engkau
yang berdiri di sana
menggenggam tongkat kemunafikan
menyebar aroma pesing polusi pabrik
tiba-tiba memakai surban layak kiai
apakah kau tidak tahu
kalau kami awas
apakah kau buta
kalau kami bisa menjadi segala
sudahlah, hentikan saja
melukis wajah ketidakpastian
Sabtu, 12 Desember 2009
Minggu, 29 November 2009
PAMERAN TUNGGAL KRIS ADJI AW :The Dance In Trance
judul lukisan : 1, Patriot Anak Negri 2. tarian jiwa 1 3. tarian keranjang kosong 4. tarian koruptor
Tarian jiwa tiap manusia bergetar menggerakkan jiwa dan raganya. Menyusup kehidupan dalam gelap dalam terang. Menyeruak lautan masalah dan mengambang perahu jiwa pada gelombang biru, jingga, hitam dan putih. Meniti manusia pada garis yang tak lurus bahkan kadang melawan arus. Ada kejayaan disini, kata mereka yang tertutup kabut malam tentang cerita kejayaan abadi di sana.Topeng-topeng dikenakan dengan wajah bak punakawan yang di dalamnya menjelma burisrawa atau anggada yang hobi memakan telinga lawan bahkan memakan apa saja, bangkai sekalipun.
warna sudah bermakna politik yang dicuri dari para pelukis yang terlelap....
LUKISAN KRIS ADJI AW II
Lukisanku ini berbicara tentang carut marut negeri kita, ulah manusianya yang serakah, politiknya yang menendang cita-cita reformasi. Masih saja mirip-mirip orde baru, KKN masih jalan bahkan lebih kenceng... merebut kekuasaan tanpa malu, lihat aja kalo para politikus ngebet jadi pemimpin.
Lucu jadinya, kayak ketoprak humor milik almarhum Timboel. Terakhir ada ketoprak model Cicak dan Buaya...wah..wah..rakyat kok disuguhi masalah kayak gitu. Mbok yaao (Timbul biasanya ngomong gitu) sadar... ingat janjimu waktu belum terpilih.. katanya segalanya untuk rakyat...sing bener ae cak !!
Judul Lukisan: 1, Jurus Semar Mendhem, Acrilyc on canvas. 2.Masih Ada Harapan, Acrilyc on canvas 3. Perjalanan Malam, Acrilyc on canvas. 4. Problem Nelayan, Acrilyc on canvas. 5. Rembulan Hitam, Acrilyc on canvas. 6.The Last Generation, Acrilyc on canvas.
Lucu jadinya, kayak ketoprak humor milik almarhum Timboel. Terakhir ada ketoprak model Cicak dan Buaya...wah..wah..rakyat kok disuguhi masalah kayak gitu. Mbok yaao (Timbul biasanya ngomong gitu) sadar... ingat janjimu waktu belum terpilih.. katanya segalanya untuk rakyat...sing bener ae cak !!
Judul Lukisan: 1, Jurus Semar Mendhem, Acrilyc on canvas. 2.Masih Ada Harapan, Acrilyc on canvas 3. Perjalanan Malam, Acrilyc on canvas. 4. Problem Nelayan, Acrilyc on canvas. 5. Rembulan Hitam, Acrilyc on canvas. 6.The Last Generation, Acrilyc on canvas.
KARYA LUKIS KRIS ADJI AW I
Kuda, ya binatang yang menarik. Menjadi tunggangan para pahlawan dan kaum bangsawan, juga lambang kegagahan para koboi. Menjadi daya tarik kaum perempuan dan juga lambang gengsi para konglomerat tapi juga menjadi penarik andong kaum melarat. Tapi jangan ditanya kalo ada manusia bernafsu kuda..... apalagi kalo anda suka diperkuda...
Melihat lukisan kudaku, anda bisa menafsirkan semaumu.......
Melihat lukisan kudaku, anda bisa menafsirkan semaumu.......
Selasa, 06 Oktober 2009
KELAS JADI RUMAH HANTU
29 Jun 2007 |
"Hiii, seraaam," kata siswa siswi SMA Nahdlatul Ulama (Smanusa) saat melihat ruang belajar mereka berubah menjadi rumah hantu. Kesan seram itu ditampilkan dalam pameran seni rupa dan instalasi yang berakhir kemarin. Pameran seni rupa dan instalasi itu merupakan tugas akhir mata pelajaran seni budaya. Pameran berlangsung Rabu dan Kamis kemarin. Sebanyak 19 ruang kelas disulap menjadi ruang pamer seni rupa dan instalasi. Menurut guru seni budaya Smanusa Kris Adji A.W., pameran tersebut merupakan tuntutan yang harus dilakukan siswa. "Setiap akhir semester siswa harus menggelar pameran," kata Kris Adji yang juga ketua Dewan Kesenian Gresik (DKG). Siswa bebas mengekspresikan kreasinya. Horor menjadi tema paling menarik. Banyak siswa memilih menyulap ruang kelas mereka menjadi rumah hantu atau hutan angker. Agar benar-benar menimbulkan kesan seram, mereka melengkapi rumah dan hutan itu dengan profil hantu. Misalnya, kuntilanak atau pocong.[idp/jul]. |
Jumat, 25 September 2009
PASAR SENI LUKIS INDONESIA 2009
Kris Adji Berharap Ada Yang Baru
Rabu, 23 September 2009
LOMBA LUKIS IPNU GRESIK: KARYAKU UNTUK INDONESIA
Pada hari Jum’at 14 Agustus 2009 IPNU Gresik mengadakan lomba mewarna tingkat TK dan SD serta lomba melukis tingkat SD. Tema untuk lomba tersebut adalah “Karyaku untuk Indonesia”, woww, luar biasa, peserta yang ikut diluar dugaan. Dengan persiapan hanya 2 minggu, target peserta hanya 100 anak. Ternyata diluar dugaan, peserta yang ikut lebih dari 250 anak, panitia sempat kelabakan menerima peserta yang ada. Mereka sangat antusias untuk mengikuti acara tersebut. Setiap kategori lomba diambil 3 pemenang, yaitu Juara I, II dan II. dan hadiah diberikan langsung oleh Bapak Jamil selaku Ketua LP Ma’arif NU Kab. Gresik, Bapak Sasatro Soewito, SH, M.Hum selaku Wakil Bupati Gresik dan Bapak Kris Adji AW Ketua Dewan Kesenian Kab. Gresik. Selamat berkarya ..!!!
Selasa, 22 September 2009
TERBENGKELAINYA SITUS KERAJAAN GIRI KEDATON GRESIK
Menelusuri Masjid Tertua Sunan Giri
Minggu, 13 September 2009 11:17 WIB Posts by: Sugeng Wibowo
Terbengkalai, Jadi Tempat Pelarian Pencari Ketenangan
Di masa Sunan Giri dulu, situs istana keraton Sunan Giri atau Giri Kedaton yang dibangun pada 1487 Masehi ini, merupakan pusat pemerintahan sekaligus tempat peribadatan. Tempat ini berdasar sejarahnya, juga menjadi tempat penyebaran agama Islam dan pengukuhan raja-raja Islam Demak. Bahkan menjadi tempat berdirinya pondok pesantren pertama di Kabupaten Gresik, Jawa Timur.
Kini petilasan itu kondisinya sungguh memprihatinkan. Situs bersejarah yang mestinya bisa terjaga kelestariannya, yang terlihat justru menjadi tempat penggembalaan hewan ternak.
Suasana sunyi senyap, tampak ketika pertama menginjakkan kaki di petilasan Giri Kedaton. Tidak ada lagi peribadatan yang ada di masjid tertua dari sebanyak 1.053 masjid di Gresik ini. Justru sebaliknya, masjid yang mestinya dijadikan sebagai tempat yang disucikan, kini hanya menjadi tempat “pelarian” bagi umat muslim yang ingin bermunajad untuk mencari ketenangan ketika sedang dirundung masalah.
Memang letaknya yang berada di atas sebuah bukit di Dusun Kedaton, Desa Sidomukti, Kecamatan Kebomas, Gresik dengan ketinggian 200 meter dari permukaan laut, sangat mendukung bagi mereka yang ingin mencari ketenangan.
Ditunjang panorama keindahan Kota Gresik yang bisa dilihat secara keseluruhan dari atas bukit, menjadikan pengunjung betah untuk berlama-lama tinggal di petilasan Giri Kedaton.
Seperti diungkapkan Hamim, 42, warga Tanggulangin, Sidoarjo yang sudah hampir dua pekan ramadan ini tinggal di petilasan Giri Kedaton. Di sana ia tidak sendiri, ada tiga pengunjung yang selama Ramadan ini memilih menyepi dari ingar-bingar keramaian kota.
Menurut pemuda yang dulunya membuka usaha pakaian ini, sengaja bermalam di Giri Kedaton untuk mencari ketenangan. Ia berpandangan, setiap bergelut dengan suatu persoalan, dengan sendirinya beban persoalan itu akan menjadi hilang setelah berada di petilasan Giri Kedaton.
Suatu ketika, ia sempat terbelit masalah utang yang menjadikan usahanya bangkrut. Pria yang mempunyai dua orang putri ini sempat stres. Ia kemudian berniat menyendiri di tempat yang dianggapnya bisa menghilangkan beban pikirannya yakni di petilasan Giri Kedaton.
Di tempat ini ia luapkan segala bentuk kegelisahan pikirannya dengan kegitan merenung, bermunajad, dan hasilnya cukup bisa membantu menghilangkan kesuntukannya.
Lain halnya dengan Hermawan, 57, lelaki asal Kota Tasik, Jawa Barat, ini hampir tiap ada waktu luang selalu berkunjung ke petilasan Giri Kedaton. Dalam kunjungannya kali ini, ia sempat bermimpi diberitahu supaya segera meninggalkan Tasik.
Keesokan harinya, ia dan keluarganya pun meninggalkan Tasikmalaya untuk berkunjung ke rumahnya yang berada di Gresik. Setelah dua hari menginap di petilasan Giri Kedaton, lelaki yang juga berdagang pakaian batik ini mendengar dari surat kabar kalau Tasikmalaya diguncang gempa dahsyat.
“Saya kemudian berpikir, mungkin ini salah satu petunjuk,” kata pria yang sejak duduk di bangku perkuliahan senang menyendiri di petilasan Sunan Giri.
Kendati demikian, umumnya para pengunjung petilasan Giri Kedaton menolak dikatakan tujuan untuk menginap dan menyendiri di petilasan Giri Kedaton itu untuk mencari wangsit atau sesuatu hal yang diperlukan untuk tujuan tertentu, seperti demi untuk memperoleh kedudukan atau jabatan, atau hal-hal lain yang mengarah pada syirik.
Mereka berkeyakinan, berdoa itu bisa dilakukan di mana saja tanpa melihat aliran ajaran agama Islam tertentu atau paham ajaran tertentu, di mana tujuan akhirnya untuk mencari ridho Allah.
Kurang PeduliMasyarakat sekitar dan Pemkab Gresik umumnya kurang begitu peduli untuk ikut menjaga dan melestarikan keberadaan situs bersejarah petilasan Giri Kedaton.
Terbukti, mereka seakan memandang sebelah mata keberadaan petilasan ini, kata juru kunci petilasan Giri Kedaton, Mucthar, 57. Berbeda dengan perlakuan warga terhadap Makam Sunan Giri.
Memang selama ini warga dan pemerintah lebih cenderung tertuju pada makam Sunan Giri, tanpa melihat peninggalan bersejarah lainnya. Apalagi Makam Sunan Giri bisa memberikan kontribusi kepada pemkab dari sebagian hasil tarikan retribusi pengunjung, dan bisa menunjang perekonomian masyarakat sekitar.
Berbeda dengan petilasan Giri Kedaton yang tidak menghasilkan sama sekali, karena tempat ini hampir tidak pernah dikunjungi para pendatang atau peziarah dari luar kota. Yang datang hanya satu dua orang yang menginap di petilasan tersebut.
Ia juga menyanyangkan masyarakat yang tidak ikut menjaga dan memelihara situs bersejarah, dengan menggembalakan hewan ternaknya di sekitar situs hingga merusak tanaman dan mengotori punden Giri Kedaton yang menjadikan keberadaan tempat ini penuh kotoran hewan.
“Saya sempat melapor kepada kepala desa untuk melarang warga menggembalakan hewan ternak, tapi masyarakat tidak pernah menggubris,” katanya pasrah.
Tidak hanya itu, yang memprihatinkan lagi karena tempatnya yang sepi, lokasi situs ini menjadi sasaran kalangan remaja untuk dijadikan tempat pacaran, bahkan sering kali juru pelihara pengelola masjid kehilangan kotak amal.
Sementara di lain hal minim perhatian dari Pemkab Gresik. Terbukti sejak tahun 2005 pihaknya mengusulkan untuk mengalokasikan anggaran perawatan situs hingga menyediakan air bersih untuk keperluan mandi cuci kakus (MCK), usulan itu direspons tapi tidak ada realisasi.
Lelaki yang menjadi juru kunci sejak tahun 1987 yang mewarisi profesi ini dari orangtuanya mengatakan, kegiatan pelestarian dan konservasi situs Giri Kedaton tahap satu dilakukan pada tahun 2002 kemudian dilanjutkan tahap kedua 2005. Kegiatan ini dilakukan atas kerjasama Balai Penelitian dan Pelestarian Purbakala (BP3) Trowulan, Mojokerto, dan Dinas Kebudayaan Gresik.
Dalam kegiatan tersebut dilakukan pemetaan, ekskavasi, pengupasan tanah, studi kelayakan pugar bangunan punden berundak masa prasejarah dan bangunan candi Hindu Budha di Indonesia.
Sempat dulu Pemkab Gresik berencana memperluas areal lahan situs Giri Kedaton, namun upaya itu terkendala pembebasan lahan milik warga, baru 625 meter yang sudah dibebaskan. Perluasan lahan itu bertujuan untuk menata kembali banyaknya pepohonan bambu milik warga yang menutupi petilasan Giri Kedaton.
Selama Ramadan tidak ada aktivitas yang ada di masjid Sunan Giri Kedaton, baik salat tarawih maupun tadarus, berbeda dengan masjid dan musala pada umumnya yang ramai dengan aktivitas peribadatan. Warga sekitar enggan menggunakan masjid ini sebagai tempat peribadatan, karena letaknya yang berada jauh di atas bukit.
Ketua Dewan Kesenian Kabupaten Gresik, Kris Aji menilai, selama ini Pemkab Gresik dalam membangun dan merenovasi situs sejarah tanpa melihat sejarah awalnya, sehingga bukannya memelihara justru merusak keaslian situs.
Menurut dia, hal itu kerap kali dilakukan oleh pemkab dengan berangkat dari pengetahuan sejarah yang minim dan tanpa melibatkan para pemerhati sejarah di Gresik tiba-tiba merenovasi situs, seperti Situs Giri Kedaton yang dibangun musala di atas bukit.
Padahal, menurut sejarah bangunan musala yang dulunya menjadi masjid pertama yang menjadi tempat syiar agama Islam oleh Sunan Giri itu dibangun di samping kiri Giri Kedaton, bukannya tepat di tengah bukit.
“Ini yang dikatakan merusak, apalagi bangunan Giri Kedaton terlihat tidak terawat, banyak batu bata dari punden berundak dibiarkan roboh berserakan,” katanya.
Selanjutnya ia mencontohkan bangunan pendopo Sunan Giri yang tidak dibangun berdasar sejarah yang ada, hanya dibuat dengan bentuk menyerupai joglo.
Ia juga menyayangkan mulai banyaknya ahli fungsi tanah situs makam bersejarah di Gresik yang banyak dikomersilkan, seperti banyaknya pendirian tower (menara) seluler di areal Makam Sunan Giri dan Putri Cempo.
Ini sangat menyalahi aturan, keberadaan situs yang mestinya bisa dipertahankan keasliannya, justru dikomersilkan, padahal banyak tempat lain di luar makam yang bisa menjadi tempat berdirinya menara.“Yang seperti ini pemkab kurang memperhatikan, hanya bisa memberikan izin tanpa melihat dasar pertimbangan tempat yang dipakai itu merupakan lahan Makam Sunan Giri yang dikeramatkan,” katanya menegaskan.
Kepala Dinas Pariwisata Gresik, Migfar Syukur beranggapan kewenangan memugar dan merawat situs makam di Gresik merupakan tanggungjawab BP3 Trowulan, dan tahun ini pemkab tidak menganggarkan perawatan untuk situs makam. Tapi semestinya, kata Kris Aji, pemkab selaku tuan rumah setidaknya memberikan saran dan masukan dengan melibatkan para sejarawan Gresik.
“Jangankan dilibatkan, membicarakan tentang seminar untuk mempertahankan situs sejarah di Gresik dengan para pemerhati budaya pun tidak pernah, padadal Gresik dikenal sebagai Kota Santri dan Kota Wali. Namun, pemerintahannya kurang peduli terhadap kelestarian situs makam,” katanya menanggapi pernyataan kadis pariwisata.
Ia sendiri menyesalkan minimnya komunikasi pemkab kepada para pemerhati sejarawan Gresik, sementara dewan kesenian dalam hal ini hanya bisa memberikan saran dan masukan, tinggal menunggu respon dan realisasi dari pemkab sendiri. ant
Minggu, 13 September 2009 11:17 WIB Posts by: Sugeng Wibowo
Terbengkalai, Jadi Tempat Pelarian Pencari Ketenangan
Di masa Sunan Giri dulu, situs istana keraton Sunan Giri atau Giri Kedaton yang dibangun pada 1487 Masehi ini, merupakan pusat pemerintahan sekaligus tempat peribadatan. Tempat ini berdasar sejarahnya, juga menjadi tempat penyebaran agama Islam dan pengukuhan raja-raja Islam Demak. Bahkan menjadi tempat berdirinya pondok pesantren pertama di Kabupaten Gresik, Jawa Timur.
Kini petilasan itu kondisinya sungguh memprihatinkan. Situs bersejarah yang mestinya bisa terjaga kelestariannya, yang terlihat justru menjadi tempat penggembalaan hewan ternak.
Suasana sunyi senyap, tampak ketika pertama menginjakkan kaki di petilasan Giri Kedaton. Tidak ada lagi peribadatan yang ada di masjid tertua dari sebanyak 1.053 masjid di Gresik ini. Justru sebaliknya, masjid yang mestinya dijadikan sebagai tempat yang disucikan, kini hanya menjadi tempat “pelarian” bagi umat muslim yang ingin bermunajad untuk mencari ketenangan ketika sedang dirundung masalah.
Memang letaknya yang berada di atas sebuah bukit di Dusun Kedaton, Desa Sidomukti, Kecamatan Kebomas, Gresik dengan ketinggian 200 meter dari permukaan laut, sangat mendukung bagi mereka yang ingin mencari ketenangan.
Ditunjang panorama keindahan Kota Gresik yang bisa dilihat secara keseluruhan dari atas bukit, menjadikan pengunjung betah untuk berlama-lama tinggal di petilasan Giri Kedaton.
Seperti diungkapkan Hamim, 42, warga Tanggulangin, Sidoarjo yang sudah hampir dua pekan ramadan ini tinggal di petilasan Giri Kedaton. Di sana ia tidak sendiri, ada tiga pengunjung yang selama Ramadan ini memilih menyepi dari ingar-bingar keramaian kota.
Menurut pemuda yang dulunya membuka usaha pakaian ini, sengaja bermalam di Giri Kedaton untuk mencari ketenangan. Ia berpandangan, setiap bergelut dengan suatu persoalan, dengan sendirinya beban persoalan itu akan menjadi hilang setelah berada di petilasan Giri Kedaton.
Suatu ketika, ia sempat terbelit masalah utang yang menjadikan usahanya bangkrut. Pria yang mempunyai dua orang putri ini sempat stres. Ia kemudian berniat menyendiri di tempat yang dianggapnya bisa menghilangkan beban pikirannya yakni di petilasan Giri Kedaton.
Di tempat ini ia luapkan segala bentuk kegelisahan pikirannya dengan kegitan merenung, bermunajad, dan hasilnya cukup bisa membantu menghilangkan kesuntukannya.
Lain halnya dengan Hermawan, 57, lelaki asal Kota Tasik, Jawa Barat, ini hampir tiap ada waktu luang selalu berkunjung ke petilasan Giri Kedaton. Dalam kunjungannya kali ini, ia sempat bermimpi diberitahu supaya segera meninggalkan Tasik.
Keesokan harinya, ia dan keluarganya pun meninggalkan Tasikmalaya untuk berkunjung ke rumahnya yang berada di Gresik. Setelah dua hari menginap di petilasan Giri Kedaton, lelaki yang juga berdagang pakaian batik ini mendengar dari surat kabar kalau Tasikmalaya diguncang gempa dahsyat.
“Saya kemudian berpikir, mungkin ini salah satu petunjuk,” kata pria yang sejak duduk di bangku perkuliahan senang menyendiri di petilasan Sunan Giri.
Kendati demikian, umumnya para pengunjung petilasan Giri Kedaton menolak dikatakan tujuan untuk menginap dan menyendiri di petilasan Giri Kedaton itu untuk mencari wangsit atau sesuatu hal yang diperlukan untuk tujuan tertentu, seperti demi untuk memperoleh kedudukan atau jabatan, atau hal-hal lain yang mengarah pada syirik.
Mereka berkeyakinan, berdoa itu bisa dilakukan di mana saja tanpa melihat aliran ajaran agama Islam tertentu atau paham ajaran tertentu, di mana tujuan akhirnya untuk mencari ridho Allah.
Kurang PeduliMasyarakat sekitar dan Pemkab Gresik umumnya kurang begitu peduli untuk ikut menjaga dan melestarikan keberadaan situs bersejarah petilasan Giri Kedaton.
Terbukti, mereka seakan memandang sebelah mata keberadaan petilasan ini, kata juru kunci petilasan Giri Kedaton, Mucthar, 57. Berbeda dengan perlakuan warga terhadap Makam Sunan Giri.
Memang selama ini warga dan pemerintah lebih cenderung tertuju pada makam Sunan Giri, tanpa melihat peninggalan bersejarah lainnya. Apalagi Makam Sunan Giri bisa memberikan kontribusi kepada pemkab dari sebagian hasil tarikan retribusi pengunjung, dan bisa menunjang perekonomian masyarakat sekitar.
Berbeda dengan petilasan Giri Kedaton yang tidak menghasilkan sama sekali, karena tempat ini hampir tidak pernah dikunjungi para pendatang atau peziarah dari luar kota. Yang datang hanya satu dua orang yang menginap di petilasan tersebut.
Ia juga menyanyangkan masyarakat yang tidak ikut menjaga dan memelihara situs bersejarah, dengan menggembalakan hewan ternaknya di sekitar situs hingga merusak tanaman dan mengotori punden Giri Kedaton yang menjadikan keberadaan tempat ini penuh kotoran hewan.
“Saya sempat melapor kepada kepala desa untuk melarang warga menggembalakan hewan ternak, tapi masyarakat tidak pernah menggubris,” katanya pasrah.
Tidak hanya itu, yang memprihatinkan lagi karena tempatnya yang sepi, lokasi situs ini menjadi sasaran kalangan remaja untuk dijadikan tempat pacaran, bahkan sering kali juru pelihara pengelola masjid kehilangan kotak amal.
Sementara di lain hal minim perhatian dari Pemkab Gresik. Terbukti sejak tahun 2005 pihaknya mengusulkan untuk mengalokasikan anggaran perawatan situs hingga menyediakan air bersih untuk keperluan mandi cuci kakus (MCK), usulan itu direspons tapi tidak ada realisasi.
Lelaki yang menjadi juru kunci sejak tahun 1987 yang mewarisi profesi ini dari orangtuanya mengatakan, kegiatan pelestarian dan konservasi situs Giri Kedaton tahap satu dilakukan pada tahun 2002 kemudian dilanjutkan tahap kedua 2005. Kegiatan ini dilakukan atas kerjasama Balai Penelitian dan Pelestarian Purbakala (BP3) Trowulan, Mojokerto, dan Dinas Kebudayaan Gresik.
Dalam kegiatan tersebut dilakukan pemetaan, ekskavasi, pengupasan tanah, studi kelayakan pugar bangunan punden berundak masa prasejarah dan bangunan candi Hindu Budha di Indonesia.
Sempat dulu Pemkab Gresik berencana memperluas areal lahan situs Giri Kedaton, namun upaya itu terkendala pembebasan lahan milik warga, baru 625 meter yang sudah dibebaskan. Perluasan lahan itu bertujuan untuk menata kembali banyaknya pepohonan bambu milik warga yang menutupi petilasan Giri Kedaton.
Selama Ramadan tidak ada aktivitas yang ada di masjid Sunan Giri Kedaton, baik salat tarawih maupun tadarus, berbeda dengan masjid dan musala pada umumnya yang ramai dengan aktivitas peribadatan. Warga sekitar enggan menggunakan masjid ini sebagai tempat peribadatan, karena letaknya yang berada jauh di atas bukit.
Ketua Dewan Kesenian Kabupaten Gresik, Kris Aji menilai, selama ini Pemkab Gresik dalam membangun dan merenovasi situs sejarah tanpa melihat sejarah awalnya, sehingga bukannya memelihara justru merusak keaslian situs.
Menurut dia, hal itu kerap kali dilakukan oleh pemkab dengan berangkat dari pengetahuan sejarah yang minim dan tanpa melibatkan para pemerhati sejarah di Gresik tiba-tiba merenovasi situs, seperti Situs Giri Kedaton yang dibangun musala di atas bukit.
Padahal, menurut sejarah bangunan musala yang dulunya menjadi masjid pertama yang menjadi tempat syiar agama Islam oleh Sunan Giri itu dibangun di samping kiri Giri Kedaton, bukannya tepat di tengah bukit.
“Ini yang dikatakan merusak, apalagi bangunan Giri Kedaton terlihat tidak terawat, banyak batu bata dari punden berundak dibiarkan roboh berserakan,” katanya.
Selanjutnya ia mencontohkan bangunan pendopo Sunan Giri yang tidak dibangun berdasar sejarah yang ada, hanya dibuat dengan bentuk menyerupai joglo.
Ia juga menyayangkan mulai banyaknya ahli fungsi tanah situs makam bersejarah di Gresik yang banyak dikomersilkan, seperti banyaknya pendirian tower (menara) seluler di areal Makam Sunan Giri dan Putri Cempo.
Ini sangat menyalahi aturan, keberadaan situs yang mestinya bisa dipertahankan keasliannya, justru dikomersilkan, padahal banyak tempat lain di luar makam yang bisa menjadi tempat berdirinya menara.“Yang seperti ini pemkab kurang memperhatikan, hanya bisa memberikan izin tanpa melihat dasar pertimbangan tempat yang dipakai itu merupakan lahan Makam Sunan Giri yang dikeramatkan,” katanya menegaskan.
Kepala Dinas Pariwisata Gresik, Migfar Syukur beranggapan kewenangan memugar dan merawat situs makam di Gresik merupakan tanggungjawab BP3 Trowulan, dan tahun ini pemkab tidak menganggarkan perawatan untuk situs makam. Tapi semestinya, kata Kris Aji, pemkab selaku tuan rumah setidaknya memberikan saran dan masukan dengan melibatkan para sejarawan Gresik.
“Jangankan dilibatkan, membicarakan tentang seminar untuk mempertahankan situs sejarah di Gresik dengan para pemerhati budaya pun tidak pernah, padadal Gresik dikenal sebagai Kota Santri dan Kota Wali. Namun, pemerintahannya kurang peduli terhadap kelestarian situs makam,” katanya menanggapi pernyataan kadis pariwisata.
Ia sendiri menyesalkan minimnya komunikasi pemkab kepada para pemerhati sejarawan Gresik, sementara dewan kesenian dalam hal ini hanya bisa memberikan saran dan masukan, tinggal menunggu respon dan realisasi dari pemkab sendiri. ant
Senin, 18 Mei 2009
DAMARKURUNG SENI TRADISI MASYARAKAT
Damar Kurung Seni Tradisi Masyarakat Senin, 27 April 2009 10:42 WIB
MUNCULNYA fenomena “pembajakan” damar kurung yang akhirnya membuat keluarga masmundari berinisiatif mematenkan, disikapi reaksi Dewan Kesenian Gresik (DKG). Bahkan Ketua DKG, Kris Adji AW mengatakan, seni lukis damar kurung adalah seni tradisi masyarakat Gresik, sehingga keluarga Masmundari tidak mempunyai hak sepenuhnya mematenkan atas nama pribadi.
MUNCULNYA fenomena “pembajakan” damar kurung yang akhirnya membuat keluarga masmundari berinisiatif mematenkan, disikapi reaksi Dewan Kesenian Gresik (DKG). Bahkan Ketua DKG, Kris Adji AW mengatakan, seni lukis damar kurung adalah seni tradisi masyarakat Gresik, sehingga keluarga Masmundari tidak mempunyai hak sepenuhnya mematenkan atas nama pribadi.
Sabtu, 09 Mei 2009
Lukisan Karya Kris Adji AW Dari Periode ke Periode
Kusam biru hijau melenguh digelap sepi. menyeruak laut malam dalam, kokoh dalam putih bukit kapur yang ikut bersujut dalam kerinduan Tuhan...

Perjalanan waktu melintasi periode sejarah manusia, perlahan dari angka ke angka merekam jejak dalam prasasti warna, menggurat atas garis tangan, berubah seperti angka-angka. Tapi ia tetap angka, yang dilewati jarum jam, tetap sama dalam jiwa. Ia berjalan menelusup setiap jejak peristiwa. kadang lelah bersandar di tiang perahu di gemuruh ombak sejarah....
maka nikmatilah..................................................nikmati.......................................nikmati...........................
nikmati................nikmati......................nikmati.............................................nik................mati...............n...
.....................i.................................k.........................m.......................a.............................t......................i
...................................l..................................a...................................h.............h................h................h..
.......................ha.........................ha.....................ha.......................ha....ha...........ha....................ha...............ha
LUKISAN KRIS ADJI AW; KARYA DEKORATIF 2 (PERIODE KUDA)
Sabtu, 28 Maret 2009
DKJT dan FASILITAS BUDAYA
Senin, 10 Maret 2003
Dewan Kesenian Jatim dan Fasilitas Kebudayaan
KARENA Gubernur Jawa Timur (Jatim) Imam Utomo sendiri yang melantik, maka secara moral gubernur harus mengakui keberadaan Dewan Kesenian Jatim sebagai institusi sah pemangku kebudayaan. Sama sahnya dengan institusi bisnis, institusi olahraga, dan sebagainya.
Kebudayaan mestinya ditempatkan oleh negara sebagai faktor paling penting dalam kehidupan bernegara. Karena semua bangsa yang beradab pasti menganggap kebudayaan adalah roh suatu bangsa.
Bahkan, dalam sejarah terlihat bahwa bangsa-bangsa kuno pun menempatkan kebudayaan sedemikian tinggi. Ini terlihat dari peninggalan-peninggalan kebudayaan yang spektakuler, seperti candi-candi suku Aztec, Inka, dan Maya di Amerika, sphinx dan piramid di Mesir, dan sangat banyak lagi.
Mestinya, kalau Pemerintah Indonesia menjalankan UUD 1945 dengan benar, pasti juga akan melakukan hal yang seperti itu. Karena, dalam UUD 1945 Pasal 32 disebutkan bahwa pemerintah wajib memajukan kebudayaan nasional Indonesia.
Pengertian wajib memajukan mestinya berkonotasi mengutamakan, dan bukan hanya menempatkan kebudayaan sebagai "pelengkap saja" atau "asal ada saja". Kalau kita perbandingkan antara Indonesia dengan Malaysia-tak perlu membandingkan dengan Perancis atau Amerika Serikat-Indonesia kalah jauh dengan upaya Malaysia memajukan kebudayaan. Padahal, kebudayaan Indonesia sudah lama maju dan tingkat kecanggihan yang tinggi dibanding bangsa lain, termasuk sesama puak Melayu di Malaysia.
Jangankan naskah Desawarnana (Negarakertagama) yang notabene ditulis oleh orang dalam Majapahit sendiri, sedangkan naskah Sejarah Raja-raja Melayu karya pujangga Melayu Semenanjung, maupun Hikayat Banjar yang ditulis oleh pujangga Banjar, Kalimantan, pun memuji sungguh-sungguh bahwa kebudayaan Majapahit (kini boleh disebut sebagai pilar utama kebudayaan Jawa dan Indonesia), merupakan kebudayaan yang canggih.
Dalam semua kitab kuno itu tergambarkan, semua raja-raja atau pangeran dari Nusantara ataupun luar Nusantara, menimba ilmu pemerintahan dan kebudayaan dari Majapahit. Ilmu tata pemerintahan Majapahit yang dijadikan pedoman tata pemerintahan raja-raja Nusantara itu telah dikaji mendalam oleh budayawan Indonesia Mr Mohamad Yamin, dan kemudian ditulisnya dalam sebuah buku yang banyak dijadikan rujukan oleh ilmuwan Nusantara.
Setelah Mataram berdiri, unsur-unsur budaya Majapahit itu dipercanggih oleh Mataram dengan mengambil unsur Islam dari keraton Demak yang ditundukkannya, lalu disenyawakan dengan unsur Hindu warisan Majapahit.
Kebudayaan campuran itu, yang kemudian disebut Kejawen menjadi unsur penting yang menjadikan kebudayaan Jawa begitu rumit dan canggih, yang kemudian kelihatan paling menonjol dibanding kebudayaan daerah lain di Indonesia ketika Republik Indonesia didirikan oleh orang-orang Jawa dan etnis lain Indonesia.
KEBUDAYAAN Jawa Kejawen itu oleh seorang budayawan Malaysia, SM Zakir, dinilai sebagai salah satu warisan kebudayaan agung dunia, sejajar dengan kebudayaan Yunani. Ketika Indonesia semakin kokoh di bawah pemerintahan yang kuat (meskipun korup luar biasa), modernisasi juga merasuki semua unsur kebudayaan, terutama disusupkan oleh seniman-seniman intelektual.
Maka, lihatlah kebudayaan Indonesia modern dianggap berkembang luar biasa ketika Jakarta di tahun 1970-an disubsidi oleh Gubernur Ali Sadikin dengan berbagai fasilitas kebudayaan dan uang yang luar biasa banyaknya. Dan, karena Jakarta yang antara lain dimotori oleh DKJ (Dewan Kesenian Jakarta) dan intelektual di Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (Depdikbud) juga merangkul kebudayaan daerah (meski cuma sekadarnya). Namun, kebudayaan daerah pun kemudian berkembang dengan modernisasi yang lumayan.
Akan tetapi, semenjak Ali Sadikin dipecat Soeharto, dan tak ada lagi pejabat yang memperhatikan kebudayaan Indonesia, maka lambat laun bangsa lain, terutama dalam bahasan ini ialah Malaysia dan Singapura, mulai menyalip Indonesia. Misalnya, Malaysia sejak Mahathir Mohammad terpilih menjadi perdana menteri di akhir tahun 1970-an, yang dicanangkannya adalah "Ekonomi Baru Malaysia". Namun, dalam program ekonomi baru itu termasuk pula memajukan kebudayaan.
Oleh karena itulah, di samping memajukan ekonomi Malaysia yang bercirikan: "menomorsatukan hak-hak rakyat pribumi", Malaysia juga mengguyur kegiatan pendidikan dan kebudayaan dengan dana yang luar biasa besarnya. Termasuk mengirim sebanyak-banyaknya mahasiswanya dengan beasiswa dari pemerintah untuk belajar ke luar negeri (termasuk ke Indonesia), dan pembangunan infrastruktur kesenian dan kebudayaan luar biasa banyaknya, bahkan boleh dikata berlebihan.
Saya ambil contoh, jika Pemerintah DKI Jakarta memberi dana untuk DKJ sekitar Rp 2 milyar setahun untuk seluruh komite, Pemerintah Malaysia memberi dana rutin Rp 7 milyar setahun (berdasar buku laporan Gapena tahun 1999 dan kini mungkin sudah diperbesar lagi) kepada lembaga swadaya masyarakat (LSM) pelat merah yang hanya mengurusi sastra tok yang bernama Gabungan Persatuan Penulis Nasional Malaysia (Gapena).
Itu belum termasuk fasilitas gedung yang amat sangat representatif, plus 50 ekar (hektar atau acre?) tanah di daerah Sungai Tekali, Ulu Langat, pinggiran Kuala Lumpur yang boleh disewakan dan hasil sewanya boleh dipakai untuk kegiatan Gapena.
Di samping itu, pemerintah juga menghibahkan 14 unit kilang industri kecil di Bukit Serdang, juga di pinggiran Kuala Lumpur yang ongkos sewanya masuk ke kantung Gapena sebagai dana abadi.
Itu pun masih ditambah dengan berbagai proyek pemerintah yang diorderkan kepada Gapena, plus berbagai sumbangan dari lembaga bisnis, misalnya, bank, perusahaan minyak, dan sebagainya, yang seakan berlomba memberi sponsor kepada Gapena. Gapena juga mempunyai saham di beberapa bank, dan sejak tahun 1999 mendirikan perusahaan Gapeniaga dan Akademi Gapena.
Sudah begitu, Gapena masih berani mengkritisi kebijakan-kebijakan Pemerintah Malaysia yang dipandang merugikan pembangunan kebudayaan Malaysia, terutama kebudayaan Melayu.
KINI kita lihat di Surabaya, Kantor Dewan Kesenian Jatim masih nebeng di Kompleks Taman Budaya Jawa Timur (TBJT). Itu pun konon TBJT-nya akan dijual ke tauke yang ingin mendirikan kompleks bisnis.
Apakah semua dewan kesenian di Indonesia ditelantarkan oleh pemerintah yang lebih tertarik mengurusi bisnis dan intrik politik dan anti-kebudayaan, seakan-akan manusia itu hanya butuh makan persis seperti binatang dan tidak butuh kebudayaan? Hal itu adalah tergantung kesadaran gubernurnya.
Memang, umumnya dewan kesenian di Indonesia ditelantarkan, tetapi di Riau, Lampung, Medan, Samarinda, dan Pontianak, dewan kesenian mendapat perhatian dan guyuran dana dari pemerintahnya. Bahkan, Riau yang paling fantastis dalam hal dana dan fasilitas, mungkin karena mereka mencontoh tetangga dekat mereka, Malaysia dan Singapura.
Di samping itu, karena seniman-seniman Riau memang bergaul sangat dekat dengan gubernur dan para pejabat Riau serta kaum bisnis dan industriwan di sana. Bahkan, beberapa pejabat Riau dan pengusaha Riau berasal dari kalangan seniman, persis seperti di Malaysia.
Di Riau hanya menjadi seniman total saja seseorang sudah bisa hidup, padahal taraf hidup dan harga-harga di Riau sangat mahal, karena proyek seni diadakan bukan hanya tiap minggu, namun hampir setiap hari. Sedangkan event seni yang sangat besar diadakan hampir setiap bulan, yang bahkan mengundang seniman dari Malaysia, Singapura, Brunei, dan Thailand.
Maka, tantangan para pengurus Dewan Kesenian Jatim kini adalah mendekati gubernur dan pengusaha, dan meyakinkan kepada mereka bahwa manusia itu tidak sama dengan binatang. Yang membedakan manusia dengan binatang adalah faktor kebudayaan, faktor lainnya sama saja.
VIDDY AD DAERY, penyair, novelis, dan penulis kolom
Dewan Kesenian Jatim dan Fasilitas Kebudayaan
KARENA Gubernur Jawa Timur (Jatim) Imam Utomo sendiri yang melantik, maka secara moral gubernur harus mengakui keberadaan Dewan Kesenian Jatim sebagai institusi sah pemangku kebudayaan. Sama sahnya dengan institusi bisnis, institusi olahraga, dan sebagainya.
Kebudayaan mestinya ditempatkan oleh negara sebagai faktor paling penting dalam kehidupan bernegara. Karena semua bangsa yang beradab pasti menganggap kebudayaan adalah roh suatu bangsa.
Bahkan, dalam sejarah terlihat bahwa bangsa-bangsa kuno pun menempatkan kebudayaan sedemikian tinggi. Ini terlihat dari peninggalan-peninggalan kebudayaan yang spektakuler, seperti candi-candi suku Aztec, Inka, dan Maya di Amerika, sphinx dan piramid di Mesir, dan sangat banyak lagi.
Mestinya, kalau Pemerintah Indonesia menjalankan UUD 1945 dengan benar, pasti juga akan melakukan hal yang seperti itu. Karena, dalam UUD 1945 Pasal 32 disebutkan bahwa pemerintah wajib memajukan kebudayaan nasional Indonesia.
Pengertian wajib memajukan mestinya berkonotasi mengutamakan, dan bukan hanya menempatkan kebudayaan sebagai "pelengkap saja" atau "asal ada saja". Kalau kita perbandingkan antara Indonesia dengan Malaysia-tak perlu membandingkan dengan Perancis atau Amerika Serikat-Indonesia kalah jauh dengan upaya Malaysia memajukan kebudayaan. Padahal, kebudayaan Indonesia sudah lama maju dan tingkat kecanggihan yang tinggi dibanding bangsa lain, termasuk sesama puak Melayu di Malaysia.
Jangankan naskah Desawarnana (Negarakertagama) yang notabene ditulis oleh orang dalam Majapahit sendiri, sedangkan naskah Sejarah Raja-raja Melayu karya pujangga Melayu Semenanjung, maupun Hikayat Banjar yang ditulis oleh pujangga Banjar, Kalimantan, pun memuji sungguh-sungguh bahwa kebudayaan Majapahit (kini boleh disebut sebagai pilar utama kebudayaan Jawa dan Indonesia), merupakan kebudayaan yang canggih.
Dalam semua kitab kuno itu tergambarkan, semua raja-raja atau pangeran dari Nusantara ataupun luar Nusantara, menimba ilmu pemerintahan dan kebudayaan dari Majapahit. Ilmu tata pemerintahan Majapahit yang dijadikan pedoman tata pemerintahan raja-raja Nusantara itu telah dikaji mendalam oleh budayawan Indonesia Mr Mohamad Yamin, dan kemudian ditulisnya dalam sebuah buku yang banyak dijadikan rujukan oleh ilmuwan Nusantara.
Setelah Mataram berdiri, unsur-unsur budaya Majapahit itu dipercanggih oleh Mataram dengan mengambil unsur Islam dari keraton Demak yang ditundukkannya, lalu disenyawakan dengan unsur Hindu warisan Majapahit.
Kebudayaan campuran itu, yang kemudian disebut Kejawen menjadi unsur penting yang menjadikan kebudayaan Jawa begitu rumit dan canggih, yang kemudian kelihatan paling menonjol dibanding kebudayaan daerah lain di Indonesia ketika Republik Indonesia didirikan oleh orang-orang Jawa dan etnis lain Indonesia.
KEBUDAYAAN Jawa Kejawen itu oleh seorang budayawan Malaysia, SM Zakir, dinilai sebagai salah satu warisan kebudayaan agung dunia, sejajar dengan kebudayaan Yunani. Ketika Indonesia semakin kokoh di bawah pemerintahan yang kuat (meskipun korup luar biasa), modernisasi juga merasuki semua unsur kebudayaan, terutama disusupkan oleh seniman-seniman intelektual.
Maka, lihatlah kebudayaan Indonesia modern dianggap berkembang luar biasa ketika Jakarta di tahun 1970-an disubsidi oleh Gubernur Ali Sadikin dengan berbagai fasilitas kebudayaan dan uang yang luar biasa banyaknya. Dan, karena Jakarta yang antara lain dimotori oleh DKJ (Dewan Kesenian Jakarta) dan intelektual di Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (Depdikbud) juga merangkul kebudayaan daerah (meski cuma sekadarnya). Namun, kebudayaan daerah pun kemudian berkembang dengan modernisasi yang lumayan.
Akan tetapi, semenjak Ali Sadikin dipecat Soeharto, dan tak ada lagi pejabat yang memperhatikan kebudayaan Indonesia, maka lambat laun bangsa lain, terutama dalam bahasan ini ialah Malaysia dan Singapura, mulai menyalip Indonesia. Misalnya, Malaysia sejak Mahathir Mohammad terpilih menjadi perdana menteri di akhir tahun 1970-an, yang dicanangkannya adalah "Ekonomi Baru Malaysia". Namun, dalam program ekonomi baru itu termasuk pula memajukan kebudayaan.
Oleh karena itulah, di samping memajukan ekonomi Malaysia yang bercirikan: "menomorsatukan hak-hak rakyat pribumi", Malaysia juga mengguyur kegiatan pendidikan dan kebudayaan dengan dana yang luar biasa besarnya. Termasuk mengirim sebanyak-banyaknya mahasiswanya dengan beasiswa dari pemerintah untuk belajar ke luar negeri (termasuk ke Indonesia), dan pembangunan infrastruktur kesenian dan kebudayaan luar biasa banyaknya, bahkan boleh dikata berlebihan.
Saya ambil contoh, jika Pemerintah DKI Jakarta memberi dana untuk DKJ sekitar Rp 2 milyar setahun untuk seluruh komite, Pemerintah Malaysia memberi dana rutin Rp 7 milyar setahun (berdasar buku laporan Gapena tahun 1999 dan kini mungkin sudah diperbesar lagi) kepada lembaga swadaya masyarakat (LSM) pelat merah yang hanya mengurusi sastra tok yang bernama Gabungan Persatuan Penulis Nasional Malaysia (Gapena).
Itu belum termasuk fasilitas gedung yang amat sangat representatif, plus 50 ekar (hektar atau acre?) tanah di daerah Sungai Tekali, Ulu Langat, pinggiran Kuala Lumpur yang boleh disewakan dan hasil sewanya boleh dipakai untuk kegiatan Gapena.
Di samping itu, pemerintah juga menghibahkan 14 unit kilang industri kecil di Bukit Serdang, juga di pinggiran Kuala Lumpur yang ongkos sewanya masuk ke kantung Gapena sebagai dana abadi.
Itu pun masih ditambah dengan berbagai proyek pemerintah yang diorderkan kepada Gapena, plus berbagai sumbangan dari lembaga bisnis, misalnya, bank, perusahaan minyak, dan sebagainya, yang seakan berlomba memberi sponsor kepada Gapena. Gapena juga mempunyai saham di beberapa bank, dan sejak tahun 1999 mendirikan perusahaan Gapeniaga dan Akademi Gapena.
Sudah begitu, Gapena masih berani mengkritisi kebijakan-kebijakan Pemerintah Malaysia yang dipandang merugikan pembangunan kebudayaan Malaysia, terutama kebudayaan Melayu.
KINI kita lihat di Surabaya, Kantor Dewan Kesenian Jatim masih nebeng di Kompleks Taman Budaya Jawa Timur (TBJT). Itu pun konon TBJT-nya akan dijual ke tauke yang ingin mendirikan kompleks bisnis.
Apakah semua dewan kesenian di Indonesia ditelantarkan oleh pemerintah yang lebih tertarik mengurusi bisnis dan intrik politik dan anti-kebudayaan, seakan-akan manusia itu hanya butuh makan persis seperti binatang dan tidak butuh kebudayaan? Hal itu adalah tergantung kesadaran gubernurnya.
Memang, umumnya dewan kesenian di Indonesia ditelantarkan, tetapi di Riau, Lampung, Medan, Samarinda, dan Pontianak, dewan kesenian mendapat perhatian dan guyuran dana dari pemerintahnya. Bahkan, Riau yang paling fantastis dalam hal dana dan fasilitas, mungkin karena mereka mencontoh tetangga dekat mereka, Malaysia dan Singapura.
Di samping itu, karena seniman-seniman Riau memang bergaul sangat dekat dengan gubernur dan para pejabat Riau serta kaum bisnis dan industriwan di sana. Bahkan, beberapa pejabat Riau dan pengusaha Riau berasal dari kalangan seniman, persis seperti di Malaysia.
Di Riau hanya menjadi seniman total saja seseorang sudah bisa hidup, padahal taraf hidup dan harga-harga di Riau sangat mahal, karena proyek seni diadakan bukan hanya tiap minggu, namun hampir setiap hari. Sedangkan event seni yang sangat besar diadakan hampir setiap bulan, yang bahkan mengundang seniman dari Malaysia, Singapura, Brunei, dan Thailand.
Maka, tantangan para pengurus Dewan Kesenian Jatim kini adalah mendekati gubernur dan pengusaha, dan meyakinkan kepada mereka bahwa manusia itu tidak sama dengan binatang. Yang membedakan manusia dengan binatang adalah faktor kebudayaan, faktor lainnya sama saja.
VIDDY AD DAERY, penyair, novelis, dan penulis kolom
Selasa, 17 Maret 2009
BERTEMU TOKOH MENGGALI INSPIRASI
Setiap kali aku bertemu para tokoh, baik itu tokohseniman, budayawan agamawan maupun politik, maka ada banyak hal yang diperbincangkan dan memunculkan ide-ide baru yang tergali untuk kelangsungan karya-karyaku.
Berbagai masalah sosial kehidupan yang demikian kompleks serta masalah kelangsungan jagad alam semesta membutuhkan perhatian dan sentuhan hati yang barangkali bisa jadi sentuhan-sentuhan itu muncul seberkas cahaya solusi bagi kita manusia yang menyandang tugas sebagai khalifah Tuhan di bumi yang fana ini.
Ada banyak hal yang menjadikan para tokoh dengan sejumlah prestasi ketokohannya itu dan pemikiran-pemikirannya dari dunia yang cenderung mereka geluti itu, belum pernah kita dapatkan dari dunia keseharian kita. Seperti halnya pemikiran-pemikiran yang aku dapatkan dari sejumlah orang “biasa” yang kata orang lain awam dan sederhana, tapi tak disangka ternyata ada gagasan –gagasan yang cemerlang dan sayang untuk diabaikan.
Ada kalanya memang perlu bertemu mereka atau paling tidak membaca buku-buku karya mereka dan menyelami pemikiran-pemikirannya untuk mendapatkan pencerahan hidup, daya hidup dan semangat berkarya yang terpacu terus menerus menjadikanku terus terpacu untuk menciptakan karya-karya yang baru. (Kris Adji AW).
Berbagai masalah sosial kehidupan yang demikian kompleks serta masalah kelangsungan jagad alam semesta membutuhkan perhatian dan sentuhan hati yang barangkali bisa jadi sentuhan-sentuhan itu muncul seberkas cahaya solusi bagi kita manusia yang menyandang tugas sebagai khalifah Tuhan di bumi yang fana ini.
Ada banyak hal yang menjadikan para tokoh dengan sejumlah prestasi ketokohannya itu dan pemikiran-pemikirannya dari dunia yang cenderung mereka geluti itu, belum pernah kita dapatkan dari dunia keseharian kita. Seperti halnya pemikiran-pemikiran yang aku dapatkan dari sejumlah orang “biasa” yang kata orang lain awam dan sederhana, tapi tak disangka ternyata ada gagasan –gagasan yang cemerlang dan sayang untuk diabaikan.
Ada kalanya memang perlu bertemu mereka atau paling tidak membaca buku-buku karya mereka dan menyelami pemikiran-pemikirannya untuk mendapatkan pencerahan hidup, daya hidup dan semangat berkarya yang terpacu terus menerus menjadikanku terus terpacu untuk menciptakan karya-karya yang baru. (Kris Adji AW).

Senin, 12 Januari 2009
ALAMAT GALERI DAN RUMAH SENI
Cemeti Art House (Mella Jaarsma & Nindityo Adipurnomo)Jalan D.I. Panjaitan No. 41, Yogyakarta 55143, Indonesia.Phone/Fax +62 274 371015.Email cemetiah@indosat.net.idWebsite www.cemetiarthouse.com
Edwin Galeri (Edwin Rahardjo)Jalan Kemang Raya 21 Jakarta 12730, Indonesia. Phone +62 21 7194721, Fax +62 21 71790278 Email edwingaleri@cbn.net.id Website www.info.batavianet.com/edwingallery
KompasEmail: kcm@kompas.com website: www.kompas.com
Kedai Kebun Kafe & Galeri (Neni & Agung Kurniawan)Jalan Tirtodipuran 3, Jogjakarta 55143, Indonesia. Phone +62 274 376114
Jawa Pos website: http://www.jawapos.co.id
Lembaga Indonesia-Prancis (Jean-Pascal Elbaz)Jalan Sagan 3, Jogjakarta 55223, Indonesia. Phone +62 274 566520, Fax +62 274 562140
Kafe Solo Jalan Dr. Rajiman 261 Solo, Indonesia. Phone/Fax +62 271 632 935
Cemara 6 Galeri Kafe (Dr. Toeti Heraty)Jalan HOS Cokroaminoto 9-11, Jakarta 10350, Indonesia. Phone +62 21 324505, Fax +62 21 325890
Kucing Yogya Art Network (M. Amin Mukti)Email kucingyk@yahoo.comWebsite http://kucingyogya.port5.com
Bisnis Indonesia RedaksiEmail web@bisnis.co.id website: http://www.bisnis.co.id/Galeri AirJalan Puntadewa Gang Malabar No. 5, Sorowajan Baru, Jogjakarta, IndonesiaPhone +62 274 514 393 Mobile +62 81 827 2217 Email air-art@usa.net
Lembaga Penelitian Institut Seni Indonesia (Dr. M. Dwi Marianto)Jalan Parangtritis Km. 6, PO Box 1210, Jogjakarta, Indonesia Phone +62 274 379935 Fax +62 274 371233
Sculpture Square Limited (Charissa Ee)155 Middle Road Singapore 188977 Phone: (65) 333-1055 Fax: (65) 333-1655Email: arts@sculpturesq.com.sg Website: www.sculpturesq.com.sg
Badd Painting Publishing House (Luh Kingkin)Jalan Monginsidi 21, Solo 57129, Indonesia Email: baddpainting@yahoo.com Websitehttp://baddpainting.port5.com
Wordsmith Garage (Nina Wilhelmina)Vosshorn 17 D-24109, Kiel, Germany Email: vosshorn@yahoo.comLudwig Forum für Internationale KunstJülicher Strasse 97-109, D-52070, Aachen, Germany Phone +49 241 1807 142
Museum Küppersmühle Sammlung GrothePhilosophenweg 55 D-47051, Duisburg, GermanyPhone +49 203 30 19 48 11, Fax +49 203 30 19 48 21Email kueppersmuehle@t-online.de Website www.museum-kueppersmuehle.de
KIASMA Museum of Contemporary ArtMannerheiminiaukio 2 FIN-00100, Helsinki, FinlandPhone +358 9 1733 6541, Fax +358 9 1733 6575 Website www.kiasma.fng.fi
The Culture Society59 Bowmont Gardens, Singapore 459904 Phone/Fax +65 442 0686
Nanyang Academy of Fine Arts11 Upper Wilkie Road, Singapore 228120 Phone 333 9849, Fax 333 9498Website www.nafa.edu.sg
Calibre Pictures 'n' Ideas (Jimmy Fok)53A Chay Yan Street, Singapore 169922 Phone 225 1005, Fax 225 9759Email calibre@mac.com Website http://fly.to/calibre
Soobin Art Gallery Pte.Ltd. (Chua Soo Bin)140 Hill Street MITA Building #01-10/11/12, Singapore 179369Phone 8372777, Fax 3397767 Email duhualou@pacific.net.sg Website www.soobinart.com.sg
Java Gallery (Suwenda Saptari)Jalan Kemang Raya 36, Jakarta 12730, Indonesia Phone +62 21 7194481, Fax +62 21 71793386Email javagall@rad.net.id
Andi's Gallery (Andi Yustana)Jalan Tanah Abang 4/14, Jakarta 10160, Indonesia Phone +62 21 345 7130, Fax +62 21 380 5195
Murni's Art StudioPO Box 82, Ubud 80571, Gianyar, Bali, Indonesia Phone/Fax +62 361 976 453Email baliartmurni@baliartmurni.com
Embun Gallery (Cherry Salim)Gang Harjuno 17, Wirobrajan, Yogyakarta 55252, Indonesia Phone/Fax +62 274 374557Email embun@indo.net.id
Persatuan Pelukis Cat Air Indonesia The Indonesian Watercolour Society (Tomy Faisal Alim)Jalan Suka Jaya II No. 12, RT 003 RW 007, Jelambar, Jakarta 11460, IndonesiaPhone/Fax +62 21 567 9694 Mobile +62 816 483 5924
PT Balai Lelang IndonesiaGraha Balindo, Jalan Monginsidi No. 51, Jakarta 12180, IndonesiaPhone +62 21 7279 5555 Ext. 123 Fax +62 21 723 0168 Website www.balindo.com
UD Retna Jaya (H. Pawiro Dimulyo)Jalan Yogya-Wonosari Km. 8, Yogyakarta, Indonesia Phone +62 274 383 336
Singapore Press Holdings Limited82 Genting Lane, News Centre, Singapore 349567 Phone 743 2574 Website www.zaobao.com.sg
Gnomadic Publishing20 Raffles Place #10-05, Ocean Towers, Singapore 048620 Phone +65 324 7505, Fax +65 324 3341
Galeri Petronas Petroliam Nasional BerhadLevel 71, Tower 1, Petronas Twin Towers, Kuala Lumpur City Centre, 50088 Kuala Lumpur, Malaysia Phone 03-581 1227
BasisJalan Cempaka 9, Deresan, Yogyakarta 55281, Indonesia Phone +62 274 588 783, Fax +62 274 585 498Email basis@yogya.wasantara.net.id
Pustaka Pelajar Publishing Company (H. Mas'ud)Glagah UH IV/343, Yogyakarta 55164, Indonesia Phone +62 274 564306Email pustaka@yogya.wasantara.net.id
OmBo GalleryGamping Lor RT 8 RW 13, Ambarketawang, Gamping, Sleman, Jogjakarta Phone +62 8161117648 Email boudewijnb@hotmail.com Website http://home.wanadoo.nl/boudewijnb
Eddie Hara (painter)Breisacherstrasse 46 CH-4057, Basel, Switzerland Phone/fax 0041-61-6910296Email hara@freesurf.ch
Bob 'Sick' Yudhita (painter)Jalan Gampingan 1 Jogjakarta Indonesia Phone +62 81 827 3455 Website www.geocities.com/bobsick71
Toxic Tattoo (Munir)Jalan HOS Cokroaminoto 54, Jogjakarta Indonesia Phone +62 81 827 7339 Email toxictattoo@yahoo.com
Canvas International ArtMartijn Kielstra Lijnbaansgracht 319, 1017 WZ, Amsterdam, HollandPhone 00 31 20 4286040 Fax 00 31 20 4286041Email canvas@euronet.nl Website www.canvas-art.nl
Gwangju Biennale (Wan-kyung Sung)Gwangju Biennale FoundationSan 149-2, Yongbong-dong, Buk-gu, Gwangju 500-070, KoreaPhone +82 0 62 515 4624 Fax +82 0 62 515 4662Email lunapark@unitel.co.kr Website www.gwangju-biennale.org
Pius Sigit Kuncoro (multimedia artist)Ngesrep Barat III-30F, Semarang, Indonesia Phone +62 24 7475 724 Email si-zgit@lycos.com
Island Life Travel Lifestyle Magazine (B. Mudi Astuti) MD CommunicationsJalan Erlangga V No. 19, Selong, Kebayoran Baru, Jakarta 12110, IndonesiaPO Box 1723, JKP 10017, Indonesia Phone +62 21 7392831 Fax +62 21 72798370Email info@islandlifemag.com Website www.islandlifemag.com
Jim Kempner Fine Art501 West 23rd Street, NY 10011, USA Phone +1 212 206 6872 Fax +1 212 206 6873Email jkfa@rcn.com Website www.artnet.com/jkfa.html
Sasya Tranggono (artist)Jalan Sumatra 12, Menteng, Jakarta 10350, Indonesia Phone +62 21 314 4534 Fax +62 21 314 4534Email sasyita@sasyita.web.id
Ise Cultural Foundation#401 Roppong 5-15-21, Minato-ku, Tokyo 106-0032, JapanPhone 03 3560 1271 Fax 03 3560 1273 Website www.isefoundation.org
Keyes Gallery (Gail Goodwin)229 South Market Street, Springfield, Missouri 65806, USA Phone +1 417 866 272Fax +1 417 866 2851 Website www.keyesgallery.com
Koan Jeff Baysa (collector/art consultant)Canal Street Station PO Box 995 NY 10013-0865 USA Email macdeus@earthlink.netWebsite http://home.earthlink.net/~macdeus/
MIT List Visual Arts Center (Bill Arning)Wiesner Building E15-109, 20 Ames Street, Cambridge, Massachusetts 02139USA Phone +1 617 253 9480 Fax +1 617 258 7265 Email barning@mit.edu
Bjarne Werner Sørensen (artist)Skydebanegade 11, 3.fv, DK 1709, Copenhagen, DenmarkPhone +45 36 963196 Email bjarne@skydebanen.net Website www.skydebanen.net/~bjarne
Gabriele Nagel (artist)Dunckerstrasse 15, 10437, Berlin, Germany Phone +49 30/44 719840 Email gnagel27@aol.com
Chao Lee (artist)Phone: Taiwan 11 886 55 866 234 Email chao58@hotmail.com
My Art Prospects (Miyako Yoshinaga)135 West 29th Street, Suite 1002/10th Floor, NY 10001 USAPhone +1 212 268 7132 Fax +1 212 268 7147 Email myartpro@aol.com
Asian Cultural Council437 Madison Avenue, NY 10022-7001, USA Phone +1 212 812 4300 Fax +1 212 812 4299Email acc@accny.org
Association of Performing Arts Presenters1112 16th Street, NW Suite 400, Washington, D.C. 20036, USAPhone +1 202 833 2787 Fax +1 202 833 1543 Email dmccloud@artspresenters.org Website www.artspresenters.org
Michael Gard2126 Grove Street, San Francisco, California 94117, USAPhone +1 415 933 8153 Email michaelgard@excite.com Website www.michaelgard.com
Borobudur Cafe, Indonesian Cuisine (Danny Purba)128 East 4th Street, NY 10003, USA Phone +1 212 614 9079 Fax+1 212 614 9082
International Studio &Curatorial Program323 West 39th Street, Suite 806, NY 10018-1411Phone +1 212 279 1173 Fax +1 212 279 0773 Email ispnyc@concentric.netWebsite www.iscp-nyc.org
Erasmus HuisJalan H.R. Rasuna Said Kav. S-3, Kuningan, Jakarta 12950, Indonesia. Phone+62 21 5241027, Fax +62 21 5275981. Email erastaal@indo.net.id
Rumah Seni RupaJalan Ontoseno 6, Wirobrajan, Jogjakarta 55252. Phone +62 274 413986, Fax +62 274 411 441. Email rumahseni@yogya.wasantara.net.id
The Jakarta Postwebsite: http://www.thejakartapost.com/headlines.asp
Social AgencyGlagah UH IV/343 Jogjakarta 55164, Indonesia. Phone +62 274 564306. Email pustaka@yogya.wasantara.net.id
Art SotoVosshorn 17 D-24109, Kiel, Germany. Phone +49 431 672907. Email theartsoto@yahoo.id
Edwin Galeri (Edwin Rahardjo)Jalan Kemang Raya 21 Jakarta 12730, Indonesia. Phone +62 21 7194721, Fax +62 21 71790278 Email edwingaleri@cbn.net.id Website www.info.batavianet.com/edwingallery
KompasEmail: kcm@kompas.com website: www.kompas.com
Kedai Kebun Kafe & Galeri (Neni & Agung Kurniawan)Jalan Tirtodipuran 3, Jogjakarta 55143, Indonesia. Phone +62 274 376114
Jawa Pos website: http://www.jawapos.co.id
Lembaga Indonesia-Prancis (Jean-Pascal Elbaz)Jalan Sagan 3, Jogjakarta 55223, Indonesia. Phone +62 274 566520, Fax +62 274 562140
Kafe Solo Jalan Dr. Rajiman 261 Solo, Indonesia. Phone/Fax +62 271 632 935
Cemara 6 Galeri Kafe (Dr. Toeti Heraty)Jalan HOS Cokroaminoto 9-11, Jakarta 10350, Indonesia. Phone +62 21 324505, Fax +62 21 325890
Kucing Yogya Art Network (M. Amin Mukti)Email kucingyk@yahoo.comWebsite http://kucingyogya.port5.com
Bisnis Indonesia RedaksiEmail web@bisnis.co.id website: http://www.bisnis.co.id/Galeri AirJalan Puntadewa Gang Malabar No. 5, Sorowajan Baru, Jogjakarta, IndonesiaPhone +62 274 514 393 Mobile +62 81 827 2217 Email air-art@usa.net
Lembaga Penelitian Institut Seni Indonesia (Dr. M. Dwi Marianto)Jalan Parangtritis Km. 6, PO Box 1210, Jogjakarta, Indonesia Phone +62 274 379935 Fax +62 274 371233
Sculpture Square Limited (Charissa Ee)155 Middle Road Singapore 188977 Phone: (65) 333-1055 Fax: (65) 333-1655Email: arts@sculpturesq.com.sg Website: www.sculpturesq.com.sg
Badd Painting Publishing House (Luh Kingkin)Jalan Monginsidi 21, Solo 57129, Indonesia Email: baddpainting@yahoo.com Websitehttp://baddpainting.port5.com
Wordsmith Garage (Nina Wilhelmina)Vosshorn 17 D-24109, Kiel, Germany Email: vosshorn@yahoo.comLudwig Forum für Internationale KunstJülicher Strasse 97-109, D-52070, Aachen, Germany Phone +49 241 1807 142
Museum Küppersmühle Sammlung GrothePhilosophenweg 55 D-47051, Duisburg, GermanyPhone +49 203 30 19 48 11, Fax +49 203 30 19 48 21Email kueppersmuehle@t-online.de Website www.museum-kueppersmuehle.de
KIASMA Museum of Contemporary ArtMannerheiminiaukio 2 FIN-00100, Helsinki, FinlandPhone +358 9 1733 6541, Fax +358 9 1733 6575 Website www.kiasma.fng.fi
The Culture Society59 Bowmont Gardens, Singapore 459904 Phone/Fax +65 442 0686
Nanyang Academy of Fine Arts11 Upper Wilkie Road, Singapore 228120 Phone 333 9849, Fax 333 9498Website www.nafa.edu.sg
Calibre Pictures 'n' Ideas (Jimmy Fok)53A Chay Yan Street, Singapore 169922 Phone 225 1005, Fax 225 9759Email calibre@mac.com Website http://fly.to/calibre
Soobin Art Gallery Pte.Ltd. (Chua Soo Bin)140 Hill Street MITA Building #01-10/11/12, Singapore 179369Phone 8372777, Fax 3397767 Email duhualou@pacific.net.sg Website www.soobinart.com.sg
Java Gallery (Suwenda Saptari)Jalan Kemang Raya 36, Jakarta 12730, Indonesia Phone +62 21 7194481, Fax +62 21 71793386Email javagall@rad.net.id
Andi's Gallery (Andi Yustana)Jalan Tanah Abang 4/14, Jakarta 10160, Indonesia Phone +62 21 345 7130, Fax +62 21 380 5195
Murni's Art StudioPO Box 82, Ubud 80571, Gianyar, Bali, Indonesia Phone/Fax +62 361 976 453Email baliartmurni@baliartmurni.com
Embun Gallery (Cherry Salim)Gang Harjuno 17, Wirobrajan, Yogyakarta 55252, Indonesia Phone/Fax +62 274 374557Email embun@indo.net.id
Persatuan Pelukis Cat Air Indonesia The Indonesian Watercolour Society (Tomy Faisal Alim)Jalan Suka Jaya II No. 12, RT 003 RW 007, Jelambar, Jakarta 11460, IndonesiaPhone/Fax +62 21 567 9694 Mobile +62 816 483 5924
PT Balai Lelang IndonesiaGraha Balindo, Jalan Monginsidi No. 51, Jakarta 12180, IndonesiaPhone +62 21 7279 5555 Ext. 123 Fax +62 21 723 0168 Website www.balindo.com
UD Retna Jaya (H. Pawiro Dimulyo)Jalan Yogya-Wonosari Km. 8, Yogyakarta, Indonesia Phone +62 274 383 336
Singapore Press Holdings Limited82 Genting Lane, News Centre, Singapore 349567 Phone 743 2574 Website www.zaobao.com.sg
Gnomadic Publishing20 Raffles Place #10-05, Ocean Towers, Singapore 048620 Phone +65 324 7505, Fax +65 324 3341
Galeri Petronas Petroliam Nasional BerhadLevel 71, Tower 1, Petronas Twin Towers, Kuala Lumpur City Centre, 50088 Kuala Lumpur, Malaysia Phone 03-581 1227
BasisJalan Cempaka 9, Deresan, Yogyakarta 55281, Indonesia Phone +62 274 588 783, Fax +62 274 585 498Email basis@yogya.wasantara.net.id
Pustaka Pelajar Publishing Company (H. Mas'ud)Glagah UH IV/343, Yogyakarta 55164, Indonesia Phone +62 274 564306Email pustaka@yogya.wasantara.net.id
OmBo GalleryGamping Lor RT 8 RW 13, Ambarketawang, Gamping, Sleman, Jogjakarta Phone +62 8161117648 Email boudewijnb@hotmail.com Website http://home.wanadoo.nl/boudewijnb
Eddie Hara (painter)Breisacherstrasse 46 CH-4057, Basel, Switzerland Phone/fax 0041-61-6910296Email hara@freesurf.ch
Bob 'Sick' Yudhita (painter)Jalan Gampingan 1 Jogjakarta Indonesia Phone +62 81 827 3455 Website www.geocities.com/bobsick71
Toxic Tattoo (Munir)Jalan HOS Cokroaminoto 54, Jogjakarta Indonesia Phone +62 81 827 7339 Email toxictattoo@yahoo.com
Canvas International ArtMartijn Kielstra Lijnbaansgracht 319, 1017 WZ, Amsterdam, HollandPhone 00 31 20 4286040 Fax 00 31 20 4286041Email canvas@euronet.nl Website www.canvas-art.nl
Gwangju Biennale (Wan-kyung Sung)Gwangju Biennale FoundationSan 149-2, Yongbong-dong, Buk-gu, Gwangju 500-070, KoreaPhone +82 0 62 515 4624 Fax +82 0 62 515 4662Email lunapark@unitel.co.kr Website www.gwangju-biennale.org
Pius Sigit Kuncoro (multimedia artist)Ngesrep Barat III-30F, Semarang, Indonesia Phone +62 24 7475 724 Email si-zgit@lycos.com
Island Life Travel Lifestyle Magazine (B. Mudi Astuti) MD CommunicationsJalan Erlangga V No. 19, Selong, Kebayoran Baru, Jakarta 12110, IndonesiaPO Box 1723, JKP 10017, Indonesia Phone +62 21 7392831 Fax +62 21 72798370Email info@islandlifemag.com Website www.islandlifemag.com
Jim Kempner Fine Art501 West 23rd Street, NY 10011, USA Phone +1 212 206 6872 Fax +1 212 206 6873Email jkfa@rcn.com Website www.artnet.com/jkfa.html
Sasya Tranggono (artist)Jalan Sumatra 12, Menteng, Jakarta 10350, Indonesia Phone +62 21 314 4534 Fax +62 21 314 4534Email sasyita@sasyita.web.id
Ise Cultural Foundation#401 Roppong 5-15-21, Minato-ku, Tokyo 106-0032, JapanPhone 03 3560 1271 Fax 03 3560 1273 Website www.isefoundation.org
Keyes Gallery (Gail Goodwin)229 South Market Street, Springfield, Missouri 65806, USA Phone +1 417 866 272Fax +1 417 866 2851 Website www.keyesgallery.com
Koan Jeff Baysa (collector/art consultant)Canal Street Station PO Box 995 NY 10013-0865 USA Email macdeus@earthlink.netWebsite http://home.earthlink.net/~macdeus/
MIT List Visual Arts Center (Bill Arning)Wiesner Building E15-109, 20 Ames Street, Cambridge, Massachusetts 02139USA Phone +1 617 253 9480 Fax +1 617 258 7265 Email barning@mit.edu
Bjarne Werner Sørensen (artist)Skydebanegade 11, 3.fv, DK 1709, Copenhagen, DenmarkPhone +45 36 963196 Email bjarne@skydebanen.net Website www.skydebanen.net/~bjarne
Gabriele Nagel (artist)Dunckerstrasse 15, 10437, Berlin, Germany Phone +49 30/44 719840 Email gnagel27@aol.com
Chao Lee (artist)Phone: Taiwan 11 886 55 866 234 Email chao58@hotmail.com
My Art Prospects (Miyako Yoshinaga)135 West 29th Street, Suite 1002/10th Floor, NY 10001 USAPhone +1 212 268 7132 Fax +1 212 268 7147 Email myartpro@aol.com
Asian Cultural Council437 Madison Avenue, NY 10022-7001, USA Phone +1 212 812 4300 Fax +1 212 812 4299Email acc@accny.org
Association of Performing Arts Presenters1112 16th Street, NW Suite 400, Washington, D.C. 20036, USAPhone +1 202 833 2787 Fax +1 202 833 1543 Email dmccloud@artspresenters.org Website www.artspresenters.org
Michael Gard2126 Grove Street, San Francisco, California 94117, USAPhone +1 415 933 8153 Email michaelgard@excite.com Website www.michaelgard.com
Borobudur Cafe, Indonesian Cuisine (Danny Purba)128 East 4th Street, NY 10003, USA Phone +1 212 614 9079 Fax+1 212 614 9082
International Studio &Curatorial Program323 West 39th Street, Suite 806, NY 10018-1411Phone +1 212 279 1173 Fax +1 212 279 0773 Email ispnyc@concentric.netWebsite www.iscp-nyc.org
Erasmus HuisJalan H.R. Rasuna Said Kav. S-3, Kuningan, Jakarta 12950, Indonesia. Phone+62 21 5241027, Fax +62 21 5275981. Email erastaal@indo.net.id
Rumah Seni RupaJalan Ontoseno 6, Wirobrajan, Jogjakarta 55252. Phone +62 274 413986, Fax +62 274 411 441. Email rumahseni@yogya.wasantara.net.id
The Jakarta Postwebsite: http://www.thejakartapost.com/headlines.asp
Social AgencyGlagah UH IV/343 Jogjakarta 55164, Indonesia. Phone +62 274 564306. Email pustaka@yogya.wasantara.net.id
Art SotoVosshorn 17 D-24109, Kiel, Germany. Phone +49 431 672907. Email theartsoto@yahoo.id
PAMERAN TUNGGAL KRIS ADJI AW
RADAR GRESIK
Senin, 12 Jan 2009
Kamis, 16 Nov 2006 Pameran Tunggal Tiga Kota Pelukis Kris Adji A.W.
Nelangsa Hidup di Negeri Koruptor Pelukis Gresik Kris Adji kembali menggelar pameran tunggal di gedung Dewan Kesenian Surabaya (DKS). Pameran kali ketiga ini akan diadakan sepekan, 20-26 November mendatang.
Apa yang berbeda?
CHUSNUL CAHYADI, Gresik,KOMUNITAS seni di Kota Industri Gresik,
maupun metropolis sudah tidak asing dengan pelukis Kris Adji A.W. Lulusan IKIP Surabaya itu sudah malang melintang di dunia corat-coret di kanvas sejak 1977. Saat itu dia masih duduk di sekolah menengah atas (SMA). Rentang waktu puluhan tahun menjadikan guru kesenian di SMA Nahdlatul Ulama 1 (NUSA) Gresik itu semakin matang. Ayah 3 anak tersebut mulai menemukan jati diri dalam aliran lukis ekspresif surealisme setelah sempat "mencicipi" aliran abstrak dan surealisme. "Setiap saya melukis, pasti berisi kritik sosial masyarakat," ujar Kris ketika ditemui di rumah, Jl Usman Sadar, Senin malam. Tak sekadar dituangkan dalam lukisan. Kritik digoreskan langsung ke kanvas pada setiap lukisan dengan kalimat-kalimat puitis. Kritik sosial yang diusung Ketua Bidang Pendidikan dan Pengembangan Dewan Kesenian Gresik (DKG) dalam pameran DKS, di antaranya tentang sosial-politik (koruptor dan kekuasaan). Misalnya, Tarian Koruptor ataupun Tarian Keranjang Kosong. Tarian Koruptor dituangkan dalam kanvas berukuran 70 x 90 sentimeter dengan cat akrilik. Karya tersebut bercerita tentang kekejaman seorang penguasa terhadap rakyatnya. Telinga buntu//hati membatu//mata ditutup tapi…//melihat//tangan di belakang//terima suap. "Begitulah kondisi pemimpin saat ini. Amanah yang dititipkan bukan untuk kepentingan rakyat. Justru untuk memperkaya diri sendiri," ungkap pria 45 tahun itu lirih.Lain lagi di lukisan Keranjang Kosong. Menurut Kris, lukisan ini diilhami perjuangan rakyat miskin untuk mendapatkan kehidupan. "Kerja sebagai pedagang kaki lima diobrak. Padahal, mereka sudah bersusah payah mencari sesuap nasi bagi keluarga. Namun, yang didapat hanya keranjang kosong," tandas pendiri Sanggar Lentera Gresik, 26 tahun silam ini.Di sisi bawah lukisan Keranjang Kosong tertulis Perut gema suara gong//anak melolong//suami kantong bolong//di puncak angin suara omong kosong//santunan pun dicolong/Merintih suara laut//wajah menjemput maut//dan keranjang tak pernah berisi//. Khusus pameran tunggal kali ketiga ini, Kris menamainya The Dance in Trance (Tarian Jiwa). Sebuah kegalauan akan kondisi sosial-politik negeri yang carut marut dituangkan dalam sebuah kanvas. Dalam pameran di Galeri Kesenian DKS itu Kris hanya membawa 15-18 lukisan. "Sebenarnya saya ingin membawa lukisan lebih banyak. Namun, kapasitas DKS tidak bisa menampung begitu banyak lukisan. Kalau tidak salah, daya tampung maksimal 18 lukisan," ujarnya. Pameran itu merupakan rangkaian dari road show Kris Adji di dua kota lain. Bandung pada Januari dan pameran di Gresik akan dihelat Maret tahun depan. (*)
Senin, 12 Jan 2009
Kamis, 16 Nov 2006 Pameran Tunggal Tiga Kota Pelukis Kris Adji A.W.
Nelangsa Hidup di Negeri Koruptor Pelukis Gresik Kris Adji kembali menggelar pameran tunggal di gedung Dewan Kesenian Surabaya (DKS). Pameran kali ketiga ini akan diadakan sepekan, 20-26 November mendatang.
Apa yang berbeda?
CHUSNUL CAHYADI, Gresik,KOMUNITAS seni di Kota Industri Gresik,
maupun metropolis sudah tidak asing dengan pelukis Kris Adji A.W. Lulusan IKIP Surabaya itu sudah malang melintang di dunia corat-coret di kanvas sejak 1977. Saat itu dia masih duduk di sekolah menengah atas (SMA). Rentang waktu puluhan tahun menjadikan guru kesenian di SMA Nahdlatul Ulama 1 (NUSA) Gresik itu semakin matang. Ayah 3 anak tersebut mulai menemukan jati diri dalam aliran lukis ekspresif surealisme setelah sempat "mencicipi" aliran abstrak dan surealisme. "Setiap saya melukis, pasti berisi kritik sosial masyarakat," ujar Kris ketika ditemui di rumah, Jl Usman Sadar, Senin malam. Tak sekadar dituangkan dalam lukisan. Kritik digoreskan langsung ke kanvas pada setiap lukisan dengan kalimat-kalimat puitis. Kritik sosial yang diusung Ketua Bidang Pendidikan dan Pengembangan Dewan Kesenian Gresik (DKG) dalam pameran DKS, di antaranya tentang sosial-politik (koruptor dan kekuasaan). Misalnya, Tarian Koruptor ataupun Tarian Keranjang Kosong. Tarian Koruptor dituangkan dalam kanvas berukuran 70 x 90 sentimeter dengan cat akrilik. Karya tersebut bercerita tentang kekejaman seorang penguasa terhadap rakyatnya. Telinga buntu//hati membatu//mata ditutup tapi…//melihat//tangan di belakang//terima suap. "Begitulah kondisi pemimpin saat ini. Amanah yang dititipkan bukan untuk kepentingan rakyat. Justru untuk memperkaya diri sendiri," ungkap pria 45 tahun itu lirih.Lain lagi di lukisan Keranjang Kosong. Menurut Kris, lukisan ini diilhami perjuangan rakyat miskin untuk mendapatkan kehidupan. "Kerja sebagai pedagang kaki lima diobrak. Padahal, mereka sudah bersusah payah mencari sesuap nasi bagi keluarga. Namun, yang didapat hanya keranjang kosong," tandas pendiri Sanggar Lentera Gresik, 26 tahun silam ini.Di sisi bawah lukisan Keranjang Kosong tertulis Perut gema suara gong//anak melolong//suami kantong bolong//di puncak angin suara omong kosong//santunan pun dicolong/Merintih suara laut//wajah menjemput maut//dan keranjang tak pernah berisi//. Khusus pameran tunggal kali ketiga ini, Kris menamainya The Dance in Trance (Tarian Jiwa). Sebuah kegalauan akan kondisi sosial-politik negeri yang carut marut dituangkan dalam sebuah kanvas. Dalam pameran di Galeri Kesenian DKS itu Kris hanya membawa 15-18 lukisan. "Sebenarnya saya ingin membawa lukisan lebih banyak. Namun, kapasitas DKS tidak bisa menampung begitu banyak lukisan. Kalau tidak salah, daya tampung maksimal 18 lukisan," ujarnya. Pameran itu merupakan rangkaian dari road show Kris Adji di dua kota lain. Bandung pada Januari dan pameran di Gresik akan dihelat Maret tahun depan. (*)
Langganan:
Postingan (Atom)