebut.
Itulah suasana yang terlihat beberapa hari terakhir, di SMA NU I Gresik, Jl. Raden
Santri Kecamatan Gresik. “Saya ingin melukiskan beragamnya karakter yang dimiliki manusia,” kata Nur Faizah, siswa kelas 2 yang melukis gambar manusia setengah abstrak, di depan ruang kelasnya, saat Surya melihat hasil lukisannya, Jumat (17/2) siang.
Siswa-siswa tersebut, sejak Senin (13/2) lalu, memang diminta oleh Kris Adji AW, guru seni rupa untuk melukis mural, seni lukis yang menggunakan tembok sebagai media lukisan. Setiap kelas, dibagi menjadi 6-9 kelompok. “Setiap anggota kelompok sebelumnya diminta membuat desain awal lukisan. Lukisan yang terbaik itulah yang bakal dilukis keroyokan,” imbuh Nur Faizah.
Sementara, hasil lukisan yang terbaik masih akan dipi lih lagi. “Lukisan yang paling baik akan dilukis ditembok halaman sekolah,” tambah Yedi Wahyudin, siswa kelas 2 lainnya.
Menurut Kris Adji AW, kegiatan tersebut merupakan tugas pelajaran seni rupa. “Selain itu, kami ingin menstimulasi siswa dengan kegiatan yang positif,” terang Kris Adji yang mengajar seni rupa di SMA NU I Gresik sejak 20 tahun silam.
Dipilihnya lukisan mural, karena selama ini, Kris melihat banyak tembok-tembok di sejumlah sudut kota Gresik terdapat coretan-coretan. Karena itu, Kris lalu meminta kepada siswa kelas 2 sebanyak 8 kelas untuk melukis mural. Namun tugas yang semula hanya untuk siswa kelas 2 itu akhirnya berkembang.
“Siswa kelas 1 dan 3 juga ingin melukis mural, sebab mereka juga ingin kelasnya tampil menawan dengan lukisan mural, “sambung Kris yang juga penggiat Dewan Kesenian Gresik ( DKG).
Maka melukis mural pun tak sekedar menjadi tugas seni rupa, namun kea rah persaingan antar kelas untuk saling menampilkan karya terbaiknya. “ Lihat saja sendiri mereka sangat antusias. Bahkan ada kelompok siswa yang tak puas dengan bahan cat tembok jatah sekolah, akhirnya mereka urunan membeli cat lagi,” tambah alumni Seni Rupa IKIP Surabaya ini dengan bangga.
Jika kegiatan ini berakhir, sebanyak 60 lukisan mural masing-masing berukuran 2x2 meter bakal dihasilkan 400 siswa tersebut. Rata-rata lukisan bercorak dekoratif, yang memadukan kombinasi bidang dan warna dengan nuansa hiasan. “ namun ada juga yang la in, misalnya lukisan kartun
ala Jepang,” cerita Kris Adji.
Satu lukisan, rata-rata diselesaikan minimal dua hari.” Sebab, siswa melukisnya di sela-sela pelajaran sekolah, “ kata Kris Adji.
Kegiatan ini, bagi Kris Adji, dianggap kegiatan lanhka di Indonesia. ”Saya masih belum mendengar , ada sekolah yang dihiasi dengan lukisan mural. Kalaupun ada, lukisan itu di garap oleh tukang. Namun, di SMA NU 1 Gresik, lukisan mural hasil karya semua siswanya,” imbuh Kris Adji.
Karena itu, Kris Adji berobsesi kegiatan ini bakal tercatat di Musium Rekor Indonesia (MURI). “ Kami bakal mendaftarkan kegiatan ini ke MURI,” pungkas Kris Adji AW.
Musta’in, lahir di Lamongan, 17 Oktober 1976. Lukisan SMA Assaadah Bungah ini tercatat sebagai mahasiswa semester akhir fakultas Psikologi UNMUH Gresik dan wartawan Harian SURYA.
(Tulisan ini pernah dimuat di Harian SURYA, 18 Februari 2006)
Musta’in : KEGELISAHAN BERKEPANJANGAN SEORANG KRIS ADJI
Tidak ada kata akhir dalam sebuah proses berkarya. Demikian juga yang dialami pelukis asal Gresik, Kris Adji AW. Sebagai seorang seniman, Kris merekam dan memotret realitas, terutama sosial-politik, kedalam goresan kanvas untuk dijadikan sebuah lukisan.
Realitas itu tak terlalu muluk digambarkannya. Bahkan begitu mudah, cukup dengan symbol-simbol yang sederhana. Apalagi, saat Kris banyak bergaul dengan berbagai kalangan termasuk para elite politik ditempat tinggalnya
“ Jujur saya akui, pergaulan saya dengan teman-teman anggota Dewan, yang notabene adalah para politikus, juga membawa inspirasi bagi lukisan saya,” kata Kris, ditemui digaleri seni sekaligus rumahnya, di Jln Usman Sadar, Selasa (14/11).
Tak heran, lalu muncullah karyanya yang berjudul The Dance In Power yang menggambarkan seseorang tengah melayang, sembari memannggul sebuah kursi dibelakang punggungnya.
“ Secara sederhana saya ingin mengatakan, itulah perilaku pejabat yang terus mempertahankan kursi kekuasaannya dan akan selalu melindungi agar kursi itu tidak hilang begitu saja,” ungkap pelukis yang aktif berkesenian sejak SMA, tahun 1977.
Masalah sosial yang terjadi disekitarnya, seperti penggusuran pedagang kaki lima (PKL) oleh satpol PP dengan dalih penertiban, juga diabadikan Kris melalui lukisan yang diber judul Tarian Keranjang Kosong.
Lukisan itu, menggambarkan seseorang yang tengah mendekat erat keranjang didadanya meski tanpa isi. ‘Lihat saja, rata-rata PKL yang terkena operasi pebnertiban dan gerobaknya disita terkadang gerobak itu sudah tanpa isi,” ungkap salah satu penggagas berdirinya Dewan Kesenian Gresik (DKG) tahun 1984.
Bagi Kris, sebuah kegelisahan itu akan terus ada, menggeliat saat melihat ketimpangan, ketidakadilan, dan hal-hal yang berbau paradoks. Kegelisahan akan selalu menari-nari mencapai puncak ekstase, larut diantara alam sadar dan alam tak sadar.
Lewat lukisan diatas kanvas berbahan cat akrilik, Kris hanya menyampaikan apa yang dilihat, dialami dan dirasakannya. Untuk sebuah solusi atas fenomena yang dilukisnya, kata Kris, biar hati nurani yang menjawabnya.
Salah satu bentuk pengungkapan kegelisahannya yang sedemikian menderu, Kris berencana akan gelar pameran tunggal 20 lukisannya di Surabaya, Bandung dan Gresik dengan satu tema The Dance In Trance.
Di Surabaya, Kris akan pameran di Galeri Surabaya Dewan Kesenian Surabaya (DKS), 20 – 26 November. Setelah itu dilanjutkan di Bandung, Januari dan berakhir di Gresik Maret 2007.
“Secara harfiah, judul pameran itu tarian jiwa. Namun lewat judul itu, saya ingin menyampaikan pesan-pesan kegelisahan saya,” kata Kris yang pernah menjadi pengurus
Lesbumi Gresik, 1995 – 2000.
Rencananya, saat pembukaan pameran Kris akan menggandeng pemusik harmonica asal Gresik, Amang Genggong, dan tampilan grup musik religi SMA Nahdlatul Ulama 1 (NUSA) Gresik, dimana Kris sehari-hari mengajar sebagai guru seni rupa.
Musta’in, lahir di Lamongan, 17 Oktober 1976. Lukisan SMA Assaadah Bungah ini tercatat sebagai mahasiswa semester akhir fakultas Psikologi UNMUH Gresik dan wartawan Harian SURYA.
Realitas itu tak terlalu muluk digambarkannya. Bahkan begitu mudah, cukup dengan symbol-simbol yang sederhana. Apalagi, saat Kris banyak bergaul dengan berbagai kalangan termasuk para elite politik ditempat tinggalnya
“ Jujur saya akui, pergaulan saya dengan teman-teman anggota Dewan, yang notabene adalah para politikus, juga membawa inspirasi bagi lukisan saya,” kata Kris, ditemui digaleri seni sekaligus rumahnya, di Jln Usman Sadar, Selasa (14/11).
Tak heran, lalu muncullah karyanya yang berjudul The Dance In Power yang menggambarkan seseorang tengah melayang, sembari memannggul sebuah kursi dibelakang punggungnya.
“ Secara sederhana saya ingin mengatakan, itulah perilaku pejabat yang terus mempertahankan kursi kekuasaannya dan akan selalu melindungi agar kursi itu tidak hilang begitu saja,” ungkap pelukis yang aktif berkesenian sejak SMA, tahun 1977.
Masalah sosial yang terjadi disekitarnya, seperti penggusuran pedagang kaki lima (PKL) oleh satpol PP dengan dalih penertiban, juga diabadikan Kris melalui lukisan yang diber judul Tarian Keranjang Kosong.
Lukisan itu, menggambarkan seseorang yang tengah mendekat erat keranjang didadanya meski tanpa isi. ‘Lihat saja, rata-rata PKL yang terkena operasi pebnertiban dan gerobaknya disita terkadang gerobak itu sudah tanpa isi,” ungkap salah satu penggagas berdirinya Dewan Kesenian Gresik (DKG) tahun 1984.
Bagi Kris, sebuah kegelisahan itu akan terus ada, menggeliat saat melihat ketimpangan, ketidakadilan, dan hal-hal yang berbau paradoks. Kegelisahan akan selalu menari-nari mencapai puncak ekstase, larut diantara alam sadar dan alam tak sadar.
Lewat lukisan diatas kanvas berbahan cat akrilik, Kris hanya menyampaikan apa yang dilihat, dialami dan dirasakannya. Untuk sebuah solusi atas fenomena yang dilukisnya, kata Kris, biar hati nurani yang menjawabnya.
Salah satu bentuk pengungkapan kegelisahannya yang sedemikian menderu, Kris berencana akan gelar pameran tunggal 20 lukisannya di Surabaya, Bandung dan Gresik dengan satu tema The Dance In Trance.
Di Surabaya, Kris akan pameran di Galeri Surabaya Dewan Kesenian Surabaya (DKS), 20 – 26 November. Setelah itu dilanjutkan di Bandung, Januari dan berakhir di Gresik Maret 2007.
“Secara harfiah, judul pameran itu tarian jiwa. Namun lewat judul itu, saya ingin menyampaikan pesan-pesan kegelisahan saya,” kata Kris yang pernah menjadi pengurus
Lesbumi Gresik, 1995 – 2000.
Rencananya, saat pembukaan pameran Kris akan menggandeng pemusik harmonica asal Gresik, Amang Genggong, dan tampilan grup musik religi SMA Nahdlatul Ulama 1 (NUSA) Gresik, dimana Kris sehari-hari mengajar sebagai guru seni rupa.
Musta’in, lahir di Lamongan, 17 Oktober 1976. Lukisan SMA Assaadah Bungah ini tercatat sebagai mahasiswa semester akhir fakultas Psikologi UNMUH Gresik dan wartawan Harian SURYA.
Nanang Fahrudin : KETIKA MELUKIS DIMAKNAI SEBAGAI IBADAH
Dunia seni rupa di Gresik boleh di bilang tidak ramah, karena tidak ada galeri atau gedung kesenian. Namun, bukan berarti proses kreatif berkarya para pelukis Gresik berhenti begitu saja. Buktinya, masih banyak pelukis yang menghasilkan karya dan dipamerkan di gedung kesenian di Surabaya, Yogyakarta dan Jakarta. Salah satu dari mereka adalah Kris Adji AW. Pelukis beraliran surealisme ekspresif ini sudah menghasilkan ratusan karya dan beberapa kali menggelar pameran tunggal sejak tahun 1980. Dan saat ini, pria berusia 45 tahun ini tengah bersiap-siap menggelar pameran tunggal di gedung Dewan Kesenian Surabaya (DKS) Surabaya. “Mungkin akan ada 30 lukisan yang akan saya bawa,” ujarnya saat ditemui di galeri sekaligus rumahnya di Jl. Usman Sadar, Gresik.
Melukis bagi guru SMA NU 1 Gresik ini, merupakan sebuah ibadah untuk mengkritik semua kebobrokan kemanusiaan yang kini menggejala di bumi Indonesia. Tak heran jika di setiap karya di atas kanvas terinspirasi oleh lingkungannya. Ia mencontohkan karya Tarian Jiwa yang menggambarkan orang kecil (wong cilik) yang berusaha menikmati hidupnya di tengah keterpurukan. “Bagi rakyat kecil, penderitaan dan kebahagiaan itu kan sangat tipis pembatasnya. Kadang sama saja,” tutur lulusan IKIP Surabaya jurusan Seni Rupa ini.
Beberapa lukisannya yang menggambarkan kehidupan masyarakat bawah adalah, Tarian Hitam Putih, Suara Mereka Pun Sama, Kasih Ibu dan beberapa lainnya. Khusus untuk lukisan Kasih Ibu, mencoba menggambarkan kepedihan ibu yang menggendong anaknya yang sudah mati terkena gelombang tsunami. “Setiap saya melukis, pasti berisi kritik sosial masyarakat di sekitar saya,” tutur Kris.
Lukisan-lukisan itu, bagi ketua bidang pendidikan dan pengembangan Dewan Kesenian Gresik (DKG) ini, bukan dinilai dari besar-kecilnya lukisan. Melainkan makna dan proses kontemplasi yang menyertai proses penciptaan sebuah karya. “Saya bisa melukis dalam waktu satu jam. Tapi komtemplasinya bisa setahun,“ terangnya.
Pandangannya tentang melukis adalah beribadah itulah yang menjadikan lukisannya mempunyai makna kritik sosial. Ia tidak memperdulikan orang lain akan mendengar “jeritannya” melalui karyanya atau tidak. Karena ia berharap nilai-nilai kebersamaan dan memegang prinsip seperti yang ditunjukkan saat anak-anak bermain bisa ditularkan pada yang dewasa.
Namun saat ditanya bagaimana menilai rancangan UU anti pornografi dan pornoaksi (APP) yang kini telah ramai diperbincangkan, Kris AW mengatakan menolaknya. Karena moral tidak perlu diundangkan, melainkan dikembalikan kepada masyarakat. Bahkan jauh sebelum perdebatan soal pornografi, pelukis asli kota Pudak ini sudah menghasilkan karya lukis berjudul Negeri Bokong. “Inul itu kan hanya letupan saja. Karena sebelumnya sudah banyak bokong-bokong di negeri ini,” tegasnya.
Nanang Favhrudin, lahir 28 Mei 1979. Alumni UNMUH Malang. Seorang jurnalis yang tinggal di Bojonegoro. Sekarang bekerja di Koran Seputar Indonesia (SINDO) setelah dari JATIM MANDIRI.
(Tulisan ini pernah di muat di Harian JATIM MANDIRI, 16 Mei 2006)
Beberapa lukisannya yang menggambarkan kehidupan masyarakat bawah adalah, Tarian Hitam Putih, Suara Mereka Pun Sama, Kasih Ibu dan beberapa lainnya. Khusus untuk lukisan Kasih Ibu, mencoba menggambarkan kepedihan ibu yang menggendong anaknya yang sudah mati terkena gelombang tsunami. “Setiap saya melukis, pasti berisi kritik sosial masyarakat di sekitar saya,” tutur Kris.
Lukisan-lukisan itu, bagi ketua bidang pendidikan dan pengembangan Dewan Kesenian Gresik (DKG) ini, bukan dinilai dari besar-kecilnya lukisan. Melainkan makna dan proses kontemplasi yang menyertai proses penciptaan sebuah karya. “Saya bisa melukis dalam waktu satu jam. Tapi komtemplasinya bisa setahun,“ terangnya.
Pandangannya tentang melukis adalah beribadah itulah yang menjadikan lukisannya mempunyai makna kritik sosial. Ia tidak memperdulikan orang lain akan mendengar “jeritannya” melalui karyanya atau tidak. Karena ia berharap nilai-nilai kebersamaan dan memegang prinsip seperti yang ditunjukkan saat anak-anak bermain bisa ditularkan pada yang dewasa.
Namun saat ditanya bagaimana menilai rancangan UU anti pornografi dan pornoaksi (APP) yang kini telah ramai diperbincangkan, Kris AW mengatakan menolaknya. Karena moral tidak perlu diundangkan, melainkan dikembalikan kepada masyarakat. Bahkan jauh sebelum perdebatan soal pornografi, pelukis asli kota Pudak ini sudah menghasilkan karya lukis berjudul Negeri Bokong. “Inul itu kan hanya letupan saja. Karena sebelumnya sudah banyak bokong-bokong di negeri ini,” tegasnya.
Nanang Favhrudin, lahir 28 Mei 1979. Alumni UNMUH Malang. Seorang jurnalis yang tinggal di Bojonegoro. Sekarang bekerja di Koran Seputar Indonesia (SINDO) setelah dari JATIM MANDIRI.
(Tulisan ini pernah di muat di Harian JATIM MANDIRI, 16 Mei 2006)
Syafiqi M. Zain: PERPUSTAKAAN, KUBURAN DAN GNI
Malam itu 10 November 2006, aku dan Kris bertemu dengan seseorang teman. Teman itu adalah anggota DPRD Kabupaten Gresik. Kebetulan dia menjabat sebagai ketua komisi C. Yaitu komisi yang mengurusi persoalan tata bangunan di kota Gresik. Dari pembicaraan yang ada, aku dan Kris mendapatkan beberapa persoalan yang cukup menarik untuk dipaparkan. Teman itu bernama Syafiqi M. Zain
Tanya (aku) : Selamat malam?
Jawab (Syafiqi M. Z.) : Malam.
Tanya : Pak apa ada rencana Gresik untuk membangun sebuah gedung yang bisa digunakan untuk berekspresi dan bertemu? Ya, semacam gedung kesenian begitulah?
Jawab : Rencana itu ada. Tapi, dalam pembangunan kan perlu dilihat skala prioritasnya? Misalnya, apa benar sih orang Gresik lebih perlu gedung seperti itu dibandingkan dengan penerangan, kenyamanan jalan atau rekreasi? Dan jika memang perlu, pasti kita bangun.
Tanya : Lalu, jika memang begitu, apa tidak perlu untuk direalisasikan?
Jawab : Ya, itu kembali lagi pada skala prioritas pembangunan itu. Lagian, jika saya pribadi, saya akan lebih suka membangun sebuah perpustakaan yang benar (empat tingkat). Yang ada di tengah kota
kota. Dan di dalam perpustakaan itu, ada juga sebuah aula yang dapat dijadikan sebagai tempat ajang pertemuan dan ekspresi.
T Tanya : Jika ada di tengah kota, lalu bagaimana dengan yang ada di kecamatan-kecamatan?
Jawab : Itu susahnya. Sebab, kadang-kadang masih banyak dari masyarakat kita, yang masih menganggap jika kebutuhan umum mereka hanya kebutuhan pada sekolahan, rumah sakit, rumah ibadah, jalan raya dan penerangan. Selain itu belum terpikir. Jadi, jika ada dua program membangun perpstakaan ataukah membangun sarana lainnya, mereka cenderung akan memilih sarana yang lainnya itu.
Tanya : Termasuk di perumahan-perumahan yang makin banyak di Gresik ini, ya Pak?
Jawab : Ha, ha, ha, ini yang lebih parah. Sebab, jangankan untuk membangun perpustakaan, para pengembang dari sekian perumahan yang ada, pun jarang yang berpikir tentang pentingnya lahan pekuburan. Padahal, kita tahu, setiap orang kan pasti mati. Tapi, lahan untuk itu, wah, hampir tak terpikirkan.
Tanya : Tapi sebagai anggota dewan kan bisa menghimbau?
Jawab : Pasti. Tapi, masak anggota dewan tidak tertib hukum. Kan harus tetap lewat hukum yang ada. Meski, itu untuk himbauan yang baik. Jadi, tidak srudak-sruduk.
Tanya : Dan jika memang perpustakaan itu jadi dibangun di tengah kota, kira-kira dimana?
Jawab : Saya cenderung memilih Gedung Nasional Indonesia di perempatan jalan Pahlawan Gresik.
(Akh, berbicara tentang Gedung Nasional Indonesia, atau GNI aku jadi teringat, jika dulu-dulu, di gedung itulah sering digelar pameran, teater, musik, diskusi, dll. Tapi, kini, cukup untuk resepsi perkawinan belaka. Padahal, ya, padahal, di Gresik sendiri sudah mendesak untuk dibangun sebuah gedung tempat bertemu dan berekspresi para seniman dan cerdik pandainya.)
Syafiqi M. Zain, putra Madura alumnus Universitas Negeri Jember. Dosen STIT Raden Santri Gresik, pengurus PKB Gresik dan Ketua Komisi C DPRD Gresik.
Tanya (aku) : Selamat malam?
Jawab (Syafiqi M. Z.) : Malam.
Tanya : Pak apa ada rencana Gresik untuk membangun sebuah gedung yang bisa digunakan untuk berekspresi dan bertemu? Ya, semacam gedung kesenian begitulah?
Jawab : Rencana itu ada. Tapi, dalam pembangunan kan perlu dilihat skala prioritasnya? Misalnya, apa benar sih orang Gresik lebih perlu gedung seperti itu dibandingkan dengan penerangan, kenyamanan jalan atau rekreasi? Dan jika memang perlu, pasti kita bangun.
Tanya : Lalu, jika memang begitu, apa tidak perlu untuk direalisasikan?
Jawab : Ya, itu kembali lagi pada skala prioritas pembangunan itu. Lagian, jika saya pribadi, saya akan lebih suka membangun sebuah perpustakaan yang benar (empat tingkat). Yang ada di tengah kota
kota. Dan di dalam perpustakaan itu, ada juga sebuah aula yang dapat dijadikan sebagai tempat ajang pertemuan dan ekspresi.
T Tanya : Jika ada di tengah kota, lalu bagaimana dengan yang ada di kecamatan-kecamatan?
Jawab : Itu susahnya. Sebab, kadang-kadang masih banyak dari masyarakat kita, yang masih menganggap jika kebutuhan umum mereka hanya kebutuhan pada sekolahan, rumah sakit, rumah ibadah, jalan raya dan penerangan. Selain itu belum terpikir. Jadi, jika ada dua program membangun perpstakaan ataukah membangun sarana lainnya, mereka cenderung akan memilih sarana yang lainnya itu.
Tanya : Termasuk di perumahan-perumahan yang makin banyak di Gresik ini, ya Pak?
Jawab : Ha, ha, ha, ini yang lebih parah. Sebab, jangankan untuk membangun perpustakaan, para pengembang dari sekian perumahan yang ada, pun jarang yang berpikir tentang pentingnya lahan pekuburan. Padahal, kita tahu, setiap orang kan pasti mati. Tapi, lahan untuk itu, wah, hampir tak terpikirkan.
Tanya : Tapi sebagai anggota dewan kan bisa menghimbau?
Jawab : Pasti. Tapi, masak anggota dewan tidak tertib hukum. Kan harus tetap lewat hukum yang ada. Meski, itu untuk himbauan yang baik. Jadi, tidak srudak-sruduk.
Tanya : Dan jika memang perpustakaan itu jadi dibangun di tengah kota, kira-kira dimana?
Jawab : Saya cenderung memilih Gedung Nasional Indonesia di perempatan jalan Pahlawan Gresik.
(Akh, berbicara tentang Gedung Nasional Indonesia, atau GNI aku jadi teringat, jika dulu-dulu, di gedung itulah sering digelar pameran, teater, musik, diskusi, dll. Tapi, kini, cukup untuk resepsi perkawinan belaka. Padahal, ya, padahal, di Gresik sendiri sudah mendesak untuk dibangun sebuah gedung tempat bertemu dan berekspresi para seniman dan cerdik pandainya.)
Syafiqi M. Zain, putra Madura alumnus Universitas Negeri Jember. Dosen STIT Raden Santri Gresik, pengurus PKB Gresik dan Ketua Komisi C DPRD Gresik.
Tiko Hamzah : CATATAN KERINDUAN SEORANG PELUKIS Salam dari kawan lama
Ada seorang kawan seperjalanan, Ada seorang kawan seperjuangan, Ada seorang kawan sepenanggungan, Ada seorang kawan dalam satu doa, … Kris Adji AW yang rindu akan dunianya. Memang waktu telah merentang dan berjarak, Ketika itu kami seusia anak sekolah, Kami bercita—cita dan bermimpi, … menjadi seorang pelukis besar…
Namun tempaan waktu ternyata tidak mudah, bahkan menjadi seorang sarjana akan lebih mudah, dan menjadi pegawai akan terasa lebih ringan…, namun cita awal mempertahankan diri mnjadi seorang, idealisme “pelukis” memang banyak rintangan dan godaan. Eksistensi sebagai seorang “pelukis”, dituntut oleh ketegaran jiwa dan raga…, Bukanlah sekedar berkarya dan laku keras, bukanlah sekedar pesolek kebudayaan, bukan sekedar terkenal dan kaya raya…, Namun ada do’a sebagai rangkaian ritual ibadah kehidupan, yang bergolak dalam nadi dan denyut nurani yang tak terbayarkan…
Adalah sepenggal utopia dan ambivalensia dari kawan lama, yang rindu menjadi seorang “pelukis”. Sebuah dunia yang dianggapnya memiliki nilai aktualisasi dan tanggung- jawab dalam hidup yang dianggapnya terlalu pendek ini. Dua puluh tahun lebih dia bertahan menyimpan keinginan dan letupan idea… Waktu telah berkepanjangan. Ada dunia lain yang se mentara itu melindunginya, Untuk menahan gejolak dan menekan aura menjadi “sang pelukis”. Sementara itu, ada kemesraan yang melena dalam menghitung jam terbang.
Namun dia yang diayomi oleh dua dunia yang sementara itu menjadi “sang guru” dan “sang bapak”, dia tetap meletup dan meronta untuk meraih cita awal menjadi “sang pelukis” tetap menjadi tumpuan prioritas utama dalam mengarungi bahtera hidup dan wahana untuk menerjang gelombang samudra kehidupan…
Selamat datang kawan lama dalam kerangka arus besar kebudayaan dan sejarah. Indonesia baru…
Selamat menikmati damai dalam kehidupan yang penuh dinamika, warna dan pesona. Selamat… semoga keberuntungan menyertaimu “sang pelukis”…
(Gresik, 10 November 2006)
Namun tempaan waktu ternyata tidak mudah, bahkan menjadi seorang sarjana akan lebih mudah, dan menjadi pegawai akan terasa lebih ringan…, namun cita awal mempertahankan diri mnjadi seorang, idealisme “pelukis” memang banyak rintangan dan godaan. Eksistensi sebagai seorang “pelukis”, dituntut oleh ketegaran jiwa dan raga…, Bukanlah sekedar berkarya dan laku keras, bukanlah sekedar pesolek kebudayaan, bukan sekedar terkenal dan kaya raya…, Namun ada do’a sebagai rangkaian ritual ibadah kehidupan, yang bergolak dalam nadi dan denyut nurani yang tak terbayarkan…
Adalah sepenggal utopia dan ambivalensia dari kawan lama, yang rindu menjadi seorang “pelukis”. Sebuah dunia yang dianggapnya memiliki nilai aktualisasi dan tanggung- jawab dalam hidup yang dianggapnya terlalu pendek ini. Dua puluh tahun lebih dia bertahan menyimpan keinginan dan letupan idea… Waktu telah berkepanjangan. Ada dunia lain yang se mentara itu melindunginya, Untuk menahan gejolak dan menekan aura menjadi “sang pelukis”. Sementara itu, ada kemesraan yang melena dalam menghitung jam terbang.
Namun dia yang diayomi oleh dua dunia yang sementara itu menjadi “sang guru” dan “sang bapak”, dia tetap meletup dan meronta untuk meraih cita awal menjadi “sang pelukis” tetap menjadi tumpuan prioritas utama dalam mengarungi bahtera hidup dan wahana untuk menerjang gelombang samudra kehidupan…
Selamat datang kawan lama dalam kerangka arus besar kebudayaan dan sejarah. Indonesia baru…
Selamat menikmati damai dalam kehidupan yang penuh dinamika, warna dan pesona. Selamat… semoga keberuntungan menyertaimu “sang pelukis”…
(Gresik, 10 November 2006)
Langganan:
Postingan (Atom)